• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Syahbana Daulay

Syahbana Daulay

Detik yang Terbuang, Usia yang Hilang: Nilai Waktu dalam Kehidupan Manusia

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
31 Desember 2025
in Kolom
0

Detik yang Terbuang, Usia yang Hilang: Nilai Waktu dalam Kehidupan Manusia

Oleh: Syahbana Daulay

 

Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak dalam rutinitas dan kesibukan yang padat, namun kehilangan kesadaran terhadap makna waktu itu sendiri. Kemajuan teknologi mempercepat aktivitas manusia, tetapi tidak selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Banyak individu merasa “sibuk”, namun pada saat yang sama merasakan kekosongan makna dan penyesalan atas waktu yang berlalu tanpa kontribusi signifikan.

Islam memandang waktu sebagai elemen fundamental kehidupan. Ia bukan sekadar ukuran usia biologis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia. Oleh karena itu, pertanyaan mendasarnya bukan berapa lama manusia hidup, melainkan bagaimana ia menggunakan waktunya.

Konsep dan Pertanggungjawaban Waktu dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap waktu dengan menjadikannya objek sumpah Ilahi, seperti dalam QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3. Ayat ini menegaskan bahwa manusia secara inheren berada dalam kondisi kerugian, kecuali mereka yang mampu mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, serta tanggung jawab sosial.

Menurut tafsir Ibnu Katsir, kerugian yang dimaksud bersifat menyeluruh, mencakup aspek duniawi dan ukhrawi. Hal ini menunjukkan bahwa penyia-nyiaan waktu berdampak langsung terhadap kualitas kehidupan manusia, baik secara individual maupun kolektif.

Konsep pertanggungjawaban waktu dipertegas dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yang menyatakan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia menghabiskan umurnya. Hadis ini menempatkan waktu sebagai objek hisab, sejajar dengan ilmu, harta, dan amal.

Dari sudut pandang akademik, hal ini menunjukkan bahwa waktu dalam Islam memiliki dimensi etis dan teleologis. Waktu tidak netral, melainkan sarat nilai dan tujuan.

Detik yang Terbuang dan Ilusi Kesibukan Modern

Fenomena manusia modern menampilkan paradoks yang semakin nyata: intensitas aktivitas meningkat, namun kedalaman makna justru menurun. Individu tampak sibuk sepanjang hari – dipenuhi rapat, tuntutan pekerjaan, arus informasi digital, dan tekanan social – namun pada saat yang sama mengalami kelelahan eksistensial (existential fatigue). Kesibukan ini sering bersifat reaktif dan mekanis, bukan reflektif dan bermakna. Aktivitas dilakukan secara masif, tetapi minim kesadaran tujuan hidup.

Dalam kajian psikologi modern, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep time illusion, yakni kecenderungan manusia merasa memiliki waktu yang panjang sehingga menunda hal-hal yang bernilai esensial. Ilusi ini diperparah oleh budaya digital yang memecah perhatian (fragmented attention), membuat manusia kehilangan kesadaran utuh terhadap nilai waktu. Akibatnya, detik demi detik berlalu tanpa refleksi, seolah waktu hanyalah sesuatu yang “akan selalu ada”.

Al-Qur’an sejak awal telah membongkar ilusi tersebut dengan peringatan yang sangat tegas. Allah bersumpah atas waktu dan menyatakan kerugian eksistensial manusia yang lalai:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1–2)

Ayat ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar latar kehidupan, melainkan instrumen penilaian terhadap kualitas eksistensi manusia. Kerugian yang dimaksud bukan semata kerugian material, tetapi kerugian makna hidup, ketika waktu tidak diisi dengan iman, amal, dan kesadaran moral.

Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menegaskan bahwa waktu adalah aset paling berharga manusia. Ia menyatakan bahwa hakikat kehidupan manusia adalah kumpulan waktu; siapa yang menyia-nyiakan waktunya, sejatinya telah menyia-nyiakan hidupnya. Kehilangan waktu berarti kehilangan peluang untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas spiritual, dan mendekat kepada Allah. Dalam perspektif ini, detik yang terbuang bukan sekadar kegagalan produktivitas, melainkan kegagalan eksistensial.

