• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Tanggapan Muhammadiyah Terhadap  Kontroversi Pemandian Jenazah di RSUD Djasamen Saragih

Dr. Sulidar MAg Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Sumut

Kolom Dr. Sulidar: Wawasan Idul Fitri dalam Perspektif as-Sunnah (Bagian Terakhir)

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
11 Mei 2021
in Kolom
86

Wawasan Idul Fitri dalam Perspektif as-Sunnah (Bagian Terakhir)

Oleh : Dr. Sulidar, M.Ag
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara
Periode 2015-2020.

Sunnah-Sunnah dalam Idul Fitri
Dalam bulan syawal ada beberapa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw untuk damalkan dan bagaimana cara mengamalkannya. Di antara amalan di bulan Syawal adalah sebagai berikut.

1. Salat Idul Fitri di Lapangan lebih utama
Para fuqaha telah sepakat bahwa semua tempat yang bersih dan bisa menampung jamaah yang banyak jumlahnya bisa dipergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan salat Id. Baik itu di Masjid atau di tanah lapang. Namun demikian, mereka menyatakan pelaksanaan salat tersebut di tanah lapang adalah lebih utama, karena biasanya bisa menampung jumlah jamaah yang lebih banyak. Dalilnya :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ.
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Mar yam berkata, telah menceritakan kepada kami Muham mad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Iyad bin ‘Abdullah bin Abu Sarah dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Pada hari raya Idul Firi dan Adha Rasul saw. keluar menuju tempat shalat (lapangan), dan pertama kali yang beliau kerjakan ada lah salat hingga selesai. Kemudian beliau berdiri meng hadap orang banyak sedangkan mereka dalam keadaan duduk di barisan mere ka. Beliau memberi pengajaran, wasiat dan memerintahkan mereka. Dan apabila beliau ingin mengutus pasukan, maka beliau sampaikan atau beliau perintahkan (untuk mempersiapkannya), setelah itu beliau berlalu pergi.” H.R.al-Bukhari.No. 903.
Meski Rasul saw tinggal di Madinah, di sam ping masjid An-Nabawi, namun salat ‘Id tidak dilaku kan di dalamnya. Sebaliknya, salat itu dilakukan di pa dang pasir yang luas, sebagaimana yang biasa dilaku kan pada saat salat Istisqa’ dan lainnya. Berlandaskan dalil di atas, maka kebanyakan ulama menetapkan bahwa salat ‘Id sunnah dilakukan di tanah lapang. Sesuai contoh dari nabi saw tersebut. Namun sebagian ulama lainnya tidak menjadikan padang pasir sebagai syarat sahnya shalat Ied. Bagi mereka, baik di masjid maupun di padang pasir, keduanya sah-sah saja untuk dijadikan tempat salat ‘Id. Meski tetap lebih utama bisa dilakukan di padang pasir. Hanya saja fuqaha ma zhab Syafi’i menyatakan bahwa keutamaan salat ‘Id di tanah lapang hanya berlaku jika memang masjid yang biasa digunakan untuk melakukan salat terlalu sempit.
Sedangkan jika masjid tersebut luas, maka melaksana kan salat di masjid  adalah lebih utama seba gaimana yang biasa dilakukan di Masjidil Haram. Alasan mereka karena masjid itu pasti lebih bersih dan lebih mulia dari pada tanah lapang.

2. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat Idul Fitri
Rasul saw. sebelum berangkat salat Idul Fitri, beliau memakan buah kurma terlebih dahulu. Artinya, sebelum salat Id, disunnahkan untuk makan terlebih dahulu. Perhatikan hadis berikut ini:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ab durrahim telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada kami Hu syaim berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Ubai dullah bin Abu Bakar bin Anas dari Anas bin Malik berkata, “Pada hari raya Rasul saw. tidak berangkat un tuk melaksanakan salat hingga beliau makan beberapa butir kurma.”Murajja’ bin Raja’ berkata; telah mence ritakan kepadaku ‘Ubaidullah berkata, telah menceri takan kepadaku Anas dari Nabi saw.”Beliau makan be berapa kurma dengan bilangan ganjil.”H.R.al-Bukha ri. No. 900.

