• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Penentuan Awal Ramadhan Hingga Kalender Islam Global

Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, M.A., Ph.D.

Tentang Perbedaan Puasa Arafah dan Idul Adha

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar (Dosen FAI UMSU & Kepala OIF UMSU)

Fai by Fai
7 Juli 2022
in Kolom
1

Pertama, perbedaan penentuan idul adha antara Indonesia dan Arab Saudi setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, perbedan metode dan kriteria, negara Arab Saudi menggunakan rukyat, sementara di Indonesia ada yang menggunakan hisab, ada yang menggunakan rukyat, dan ada yang menggunakan imkan rukyat. Kedua, karena perbedaan lokasi dan posisi geografis antara Indonesia dan Arab Saudi yang menyebabkan perbedaan data, posisi, keberadaan hilal, dan kemungkinan keterlihatan hilal saat matahari terbenam di ufuk barat kedua negara.

Kedua, di Arab Saudi, saat pelaksanaan rukyat (29 Zulkaidah 1443), hilal dilaporkan terlihat, seingga 1 Zulhijah 1443 jatuh 30 Juni 2022 (9 Zulhijah = 8 Juli 2022 & 10 Zulhijah = 9 Juli 2022). Sementara di Indonesia (oleh Kemenag, NU, dan lainnya) hilal tidak terlihat sehingga bilangan Zulkaidah digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Zulhijah jatuh 1 Juli 2022 (9 Zulhijah = 9 Juli 2022 & 10 Zulhijah = 10 Juli 2022).

Ketiga, sementara menurut Muhammadiyah, berdasarkan Hisab Hakiki Wujudul Hilal, posisi hilal paska ijtimak dan saat terbenam telah wujud (positif) di atas ufuk, sehingga 1 Zulhijah 1443 jatuh 30 Juni 2022 (9 Zulhijah = 8 Juli 2022 & 10 Zulhijah = 9 Juli 2022), sama seperti Arab Saudi.

Keempat, khusus di Indonesia, perbedaan dengan Arab Saudi hanya terjadi bagi Pemerintah (Kementerian Agama), Nahdlatul Ulama, Persis, Al-Washliyah, dan ormas lainnya, tidak demikian halnya dengan Muhammadiyah. Tahun ini Muhammadiyah sama dengan Arab Saudi.

Kelima, di sisi lain, dalam konteks Indonesia problemnya bukan hanya secara global (dengan Arab Saudi) namun juga secara lokal yaitu dinamis-dialektisnya masalah penentuan awal bulan yang berkembang di Indonesia, dimana sampai kini belum ada keseragaman metode dan kriteria, sehingga dalam skop lokal sekalipun masih terjadi perbedaan.

Keenam, patut dicatat, kebersamaan Muhammadiyah dan Arab Saudi dalam penetapan awal Zulhijah (dan idul adha) tahun ini lebih bersifat kebetulan, bukan karena keduanya menggunakan metode yang sama.

Ketujuh, argumen sederhana bahwa puasa arafah dan idul adha harus mengikut putusan Arab Saudi adalah karena peristiwa wukuf dan haji terjadi di negara Arab Saudi, maka seyogianya siapa saja dan dimana saja harus merujuk dan mengikut putusan negara Arab Saudi tersebut yaitu berdasarkan peristiwa yuridis wukuf di Arafah. Masih banyak lagi argumen lainnya.

Kedelapan, argumen bahwa puasa Arafah dan idul adha harus mengikut putusan negara masing-masing, tidak harus mengikut putusan Arab Saudi, adalah dengan beberapa alasan. Pertama, alasan matlak lokal atau matlak ikhtilaf, dimana keberadaan hilal (dengan rukyat maupun dengan hisab) di suatu tempat hanya berlaku untuk tempat itu, tidak untuk tempat lain. Kedua, beralasan hadis Nabi Saw (HR. Ahmad) tentang terlihatnya hilal awal Zulhijah dan kesunahan kurban, dimana dijelaskan bahwa penyembelihan kurban dilakukan berdasarkan di tempat mana hilal ‘terlihat’ di suatu tempat. Alasan lain, puasa arafah telah ada sejak sebelum pensyariatan ibadah haji. Ini menunjukkan bahwa tanggal 1, 9, dan 10 Zulhijah adalah berdasarkan penanggalan di tempat masing-masing, tidak merujuk tempat pelaksanaan wukuf di Arafah. Masih banyak lagi argumen lainnya.

Kesembilan, dua arus pandangan dan argumen ini menempati posisi dan kekuatan yang sama, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan argumen (dalil), dipersilahkan bagi siapa saja mengikuti yang mana saja, asal yakin dan konsisten, keduanya benar dan berkategori ijtihad.

Kesepuluh, problem sesungguhnya terkait perbedaan penentuan puasa Arafah dan idul adha antara Indonesia dan Arab Saudi, maupun antara negara-negara di dunia dengan Arab Saudi, sesungguhnya adalah terletak pada belum wujudnya sebuah sistem penjadwalan waktu yang terpadu bagi umat Islam di seluruh dunia, atau yang dikenal dengan Kalender Islam Global. Sebelum Kalender Islam Global ini ada, maka perbedaan seperti saat ini akan terus ada dan berulang di masa akan datang, dan dipastikan akan terus menguras energi umat.

Kesebelas, untuk mewujudkan proyek Kalender Islam Global ini tidak lain diperlukan sumber daya manusia dengan karakter global, responsif, berkemajuan, dan maqashidy. Wallahu a’lam

Medan,
7 Zulhijah 1443/6 Juli 2022

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: arwin juli rakhmadi butar-butaroif umsuperbedaan idul adhaPerbedaan Puasa Arafah
Previous Post

MUI Sumut Bangun Spirit Koperasi Syariah dan Warung Wakaf di Serdang Bedagai

Next Post

PD IPM Mandailing Natal Gelar Musda Ke-7

Next Post
PD IPM Mandailing Natal Gelar Musda Ke-7

PD IPM Mandailing Natal Gelar Musda Ke-7

Comments 1

  1. Abubakar asshiddiq says:
    4 tahun ago

    Bukankah Muhammadiyah juga memadukan antara metode hisab dan rukyah…..
    Bagaimana posisi penampakan bulan pada saat memasuki awak bulan..?

    ….

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.