Karangkajen: Simpul Tokoh Pergerakan dan Pergerakan Mahasiswa Muhammadiyah
Oleh : Jufri – Pegiat Sosial politik dan Dakwah kebangsaan
Karangkajen, Yogyakarta, bukan sekadar kawasan pemakaman. Ia adalah ruang simbolik sejarah, tempat bersemayam tokoh-tokoh penting yang menautkan pembaruan Islam, perjuangan kemerdekaan, dan pergerakan mahasiswa Muhammadiyah dalam satu mata rantai yang utuh.
Di Karangkajen dimakamkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, peletak dasar tajdid, Islam yang mencerahkan, rasional, dan berorientasi amal. Dari Dahlan, lahir etos bahwa agama tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.
Di kawasan yang sama dimakamkan Lafran Pane. Ia bukan hanya pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tetapi juga kader Muhammadiyah dan pejuang kemerdekaan. Lafran tercatat aktif dalam Barisan Pemuda Gerindo dan Indonesia Muda, serta tumbuh dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah:
santri di Pesantren Muhammadiyah Sipirok, siswa HIS Muhammadiyah dan MULO Muhammadiyah.
Dari rahim Muhammadiyah itulah Lafran merumuskan sintesis penting: Islam, keilmuan, dan keindonesiaan. Mahasiswa, baginya, adalah subjek sejarah dan penjaga republik.
Tak jauh dari dua tokoh itu, dimakamkan pula Djazman Al-Kindi, tokoh kunci lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan dikenal luas sebagai Bapak Perkaderan Muhammadiyah. Melalui IMM, Djazman menegaskan bahwa kaderisasi adalah jantung persyarikatan. Mahasiswa Muhammadiyah tidak boleh menjadi aktivis musiman, tetapi kader ideologis yang berpikir sistematis, berakhlak, dan siap mengabdi.
KH Ahmad Dahlan, Lafran Pane, dan Djazman Al-Kindi adalah tokoh Muhammadiyah lintas generasi, yang masing-masing mewakili fase penting pergerakan:
Pembaruan umat (Ahmad Dahlan),
Perjuangan dan intelektualisme mahasiswa (Lafran Pane),
Sistem kaderisasi berkelanjutan (Djazman Al-Kindi).
Karangkajen, dengan demikian, adalah simpul sejarah pergerakan dan pergerakan mahasiswa Muhammadiyah. Ia mengajarkan bahwa perjuangan tidak pernah berhenti, ia berpindah estafet, dari pendiri, ke pejuang-intelektual, lalu ke kader yang disiapkan secara sadar.
Dari Karangkajen, Muhammadiyah seolah berpesan:
Islam harus terus melahirkan pembaru, pejuang, dan kader, bukan sekadar pewaris nama besar masa lalu.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