3. Mandi terlebih dahulu sebelum menuju tempat Salat Idul Fitri
Sahabat Rasul saw, yakni Abdullah bin ‘Umar mandi terlebih dahulu sebelum menuju salat Idul Fitri. Perhatikan asar sahabat berikut ini:
وحَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى.
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar mandi pada Hari Raya Idul Fitri sebelum pergi ke tempat salat Ied.” H.R.Malik. No. 384.

4. Salat 2 Rakaat Idul Fitri terlebih dahulu, setelah itu berkhutbah
Rasul saw. mendirikan salat (dua rakaat) terlebih dahulu, setelah itu berkhutbah.
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ أَخْبَرَهُمْ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَبَدَأَ بِالصَّلاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ.
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bah wa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Atha’ dari Jabir bin ‘Abdullah berkata, Aku mendengarnya berkata, “Rasul saw. keluar pada hari Raya ‘Idul Fitri, beliau memulainya dengan salat kemudian khutbah.” H.R.al-Bukhari. No. 905.
قَالَ وَأَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَرْسَلَ إِلَى ابْنِ الزُّبَيْرِ فِي أَوَّلِ مَا بُويِعَ لَهُ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ بِالصَّلاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ إِنَّمَا الْخُطْبَةُ بَعْدَ الصَّلاةِ.
(Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadis sebelumnya) perawi berkata, telah menceritakan ke padaku ‘Atha’ bahwa Ibnu ‘Abbas menyampaikan ke pada Ibnu Az-Zubair pada awal dia dibaiat sebagai khalifah, bahwa tidak ada azan dalam salat Hari Raya Idul Fithri (di zaman Nabi saw.), bahwasanya khutbah dilaksanakan setelah salat.”H.R. al-Bukhari. No. 906.

5. Tidak ada salat qabliyah atau ba’diyah pada salat Idul Fitri
Perhatikan dalil berikut ini:
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلا بَعْدَهَا وَمَعَهُ بِلالٌ.
Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid berka ta, telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, bah wa Nabi saw. keluar pada Hari Raya ‘Iedul Fitri, beli au melaksanakan salat dua rakaat, tanpa melaksanakan salat baik sebelum atau sesudahnya. Dan saat itu beli au bersama Bilal ra.” H.R.al-Bukhari. No. 935.

6. Mengucapkan Takbir saat menuju tempat salat Idul Fitri
Rasul saw, pada saat menuju tempat salat Idul Fitri mengumandangkan takbir hingga salat ditunaikan:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ،عَنِ الزُّهْرِيِّ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى،وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ،فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ قَطَعَ التَّكْبِيرَ.
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Ibn Abi Zi’, dari az-Zuhriy bahwasannya Rasul saw: keluar di hari Raya Idul Fitri sambil bertakbir hingga sampai  di tempat salat, dan hingga salat ditunaikan. Apabila salat sudah ditunaikan, maka takbirpun dihen tikan.H.R.Ibn Abi Syaibah. Dengan derajat sahih.

7. Mengajak anak gadis/wanita dewasa untuk datang ke tempat salat Idul Fitri
Dianjurkan para anak gadis dan wanita dewasa untuk bersama ke tempat salat Id, kendatipun para wanita sedang haid, namun duduknya dibarisan belakang, untuk bertakbir dan mendengar khutbah.
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ عَاصِمٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.
Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh ber kata, telah menceritakan kepada kami Bapakku dari ‘Ashim dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyyah berkata, “Pada hari Raya ‘Id kami diperintahkan untuk keluar sampai-sampai kami mengajak para anak gadis dari kamarnya dan juga para wanita yang sedang haid. Mereka duduk di belakang barisan kaum laki-laki dan mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut.” H.R.al-Bukhari. No. 918.

