Muhammadiyah: Menjaga Keberlanjutan Tanpa Figuritas dan Tanpa Politik Praktis
Oleh : Jufri – Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Dua hal paling menonjol yang menjaga gerak langkah Muhammadiyah tetap berkelanjutan sejak kelahirannya hingga hari ini adalah: Muhammadiyah bukan gerakan figuritas dan bukan gerakan politik praktis. Dua prinsip inilah yang harus terus dirawat dan dilanjutkan dari generasi ke generasi.
Sejak awal, Muhammadiyah dibangun bukan di atas kultus individu. Dari pusat hingga ke daerah, pimpinan Muhammadiyah bukanlah figur penentu mutlak. Memang, dalam batas tertentu figur itu penting sebagai teladan, penggerak, dan penguat moral. Tetapi keberlangsungan Muhammadiyah tidak pernah digantungkan pada satu pribadi.
Karena itu, di Muhammadiyah tidak ada orang yang merasa paling berjasa, paling penting, atau tak tergantikan. Kepemimpinan adalah amanah yang silih berganti, bukan panggung untuk menonjolkan diri. Organisasi lebih besar dari siapa pun. Inilah yang membuat Muhammadiyah tetap hidup, bahkan ketika tokoh-tokohnya datang dan pergi.
Prinsip kedua yang tak kalah penting adalah sikap Muhammadiyah terhadap politik. Sejak lama, sudah banyak ajakan agar Muhammadiyah menjadi partai politik. Tetapi Muhammadiyah tetap teguh pada jati dirinya sebagai gerakan dakwah dan sosial, sebagai gerakan amar makruf nahi munkar. Bukan sebagai kendaraan kekuasaan.
Sikap ini bukan karena Muhammadiyah alergi terhadap politik, melainkan karena Muhammadiyah memahami bahwa perjuangan kebangsaan tidak harus selalu lewat jalur partai. Dengan tidak menjadi partai politik, Muhammadiyah justru memiliki jarak yang sehat dengan seluruh kekuatan politik. Ia tidak terikat, tidak tersandera, dan tidak harus membela kepentingan elektoral siapa pun.
Apalagi hari ini, kader-kader Muhammadiyah berkiprah di hampir semua partai politik. Itu sah sebagai pilihan pribadi warga negara. Tetapi organisasi tetap berdiri di atas semua golongan. Justru karena bukan partai politik, Muhammadiyah lebih leluasa bergerak di banyak lini kehidupan berbangsa: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan kebangsaan.
Peran politik Muhammadiyah adalah politik adiluhung. Politik nilai, politik moral, politik kebangsaan. Bukan politik transaksional, bukan politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Muhammadiyah hadir untuk mengoreksi, menasihati, dan mencerahkan, bukan untuk berebut kursi.
Di sinilah letak kekuatan Muhammadiyah. Ia tidak hidup karena figur, dan tidak besar karena partai. Ia hidup karena nilai, dan besar karena pengabdian. Selama dua prinsip ini dijaga—tidak terjebak figuritas dan tidak larut dalam politik praktis—Muhammadiyah akan terus relevan, menyejukkan, dan mencerahkan umat serta bangsa.
Karena Muhammadiyah bukan milik siapa-siapa, tetapi milik semua yang ingin berjuang dengan ikhlas, cerdas, dan beradab. Karena itu Gerakan Muhammadiyah tidak bisa disamakan dengan pergerakan Islam yang lain , baik yang lebih keras, atau yang lembut, karena tidak semua peran bisa dimainkan dalam gaya dan bentuk yang sama pula .
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

