Guru, Murid, dan Masa Depan Gerakan: Cermin Muhammadiyah Menjelang Muktamar ke-49
Oleh : Jufri
Menjelang Muktamar, saya selalu membayangkan sebuah ruang sunyi tempat organisasi besar bercermin. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi untuk bertanya dengan jujur: apakah ruh perjuangan para pendahulu masih hidup di dalam diri kita? Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita mengingat relasi dua tokoh besar: Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur dan Buya HAMKA.
Kisah keduanya bukan sekadar hubungan keluarga, bukan pula sekadar hubungan organisasi. Ia adalah kisah tentang guru dan murid, tentang teladan yang diwariskan, dan tentang bagaimana sebuah gerakan menjaga nyala api dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika Ulama Besar Mengakui Gurunya
HAMKA adalah ulama besar, sastrawan, pemikir, dan tokoh nasional. Namun di balik kebesarannya, ia tidak ragu mengakui bahwa Buya Sutan Mansur adalah salah satu gurunya.
Ini bukan pengakuan biasa.
Ini adalah pelajaran besar tentang kerendahan hati dalam tradisi keilmuan.
HAMKA dikenal sebagai tokoh pemikiran. Buya Sutan Mansur dikenal sebagai tokoh gerakan. Dari sinilah kita melihat dua sisi yang saling melengkapi:
satu menyalakan api intelektual,
satu menyalakan api gerakan.
HAMKA belajar dari Buya Sutan Mansur bahwa dakwah tidak cukup hanya kuat di mimbar dan tulisan. Dakwah harus hidup di tengah masyarakat, menyentuh kehidupan nyata, dan menaklukkan hati manusia dengan kelembutan.
Dakwah yang Menyatukan Pikiran dan Gerakan
Buya Sutan Mansur adalah tipe pemimpin yang tidak gemar konfrontasi. Ia memilih jalan dialog, pendekatan kultural, dan strategi yang menyejukkan.
HAMKA menyaksikan langsung bagaimana dakwah bisa berkembang pesat tanpa harus menimbulkan perpecahan. Dari sinilah lahir pelajaran penting:
gerakan yang kuat adalah gerakan yang mampu merangkul, bukan memukul.
Relasi guru–murid ini seolah menjadi simbol keseimbangan Muhammadiyah:
antara ilmu dan amal, antara gagasan dan tindakan. Antara ketegasan prinsip dan kelembutan pendekatan.
Mengapa Kisah Ini Relevan Hari Ini?
Menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Sumatera Utara, kisah HAMKA dan Buya Sutan Mansur terasa seperti cermin besar bagi Muhammadiyah masa kini.
Muhammadiyah hari ini jauh lebih besar dibanding masa mereka:
jaringan pendidikan yang luas,
rumah sakit dan amal usaha di mana-mana,
pengaruh sosial yang kuat.
Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama:
apakah kita masih bergerak dengan ruh yang sama?
Karena sejarah menunjukkan, Muhammadiyah tidak lahir dari gedung megah. Ia lahir dari:
kesederhanaan, keikhlasan, keberanian berbuat nyata untuk umat.
Tiga Pelajaran dari Guru dan Murid untuk Muktamar
Relasi Buya Sutan Mansur dan HAMKA seolah memberi tiga pesan untuk masa depan:
1. Idealisme Harus Tetap Menjadi Bahan Bakar
HAMKA menunjukkan pentingnya pemikiran.
Sutan Mansur menunjukkan pentingnya aksi.
Muhammadiyah membutuhkan keduanya sekaligus.
2. Kepemimpinan Adalah Keteladanan
Buya Sutan Mansur menaklukkan hati dengan kelembutan.
HAMKA menaklukkan pikiran dengan ilmu.
Kepemimpinan Muhammadiyah masa depan harus mampu meneladani keduanya.
3. Gerakan Tidak Boleh Kehilangan Ruh
Institusi bisa berjalan dengan sistem.
Tetapi gerakan hanya hidup dengan niat dan idealisme.
Muktamar bukan sekadar memilih pimpinan baru. Ia adalah momentum memperbarui ruh gerakan.
Dari Guru ke Murid, Dari Generasi ke Generasi
Pengakuan HAMKA kepada gurunya mengingatkan kita bahwa sejarah Muhammadiyah adalah mata rantai panjang. Tidak ada tokoh yang berdiri sendirian. Semua berdiri di pundak generasi sebelumnya.
Kini, mata rantai itu berada di tangan generasi hari ini.
Menjelang Muktamar ke-49, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang akan memimpin Muhammadiyah ke depan. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
apakah kita masih setia menjaga api yang dahulu dinyalakan oleh para guru kita?
Karena jika api itu tetap hidup, Muhammadiyah akan selalu menemukan jalannya, ke mana pun zaman bergerak.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