8. Tidak ada azan atau iqamah, pada saat salat Idul Fitri
Perhatikan hadis berikut ini:
وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ قَالا لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلا يَوْمَ الأَضْحَى ثُمَّ سَأَلْتُهُ بَعْدَ حِينٍ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَنِي قَالَ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيُّ أَنْ لا أَذَانَ لِلصَّلاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الإِمَامُ وَلا بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلا إِقَامَةَ وَلا نِدَاءَ وَلا شَيْءَ لا نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلا إِقَامَةَ.
Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menga barkan kepadaku Atha` dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari keduanya berkata;”Tidak pernah dikumandangkan azan pada saat Idul Fithri dan tidak pula pada saat shalat Iedul Adha.” Kemudian setelah itu, saya menanyakan hal itu kepadanya, maka ia pun mengabarkan kepadaku, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Jabir bin Abdul lah Al-Ansha ri bahwasanya; “Tidak ada azan untuk salat Iedul Fithri saat Imam keluar, atau setelah keluarnya Imam. Dan tidak ada Iqamah, pengumuman serta tidak ada pula yang lain, tidak ada azan dan tidak pula Iqamah.”H.R.Muslim. No. 1468.

9. Salat Idul Fitri, pada Rakaat pertama ada 7 takbir dan pada rakaat kedua 5 takbir.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّائِفِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الأُولَى وَخَمْسٌ فِي الآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا.
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Al-Mu’ta mir dia berkata; aku mendengar Abdullah bin Abdur rahman At-Taifi men ceritakan dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari Abdullah bin Amr bin As berkata Nabi saw. bersabda: takbir pada waktu salat Idul fitri tujuh kali pada rakaat pertama dan lima pada rakaat terakhir dan bacaan Al quran setelah itu semua. H.R. Abu Dawud. No. 971.

10. Khutbah diakhiri dengan doa, khatib menyisyarat kantangan kanan dengan jari telunjuk.
أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حُصَيْنٍ أَنَّ بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ فَسَبَّهُ عُمَارَةُ بْنُ رُوَيْبَةَ الثَّقَفِيُّ وَقَالَ مَا زَادَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ.
Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghai lan dia berkata; telah menceritakan kepada kami Wa ki’ dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hushain bahwasanya Bisyr bin Marwan meng angkat tangannya pada hari Jum’at diatas mimbar, maka ‘Umarah bin Ruwaibah As-Saqafi mencelanya dan berkata;”Rasul saw. tidak lebih dari ini.”Ia mengisyaratkan dengan telunjuknya.H.R.an-Nasa’i.No. 1395.

11. Rasul saw melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul Adha, pulang dan perginya dengan jalan yang berbeda.
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدَيْنِ رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي خَرَجَ فِيهِ.
Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muham mad telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Sa’id bin Al-Haris dari Abu Hurairah ia berkata; “Adalah Nabi saw. apabila keluar menuju dua salat ‘id (adha dan fitri) beliau pulang di selain jalan yang telah dile watinya ketika pergi.” H.R.Ahmad. No. 8100.

12. Dianjurkan pada Hari Raya Idul Fitri jika bertemu sesama Muslim, untuk mengucapkan (تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ) taqabbalallahu minna waminkum, dan jawa bannya juga demikian.

Perhatikan asar sahabat:
حَدَّثَنَا مُبَشِرُ بْن إِسْمَاعِيْل الْحَلَبِي عَنْ صَفْوَان بْن عَمْرو السَّكْسَكِي قَالَ : ” سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْن بُسْرو عَبْدُ الرَّحْمَن بْن عَائِذ وَجُبَيْرُ بْنُ نُفَيْر وَخَالِدُ بْن مِعْدَان يُقَالُ لهَمُ ْفِي أَيَّامِ اْلأَعْيَادِ : تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ, وَيَقُولُوْنَ ذَلِكَ لِغَيْرِهِمْ ”  أخرجه أبو القاسم الأصبهاني في كتابه “الترغيب والترهيب”( ق 41 / 2 – 42 / 1 ) تمام المنة – (1 / 355).
Telah menceritakan kepada kami Mubasyir bin Isma’il al-Halabiy dari Safwan bin Amr as-Saksakiy, ia beka ta:“Saya mendengar Abdullah bin Busr, Abdurrahman  bin A’iz, Jubair bin Nufair dan Khalid bin Mi’dan dikatakan kepada mereka pada hari ‘Id (تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ) “Semoga Allah mnerima (ibadah) kami dan (iba dah) kamu.”Mereka mengucapkannya juga kepada yang lain. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Al-Qasim al-Asbahaniy dalam kitabnya At-Targib wa At-Tarhib (41/2-42/1).