Rasulullah SAW bahkan memperingatkan bahwa manusia sering tertipu oleh kelapangan waktu dan kesehatan:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. al-Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa kelapangan waktu justru sering melahirkan kelalaian, bukan kesadaran. Oleh karena itu, setiap detik yang berlalu tanpa orientasi nilai merupakan potensi kemanusiaan yang tidak teraktualisasi.

Manajemen Waktu sebagai Praktik Spiritual

Islam tidak memandang pengelolaan waktu sebagai keterampilan teknis semata, melainkan sebagai praktik spiritual yang berakar pada tauhid dan orientasi ibadah. Waktu dalam Islam adalah amanah Ilahi yang harus dipertanggungjawabkan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian pada hari itu kamu benar-benar akan ditanya tentang nikmat (yang diberikan kepadamu).” (QS. At-Takatsur [102]: 8)

Waktu termasuk nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa aktivitas duniawi—belajar, bekerja, meneliti, dan berkontribusi sosial—dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar dan dijalankan dengan etika yang lurus. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dengan prinsip ini, manajemen waktu tidak lagi sekadar pengaturan jadwal, tetapi pengaturan orientasi hidup. Setiap waktu diarahkan untuk menghadirkan nilai kebaikan yang berkelanjutan. Konsep al-baqiyat ash-shalihat menegaskan bahwa amal saleh yang dilakukan dalam waktu terbatas dapat memiliki nilai yang kekal:

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Ayat ini mengoreksi cara pandang modern yang sering mengukur keberhasilan dari kepadatan aktivitas dan capaian jangka pendek. Islam justru menekankan keberlanjutan nilai dan dampak jangka panjang. Dalam konteks akademik, waktu belajar dan meneliti menjadi sarana pembentukan integritas intelektual dan tanggung jawab sosial. Dalam dunia profesional, waktu kerja menjadi ladang amanah dan kontribusi, bukan sekadar rutinitas mekanis.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan urgensi kesadaran waktu dalam kehidupan manusia:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.”
(HR. at-Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa waktu adalah ukuran pertanggungjawaban moral manusia. Dengan demikian, manajemen waktu dalam Islam mencapai puncaknya ketika setiap detik dimaknai sebagai peluang mendekat kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama. Di sinilah keterbatasan waktu justru melahirkan keabadian makna, menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai ladang al-baqiyat ash-shalihat.

Implikasi bagi Kehidupan Akademik dan Sosial

Kesadaran akan nilai waktu memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan dan kehidupan sosial. Mahasiswa, akademisi, dan profesional dituntut untuk tidak hanya produktif secara kuantitatif, tetapi juga bermakna secara kualitatif. Waktu yang diisi dengan pencarian ilmu, pengabdian, dan refleksi diri berkontribusi terhadap pembentukan karakter dan peradaban yang beretika.

Detik yang terbuang sejatinya adalah usia yang hilang tanpa nilai. Namun, Islam menawarkan perspektif optimistis bahwa selama waktu masih tersisa, manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki orientasi hidupnya. Kesadaran akan nilai waktu mendorong manusia untuk hidup lebih bertanggung jawab, bermakna, dan terarah.

Dengan demikian, pengelolaan waktu bukan sekadar persoalan manajemen, melainkan bagian integral dari kesadaran spiritual dan etika kehidupan. Wallahu a’lam

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: kolomsyahbanda daulaywaktu
Previous Post

UMSU Lepas 6 Mahasiswa Ikuti Student Exchange ke INTI University Malaysia

Next Post

Kemenhaj Pastikan Layanan Konsumsi hingga Akomodasi Sudah Aman

Next Post
Suhu di Saudi Capai 45 Derajat, Jamaah Diimbau Banyak Minum Air

Kemenhaj Pastikan Layanan Konsumsi hingga Akomodasi Sudah Aman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.