Menjaga Khusyuk di Era Digital: Adab Jumat dan Tanggung Jawab Bersama
Oleh: Jufri
Era boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Namun adab kepada Allah dan kesungguhan dalam beribadah tidak boleh ikut larut oleh zaman.
Salah satu fenomena yang semakin terasa dalam pelaksanaan Sholat Jumat hari ini adalah hadirnya jamaah yang secara fisik berada di masjid, tetapi secara perhatian berada di layar. Ketika khatib sudah naik mimbar dan azan berkumandang, masih ada yang sibuk dengan handphone-nya. Layar menyala, jempol bergerak, notifikasi datang silih berganti. Sementara khutbah telah dimulai.
Dan itu saya saksikan sendiri ketika berdiri sebagai khatib.
Khutbah bukan sekadar pengantar sebelum sholat. Ia adalah bagian dari rangkaian Sholat Jumat itu sendiri. Karena itu para ulama menegaskan kewajiban untuk diam dan mendengarkan. Bahkan menegur orang lain saat khutbah berlangsung saja dinilai sebagai perbuatan yang mengurangi kesempurnaan Jumat. Apalagi jika dengan sengaja sibuk membaca pesan, membalas chat, atau menelusuri media sosial.
Maka dengan bahasa yang sedapat mungkin bijak, saya sampaikan bahwa menggunakan handphone ketika khatib sudah naik mimbar tidak dibenarkan. Bukan karena mimbar perlu dihormati secara pribadi, tetapi karena ibadah itu sendiri harus dijaga martabatnya. Khutbah adalah nasihat untuk diri kita semua, termasuk bagi yang berdiri di mimbar.
Masalahnya bukan pada Android. Teknologi adalah alat. Ia bisa menjadi sarana kebaikan—membaca Al-Qur’an, menyimpan catatan khutbah, atau menyebarkan ilmu. Namun di waktu yang salah, ia berubah menjadi distraksi. Di ruang sakral seperti masjid, pada saat khutbah Jumat, yang dituntut adalah kehadiran utuh: raga dan jiwa.
Fenomena ini bukan sekadar soal etika kecil. Ia mencerminkan tantangan spiritual zaman ini: sulitnya melepaskan diri dari layar, bahkan untuk satu jam yang paling mulia dalam sepekan. Jika notifikasi lebih cepat kita respons daripada panggilan azan, maka ada sesuatu yang perlu kita renungkan.
Karena itu, menurut saya, solusi tidak cukup hanya dengan teguran dari mimbar. Akan lebih baik jika sebelum khatib naik mimbar, pengurus masjid atau BKM terlebih dahulu mengingatkan jamaah untuk mematikan atau menyenyapkan handphone. Imbauan singkat, santun, dan rutin. Dengan begitu, khutbah tetap fokus pada substansi, dan kedisiplinan dibangun secara kolektif.
Langkah kecil ini terlihat sederhana, tetapi maknanya besar. Ia membangun budaya tertib. Ia menumbuhkan kesadaran bersama. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya soal hadir, tetapi soal menghargai waktu dan ruang suci.
Peradaban tidak selalu dibangun dari gagasan besar. Ia sering lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten. Mematikan handphone sebelum khutbah adalah detail kecil, tetapi di sanalah kita belajar menata prioritas: siapa yang lebih kita dengarkan, panggilan dunia atau nasihat akhirat.
Sholat Jumat bukan sekadar kewajiban mingguan. Ia adalah forum pendidikan umat. Ia adalah ruang pembentukan akhlak publik. Jika kita mampu menjaga adab di dalamnya, maka kita sedang melatih diri untuk menjaga adab dalam kehidupan yang lebih luas.
Karena pada akhirnya, kualitas Jumat kita tidak diukur dari seberapa sering kita datang ke masjid, tetapi seberapa dalam kita mendengar, dan seberapa sungguh kita membawa pulang
nasihat itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