13. Pada setiap Hari Raya, Rasul saw memakai pakaian yang bagus, yang tidak ia gunakan pada hari-hari biasa.

Maknanya, memakai pakaian baru.
من حديث ابن عباس مرفوعا بلفظ : ” كاَنَ يَلْبَسُ يَومَ الْعيدِ بُرْدَةً حَمْرَاءً ”  وهو مخرج في ” الصحيحة ” ( 1279 )
Hadis lafalnya dari Ibn ‘Abbas secara marfu’: Adalah Rasulullah pada hari ‘Id, beliau  memakai burdah me rah. Hadis marfu’ ditakhrij:Silsilah as-Sahihah (1279).
7609 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثَنَا أَبِي، ثَنَا سَعْدُ بْنُ الصَّلْتِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ يَوْمَ الْعِيدِ بُرْدَةً حَمْرَاءَ» المعجم الأوسط (7/ 316).

14. Bertakbir dengan ucapan sesuai dengan tuntunan Rasul saw, yaitu mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُوِللهِ الْحَمْدُ
Berdasarkan asar sahabat:
5696- حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، قَالَ : حدَّثَنَا شَرِيكٌ ، قَالَ : قُلْتُ لأَبِي إِسْحَاقَ : كَيْفَ كَانَ تَكْبِيرُ عَلِيٍّ ، وَعَبْدِ اللهِ ؟ فَقَالَ : كَانَا يَقُولاَنِ : اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.  مصنف ابن أبي شيبة – (2 / 168)
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, berkata dia: Telah menceritakan kepada kami Syarik, berkata dia: aku berkata pada Abu Ishaq bagaimana ‘Ali dan Abdillah bertakbir (pada hari raya)? Maka dia berkata: Adalah mereka berdua mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

15. Ketika hari raya Idul Fitri atau Idul Adha bertepatan pada hari Jumat, apakah kaum Muslimin tetap melaksanakan salat Jumat?

Perhatikan hadis ini:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ka sir telah mengabarkan kepada kami Isra`il telah mence ritakan kepada kami Usman bin Al-Mughirah dari Iyas Ibnu Abu Ramlah As-Syami dia berkata; aku pernah melihat Mu’awiyah bin Abu Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam, tanyanya;”Apakah kamu pernah mela kukan dua hari raya bertepatan dalam satu hari ketika bersama Rasulullah saw.?” Jawabnya;” Ya.’Mu’awiyah bertanya;”Bagaimana beliau mengerjakan salat tersebut?” Zaid bin Arqam menjawab;”Beliau mengerjakan salat ‘Id dan memberi keringanan pada waktu salat Jum’at, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa ingin mengerjakan (salat Jum’at), hendaknya mengerjakan salat (Jum’at).”H.R. Abu Dawud. No. 904.
Ada beberapa hadis yang senada dengan makna Hadis di atas, yang menunjukkan bahwa salat Jumat boleh ditinggal kan oleh orang yang telah salat Id. Jika ia tidak salat Jumat, maka ia wajib salat Zuhur (empat rakaat). Bagi orang yang tidak salat Id, maka ia tetap wajib salat Jumat. Rasul saw tetap melaksanakan salat Jumat kendatipun Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Rukhsah diberikan, pada waktu itu adalah ditujukan pada orang-orang yang berada di pegunungan yang mereka harus dua kali turun untuk salat Idul Fitri/Idul Adha dan Salat jumat.
16. Pada bulan Syawal ada anjuran untuk melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal, boleh dimulai tanggal 2 Syawal. Karena 1 Syawal haram umat Is lam berpuasa. Jadi waktu sepanjang bulan Syawal selain tanggal 1 Syawal. Perhatikan hadis ini:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتِ بْنِ الْحَارِثِ الْخَزْرَجِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id dan Ali bin Hujr semuanya dari Isma’il-Ibnu Ayyub berkata-Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku Sa’d bin Sa’id bin Qais dari Umar bin Tsabit bin Haris Al-Khazraji dari Abu Ayyub Al-Anshari ra., bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasul saw. bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadan kemu dian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Sya wwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa satu tahun.”H.R. Muslim. No. 1984.

