Dakwah Tanpa Kultus: Islam Berkemajuan dan Kerja Sunyi Para Teladan
Oleh : Jufri
Kehebatan sering kali disalahpahami. Ia dipersempit menjadi soal figur, disederhanakan menjadi nama besar, lalu dipamerkan sebagai prestasi personal. Dari situlah lahir kehebatan semu: tampak agung di permukaan, tetapi rapuh dalam makna. Dalam sejarah dakwah, kecenderungan ini berbahaya, karena risalah bisa tergeser oleh kultus manusia.
Muhammadiyah sejak awal berdiri justru mengambil jarak dari pola itu. Gerakan ini tidak dibangun di atas mitos “orang hebat”, melainkan di atas kesadaran kolektif dan tanggung jawab moral. Dakwah tidak dipahami sebagai panggung, tetapi sebagai kerja peradaban. Bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan apa yang paling dibutuhkan umat.
KH Ahmad Dahlan adalah teladan paling awal dari sikap itu. Ia bukan hanya menghadapi tantangan kolonialisme, tetapi juga resistensi dari umat sendiri. Ketika ia menerapkan cara belajar menggunakan meja dan kursi, sistem klasikal, serta metode pengajaran yang lebih teratur, protes pun bermunculan. Ia dituduh meniru Barat, dianggap merusak tradisi, bahkan dicurigai menyimpang dari agama.
Namun Dahlan tidak menjawab dengan emosi atau klaim kehebatan diri. Ia memilih perumpamaan yang jernih: jika meja dan kursi ditolak karena berasal dari Barat, lalu bagaimana dengan kereta api? Apakah umat juga harus menolak naik kereta karena bukan buatan orang Islam? Dari perumpamaan sederhana itu, Dahlan mengajarkan pelajaran besar: Islam tidak menolak sarana, selama tujuan dan nilainya lurus. Yang harus dijaga adalah arah, bukan bentuk.
Sikap inilah yang menjadi ruh Islam Berkemajuan. Islam yang tidak alergi pada perubahan, tetapi kritis terhadap orientasi. Islam yang menggunakan akal tanpa kehilangan iman. Islam yang bergerak maju tanpa tercerabut dari akhlak. Dan semua itu dijalankan bukan oleh satu orang, melainkan oleh kerja kolektif yang berkesinambungan.
Jejak Dahlan diteruskan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya dengan corak perjuangan yang berbeda, namun ruh yang sama. Ki Bagus Hadikusumo menunjukkan keteguhan prinsip dalam senyap. Keputusannya mengedepankan persatuan bangsa di tengah perdebatan ideologis awal republik adalah bentuk kehebatan yang tidak berisik, tetapi menentukan arah sejarah.
Kasman Singodimedjo menghadirkan teladan integritas dan keberanian moral. Ia membuktikan bahwa iman dan negara tidak harus dipertentangkan, dan bahwa kekuasaan tidak boleh mengalahkan nurani. Hamka memadukan keluasan ilmu, kedalaman tasawuf, dan keindahan sastra, tanpa kehilangan keberanian bersikap. Sementara AR Fakhruddin menampilkan wajah kepemimpinan yang bersahaja, bersih, dan menenteramkan—jauh dari gemerlap jabatan dan pencitraan.
Namun penting ditegaskan: semua tokoh itu bukan untuk dipuja, melainkan diteladani. Mereka adalah cermin, bukan patung. Dan cermin utama yang mereka gunakan adalah junjungan mulia Nabi Muhammad SAW. Dari Rasulullah mereka belajar bahwa dakwah bukan soal memenangkan perdebatan, melainkan memuliakan manusia; bukan soal menunjukkan kehebatan, melainkan menghadirkan rahmat.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, tetapi akhlak adalah fondasi. Bahwa kemajuan tidak bertentangan dengan iman, dan bahwa kerja bersama lebih kuat daripada kehebatan individual. Nilai-nilai itulah yang diterjemahkan Muhammadiyah ke dalam konteks zaman, melalui pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah pencerahan.
Di era digital hari ini, tantangan itu kembali menguat. Panggung semakin luas, tetapi godaan personal branding juga semakin besar. Dakwah bisa viral, tetapi nilai bisa dangkal. Di sinilah relevansi dakwah kolektif Muhammadiyah: menjaga agar gerakan tetap berpijak pada misi, bukan figur; pada substansi, bukan sensasi.
Pada akhirnya, dakwah Islam Berkemajuan mengajarkan satu pelajaran mendasar: manusia yang merasa paling hebat sering kali lupa pada keterbatasannya. Sebaliknya, gerakan yang rendah hati justru mampu bertahan lintas zaman. Muhammadiyah memilih jalan itu, jalan kerja sunyi, kerja bersama, dan kerja bernilai.
Dan di situlah keanggunan dakwah: tidak sibuk membesarkan manusia, tetapi setia membesarkan risalah. Risalah yang sejak awal diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW, lalu diterjemahkan dengan jujur oleh para pendahulu, dan kini menjadi amanah bagi generasi yang melanjutkan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

