Refleksi atas Keputusan Tanwir Muhammadiyah di Bali, Januari 2002, menuju Muktamar ke 49 Sumatera Utara 2027
Oleh : Jufri
Keputusan Tanwir Muhammadiyah di Denpasar, Bali, pada Januari 2002 merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan pemikiran dan strategi dakwah Muhammadiyah. Dalam forum strategis ini, Muhammadiyah tidak hanya merespons perubahan sosial pasca-reformasi, tetapi juga melakukan penegasan arah dakwah agar tetap relevan dengan realitas masyarakat Indonesia yang majemuk secara budaya, sosial, dan keagamaan.
Tanwir Bali 2002 menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak dapat dipahami secara sempit sebagai aktivitas verbal, mimbar, dan simbol formal keagamaan semata. Dakwah harus dipahami sebagai gerakan peradaban yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia.
Sebagaimana ditegaskan dalam keputusan Tanwir tersebut:
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan dakwah amar makruf nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.”
Rumusan ini menjadi landasan ideologis sekaligus metodologis bagi pengembangan Dakwah Kultural Muhammadiyah.
Dakwah Kultural: Pengayaan Metode, Bukan Pergeseran Ideologi
Dakwah Kultural tidak dimaksudkan sebagai pengaburan prinsip tajdid dan purifikasi yang menjadi jati diri Muhammadiyah. Ia justru merupakan pengayaan pendekatan dakwah, agar nilai-nilai Islam dapat ditanamkan secara lebih efektif, dialogis, dan membumi dalam kehidupan masyarakat.
Dalam berbagai dokumen dan kajian resmi Muhammadiyah pasca-Tanwir 2002, Dakwah Kultural dirumuskan sebagai:
“Upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam seluruh dimensi kehidupan dengan memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas.”
Artinya, dakwah tidak lagi semata menertibkan praktik keagamaan secara normatif, tetapi juga mendampingi umat dalam realitas sosial-budayanya, mengajak dengan hikmah, dan menumbuhkan kesadaran keislaman secara bertahap dan berkelanjutan.
Menjawab Realitas Sosial Bangsa
Tanwir Bali 2002 lahir pada masa ketika bangsa Indonesia tengah mengalami keguncangan nilai, fragmentasi sosial, dan kebangkitan identitas lokal. Dalam konteks ini, pendekatan dakwah yang kaku, konfrontatif, dan seragam justru berisiko menjauhkan masyarakat dari pesan Islam itu sendiri.
Dakwah Kultural hadir sebagai ikhtiar Muhammadiyah untuk menyampaikan Islam sebagai:
rahmat, bukan ancaman,
pencerahan, bukan tekanan,
solusi peradaban, bukan sekadar simbol identitas.
Melalui pendekatan kultural, Muhammadiyah mendorong dakwah yang hadir dalam bahasa masyarakatnya, dalam denyut budayanya, dan dalam problem nyata kehidupannya—tanpa kehilangan keteguhan prinsip tauhid dan akhlak Islam.
Kesinambungan dengan Teladan KH Ahmad Dahlan
Jika ditarik secara historis, Dakwah Kultural sejatinya bukan hal baru dalam Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan telah mencontohkan dakwah yang membumi melalui pendidikan, pelayanan sosial, dialog lintas golongan, dan keteladanan moral. Tanwir Bali 2002 pada hakikatnya adalah formalisasi pemikiran atas praktik dakwah kultural yang telah lama hidup dalam tradisi Muhammadiyah.
Penutup
Keputusan Tanwir Muhammadiyah di Bali tahun 2002 menegaskan watak Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang teguh dalam prinsip, tetapi lentur dalam pendekatan. Dakwah Kultural menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam yang universal dengan realitas budaya lokal yang konkret, agar Islam benar-benar hadir sebagai kekuatan pembebas, pencerah, dan pemaju peradaban.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah—dari globalisasi hingga era digital—semangat Dakwah Kultural Tanwir Bali 2002 tetap relevan: Islam harus membumi tanpa kehilangan langitnya, dan dakwah harus memanusiakan manusia tanpa mengorbankan nilai Ilahi.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

