• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Amarizal MPd

Amrizal MPd

Login Muhammadiyah: Antara Kebanggaan Baru dan Krisis Kedalaman

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
31 Maret 2026
in Kolom
0

Login Muhammadiyah: Antara Kebanggaan Baru dan Krisis Kedalaman 

(Tulisan ke-49 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)

Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Universitas Negeri Medan

Fenomena “login Muhammadiyah” sedang ramai. Generasi Z berbondong-bondong membuat Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM), memamerkannya di media sosial, lalu merasa telah “menjadi bagian” dari gerakan Islam berkemajuan ini. Dalam satu sisi, ini menggembirakan. Muhammadiyah kembali dilirik, bahkan menjadi semacam “identitas keren” di ruang digital.

Namun di sisi lain, kita patut bertanya dengan jujur:

apakah cukup dengan login, seseorang sudah menjadi Muhammadiyah?

Pertanyaan ini penting, sebab Muhammadiyah bukan sekadar organisasi administratif, melainkan gerakan ideologis yang dibangun di atas ilmu, amal, dan kesadaran.

Muhammadiyah Bukan Gerakan Instan

Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa menjadi bagian dari persyarikatan ini bukan perkara mudah. Di masa lalu, ada tradisi yang hidup meskipun tidak selalu tertulis bahwa seseorang harus “mengaji dulu” dalam waktu yang tidak sebentar. Bahkan di banyak ranting, butuh waktu satu hingga dua tahun untuk benar-benar diterima sebagai warga Muhammadiyah.

Mengapa demikian?

Karena Muhammadiyah bukan sekadar “tempat bergabung”, tetapi jalan berpikir dan cara hidup. Ia menuntut pemahaman terhadap: manhaj tarjih, semangat tajdid, etos beramal, dan keberanian untuk berbeda secara argumentatif, bukan emosional.

Itulah sebabnya, tokoh Muhammadiyah AR. Fakhrudin pernah mengingatkan dengan sangat sederhana namun mendalam:

“Masuk Muhammadiyah itu ojo kesusu.”

Pesan ini bukan bentuk eksklusivisme, tetapi penegasan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan ilmu. Ia tidak dibangun dari euforia, tetapi dari kesadaran.

Syarat keanggotaan berdasarkan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga mencakup batas usia (minimal 17 tahun atau sudah menikah), beragama Islam, bersedia mendukung dan melaksanakan tujuan Persyarikatan, dan memenuhi persyaratan administratif termasuk uang pendaftaran. Calon anggota harus menyampaikan permintaan secara tertulis melalui struktur ranting dan cabang hingga Persyarikatan Pusat, dan setelah persetujuan mereka mendapatkan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) resmi.‎ Selepas proses administratif, secara tradisional keterlibatan dalam kegiatan Persyarikatan—seperti bergabung melalui pengajian, pertemuan majelis, atau organisasi otonom (Ortom) seperti Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Pelajar/Mahasiswa Muhammadiyah—merupakan bagian integral dari pembinaan kader. Tradisi ini tidak hanya mengatur akses ke keanggotaan, tetapi juga menekankan proses pembelajaran, relasi sosial, dan pengalaman kolektif sebagai modal sosial dalam kaderisasi.

Dari Proses ke Akses: Pergeseran yang Tak Terhindarkan

Hari ini, Muhammadiyah telah bertransformasi. Sistem keanggotaan menjadi lebih modern, digital, dan terbuka. Pendaftaran KTAM bisa dilakukan dengan cepat, bahkan dari genggaman tangan. Ini adalah kemajuan. Muhammadiyah tidak boleh tertinggal dari zaman. Administrasi yang tertib adalah bagian dari profesionalitas gerakan.

Namun di balik kemudahan ini, terjadi pergeseran mendasar:

yang dahulu “berproses dulu, baru menjadi anggota”, kini “menjadi anggota dulu, baru (mungkin) berproses.”