17. Pada hari raya Idul Fitri, Rasul saw menganjurkan kepada para wanita untuk bersedekah:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدٌ هُوَ ابْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِالرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا.
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Ma ryam berkata, telah mengabarkan kepada kami Mu hammad bin Ja’far berkata, telah menga barkan ke padaku Zaid-yaitu Ibnu Aslam- dari ‘Iyad bin ‘Ab dullah dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata, “Rasul saw. pada hari raya ‘Idul Adha atau Fitri keluar menu ju tempat salat, beliau melewati para wanita seraya bersabda:”Wahai para wanita! Hendaklah kalian bersedekahlah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.” Kami bertanya,”Apa sebabnya wahai Rasulullah?”beliau menjawab:”Kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian.” Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?”Beliau menjawab:”Bukan kah persaksian seorang wanita setengah dari persak sian laki-laki?”Kami jawab,”Benar.”Beliau berkata lagi:”Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak salat dan puasa?”Kami jawab,”Benar.”Beliau berkata:”Itulah kekurangan agamanya.”H.R.al-Bukhari. No. 293.

Penutup
Masuknya ‘Idul Fithri, memberikan pelajaran bagi umat Islam untuk senantiasa mensucikan dirinya dari berbagai perilaku yang melanggar nilai-nilai Ilahiyah, atau ketuhanan dan kemanusiaan. Sebab, umat Islam telah ditempa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan. Jiwa yang sudah suci, jangan sampai dikotori lagi dengan mengikuti dorongan hawa nafsu yang berasal dari syaitan. Dengan menjaga kesucian jiwa dan raga serta senantiasa melaksanakan apa yang menjadikan ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka orang yang seperti inilah digelar oleh Allah swt sebagai orang yang bertaqwa, suatu gelar yang sangat mulia di sisi Allah swt. Wallahu a’lam bissawab.

BIBLIOGRAFI
Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Beirut : Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M.
Imam Muslim,Sahih Muslim,Beirut:Dar al-Fikr,1414 H/1993M.
Imam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Beirut : Dar al-Fikr, 1415 H/1994 H.
Imam At-Tirnmizi, Sunan At-Tirmizi, Beirut : Dar al-Fikr, 1417 H/1996 H.
Imam An-Nasa’i, Sunan as-Nasa’i. Beirut : Dar al-Fikr, 1415 H/1995 H.
Imam Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beirut : Dar al-Fikr, 1415 H/1994 H.
Imam Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Kairo : Dar al-Hadis: 1416 H/1996 M.
Imam asy-Syafi’i, Al-Umm. Kairo : Dar al-Ma’rifah, T.Th.
Muhammad Nashiruddin Al-AlBaniy,Tamam al-Minnah fi Ta’ liq ‘ala Fiqh as-Sunnah, Makkah:Dar ar-Rayah, 2009.
Mausu’ah al-Hadis asy-Syarif al-Kutb as-Sittah, Dar as-Salam lin-Nasyr wa at-Tuzi’, al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su’udiyah, Riyad, 2000.
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muham madiyah, tahun 2010.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan. 1440 H/2019 (Selesai)

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: kolom
Previous Post

WHO : Varian Baru Virus B1617 dari India Lebih Mudah Menular

Next Post

Libur Lebaran, JKN-KIS Tetap Bisa Memperoleh Jaminan Pelayanan Kesehatan

Next Post
Libur Lebaran, JKN-KIS Tetap Bisa Memperoleh Jaminan Pelayanan Kesehatan

Libur Lebaran, JKN-KIS Tetap Bisa Memperoleh Jaminan Pelayanan Kesehatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.