Komitmen yang Retak di Meja Suksesi
(Tulisan ke-40 dari Beberfapa Tulisan Terkait Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Dosen Unimed
“Kami bersahabat bukan karena jabatan, kami berjuang bukan karena ambisi. Tapi karena kami percaya: nilai tak pernah bisa dibeli”
Ada masa ketika persahabatan dibangun dari secangkir teh hangat selepas pengajian. Ada masa ketika diskusi kaderisasi dilakukan di emperan masjid, bukan di ruang rapat ber-AC. Di masa itu, komitmen adalah hal yang sakral. Persahabatan adalah energi. Kesetiaan adalah harga diri. Tapi kini, kita menyaksikan bagaimana nilai-nilai luhur itu mulai retak… di meja suksesi.
Suksesi, dalam bentuk musyawarah wilayah, daerah, atau bahkan muktamar, bukan sekadar agenda lima tahunan. Ia adalah panggung evaluasi gerakan, sekaligus ruang memperbarui komitmen. Sayangnya, tak jarang ia berubah menjadi gelanggang politik penuh intrik. Persahabatan diuji. Kesetiaan dikhianati. Komitmen dilupakan. Semuanya tenggelam dalam riuh rendah ambisi kekuasaan.
Ketika Topeng Mulai Jatuh
Tak sulit menemukan mereka. Sosok-sosok yang dulu bersahabat karib, kini saling membidik. Yang dulu berbagi tawa dan idealisme, kini saling mencurigai. Dan lebih menyedihkan, banyak di antara mereka yang tampil seolah paling berjuang, padahal rekam jejak di daerah kosong melompong. Tiba-tiba hadir di forum-forum penting, membawa narasi besar, padahal program kecil pun tak selesai.
Inilah kepura-puraan yang menggerogoti marwah gerakan. Mereka fasih mengutip ayat dan hadits untuk melegitimasi ambisi, tapi tak punya jejak di medan pengabdian. Mereka lantang bicara kaderisasi, tapi absen dalam proses pembinaan. Di hadapan publik tampak santun, tapi di belakang layar menyusun siasat. Munafik. Penuh kepura-puraan.
Dan kita pun bertanya dalam hati: Di mana bekas pengajian yang mereka ikuti? Ke mana lenyapnya nilai-nilai tarbiyah yang pernah ditanamkan?
Ketika Komitmen Menjadi Barang Murahan
Banyak yang lupa: komitmen bukan sekadar tanda tangan dalam berita acara. Ia adalah kesepakatan batin, yang seharusnya dijaga dengan akhlak dan integritas. Tapi di meja suksesi, komitmen seringkali hanya jadi kartu tawar-menawar. Dibuka. Disodorkan. Dijual. Bahkan dikhianati—demi satu suara, satu posisi, satu ambisi.
Ironisnya, pengkhianatan ini justru datang dari mereka yang dahulu paling dekat. Yang sering menyebutmu sahabat. Yang pernah kau bantu mendaki tangga kepemimpinan. Namun kini, tak ragu menginjak prinsip hanya untuk naik satu tingkat lebih tinggi.
Agama yang Tak Membekas
Jika ada yang paling menyayat, itu adalah ketika agama hanya menjadi kosmetik gerakan. Ia dikutip, tapi tak membekas. Dihafal, tapi tak dijalankan. Nilai-nilai ukhuwah digantikan oleh politik aliran dan klik-klik kecil yang memecah. Rasionalitas berpikir hancur. Rasa hormat terkikis. Semua demi meraih tampuk yang hanya sementara.
Apakah ini wajah kader masa kini? Apakah ini hasil dari proses panjang yang kita banggakan? Jika ya, maka kita harus segera mengoreksi diri. Karena jika tidak, gerakan ini hanya akan menjadi organisasi besar yang kosong, penuh simbol, minim nilai.
Saatnya Menjadi Waras dan Tulus
Di tengah hingar bingar ini, kita butuh kader yang tetap waras. Yang setia bukan karena loyalitas sempit, tapi karena cinta pada nilai. Yang tulus bukan untuk dipuji, tapi karena tahu bahwa amanah adalah beban, bukan hadiah.
Kita butuh sahabat yang tetap memeluk, meski tak satu barisan. Yang mengingatkan, meski tak sejalan. Yang menjaga persahabatan lebih tinggi dari jabatan.
Karena sejarah akan mencatat bukan mereka yang duduk di puncak, tapi mereka yang menanam nilai dan menjaganya. Kita boleh gagal di forum, tapi jangan gagal menjadi manusia yang utuh. Jangan gagal menjadi kader yang jujur. Jangan gagal menjaga komitmen yang dulu pernah kita ucapkan dengan mata berkaca-kaca.
Pada akhirnya, meja suksesi hanyalah ruang kecil untuk menguji keteguhan komitmen kader. Di sanalah terlihat siapa yang tetap setia pada nilai meski sendirian, dan siapa yang memilih jalan pintas dengan fitnah serta pengkhianatan. Menjadi kader yang kuat berarti berani menjaga komitmen ketika sorak berhenti dan dukungan menghilang, karena kesetiaan sejati tidak bergantung pada situasi. Apa yang hari ini disembunyikan melalui intrik dan manipulasi, kelak akan terbuka oleh waktu dan nurani publik. Gerakan ini tidak diselamatkan oleh kecerdikan mengakali keadaan, melainkan oleh kejujuran, adab, dan keteguhan akhlak kader-kader yang memilih tetap lurus di tengah badai.
Mari kita pulang ke nilai. Karena di situlah rumah kita sebenarnya.
Wallahu a’lam Bish Shawab