Di titik ini, kita tidak sedang menghadapi persoalan teknis, tetapi persoalan ideologis.

Generasi Z dan Logika “Login”

Generasi Z tumbuh dalam budaya digital. Mereka terbiasa dengan:

  • kecepatan,
  • akses instan,
  • dan simbol identitas yang bisa ditampilkan.

Dalam logika ini, “login Muhammadiyah” menjadi sesuatu yang wajar. Ia bahkan bisa menjadi bentuk kebanggaan baru: menjadi bagian dari Islam yang rasional, modern, dan tidak anti ilmu.

Ini adalah peluang besar.

Namun sekaligus jebakan yang halus.

Karena ketika Muhammadiyah hanya dipahami sebagai sesuatu yang bisa “diakses”, maka ia berisiko direduksi menjadi:

  • sekadar label,
  • sekadar komunitas,
  • bahkan sekadar konten.

Padahal Muhammadiyah adalah gerakan yang menuntut komitmen panjang, bukan sekadar pengakuan singkat.

Bahaya “Anggota Tanpa Ideologi”

Fenomena “login Muhammadiyah” akan menjadi masalah serius jika melahirkan satu generasi baru:
anggota administratif tanpa kedalaman ideologi.

Mereka:

  • memiliki KTAM, tetapi tidak memahami tarjih
  • mengaku Muhammadiyah, tetapi tidak hidup dalam nilai-nilainya
  • bangga secara identitas, tetapi kosong secara pemikiran

Jika ini terjadi, maka Muhammadiyah menghadapi krisis yang lebih berbahaya daripada sekadar penurunan jumlah anggota—yakni krisis makna.

Gerakan ini bisa menjadi besar secara angka, tetapi rapuh secara substansi.

Muhammadiyah tidak boleh menutup diri. Fenomena ini justru harus disambut sebagai tanda bahwa generasi muda masih mencari dan menemukan Muhammadiyah sebagai jawaban.

Namun menyambut tidak berarti membiarkan. Di sinilah tugas kaderisasi menjadi sangat krusial. Login harus menjadi pintu masuk, bukan garis akhir.

Setiap anggota baru harus segera dihubungkan dengan:

  • pengajian yang mencerahkan
  • komunitas yang hidup
  • proses kaderisasi yang sistematis
  • ruang belajar yang membentuk cara berpikir

Jika tidak, maka “login” hanya akan menjadi lalu lintas data, bukan transformasi manusia.

Kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan bahwa Muhammadiyah sedang viral. Viralitas adalah momentum, bukan tujuan.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap orang yang “login”:

  • benar-benar memahami Muhammadiyah
  • merasa memiliki gerakan ini
  • dan siap berjuang di dalamnya

Karena pada akhirnya, Muhammadiyah tidak dibangun oleh banyaknya kartu anggota, tetapi oleh kualitas kader yang menghidupkan nilai-nilainya.

Menghidupkan Kembali Makna “Menjadi Muhammadiyah”

Fenomena “login Muhammadiyah” adalah cermin zaman. Ia tidak bisa ditolak, tetapi harus diarahkan. Kita perlu kembali menegaskan satu hal mendasar:

Menjadi Muhammadiyah bukan peristiwa administratif, tetapi proses ideologis.

Login hanyalah awal.

Yang menentukan adalah apakah seseorang:

  • mau belajar,
  • mau berproses,
  • dan mau berjuang.

Karena Muhammadiyah tidak membutuhkan sekadar “yang sudah login”, tetapi mereka yang benar-benar hidup dalam Muhammadiyah.

 Wallahu a’lam Bish Shawab

 

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amirzalkolomlogo muhammadiyah
Previous Post

Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon, Muhammadiyah Sampaikan Duka

Next Post

Program Taman Lasia LazisMu Pusat Hadir di Medan

Next Post
Program Taman Lasia LazisMu Pusat Hadir di Medan

Program Taman Lasia LazisMu Pusat Hadir di Medan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.