Muktamar ke-49: Merawat Kebesaran, Menguatkan Daerah, Mencerahkan Semesta
Oleh: Jufri
Sering kali kita mengukur kemajuan organisasi dari gedung yang dibangun, jumlah amal usaha, banyaknya kegiatan, atau besarnya aset yang dimiliki. Semua itu penting. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kualitas manusia yang menggerakkannya.
Sebab, organisasi tidak akan benar-benar maju jika fasilitasnya berkembang, tetapi kualitas sumber daya manusianya berjalan di tempat.
Pemikiran ini menarik untuk dihubungkan dengan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara pada November 2027, dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”.
Tema ini bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ada tanggung jawab besar di dalamnya, yaitu bagaimana mencerdaskan manusia, membangun bangsa, dan menghadirkan manfaat bagi semesta.
Komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan
Dalam kehidupan organisasi, komunikasi sering kali berhenti pada penyampaian instruksi, laporan, dan keputusan. Padahal, komunikasi juga harus menjadi sarana pendidikan.
Seorang pemimpin bukan hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga mendengarkan. Bukan hanya memberikan perintah, tetapi menjelaskan alasan. Bukan hanya menuntut hasil, tetapi membantu orang lain meningkatkan kemampuannya.
Komunikasi edukatif tidak harus menggunakan bahasa yang tinggi atau istilah akademis. Justru, kemampuan menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa sederhana merupakan salah satu ukuran kecakapan berkomunikasi.
Pesan yang baik bukan pesan yang membuat orang terkesan dengan kepintaran pembicaranya, melainkan pesan yang membuat orang pulang membawa pemahaman baru.
Dalam dakwah pun demikian. Berbicara kepada anak-anak tentu berbeda dengan berbicara kepada remaja, orang dewasa, atau kelompok masyarakat dengan latar belakang pendidikan berbeda. Seorang mubaligh harus mampu memahami siapa yang diajak bicara dan memilih pendekatan yang tepat.
Dakwah bukan sekadar menyampaikan apa yang kita ketahui, tetapi bagaimana orang lain dapat memahami dan mengamalkannya.
Muhammadiyah besar, tetapi tantangan daerah tidak sama
Kita tentu tidak perlu meragukan kebesaran Muhammadiyah. Di Pulau Jawa dan sejumlah kota besar, perkembangan Persyarikatan terlihat melalui banyaknya kader, perguruan tinggi, rumah sakit, sekolah, dan berbagai amal usaha lainnya.
Namun, kenyataan di daerah tidak selalu sama. Terutama di sejumlah wilayah luar Jawa, Muhammadiyah masih menghadapi persoalan yang cukup mendasar.
Mubaligh terbatas, jumlah anggota masih minim, kader yang siap menggerakkan organisasi belum banyak, sementara sejumlah amal usaha masih harus terus dihidupkan agar dapat bertahan dan berkembang.
Ada ranting yang membutuhkan kader untuk menjalankan kegiatan. Ada cabang yang masih berjuang menjaga keberlangsungan dakwah. Ada pula amal usaha yang memiliki bangunan, tetapi masih membutuhkan sumber daya manusia, kemampuan pengelolaan, dan dukungan finansial agar benar-benar memberikan manfaat.
Kondisi seperti ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan Muhammadiyah yang sudah besar, sementara masih ada Muhammadiyah di daerah yang sedang berjuang agar tetap hidup dan mampu menghidupkan dakwah.
Karena itu, ukuran kemajuan Muhammadiyah seharusnya tidak hanya dilihat dari perkembangan pusat-pusat pertumbuhannya, tetapi juga dari kemampuannya menguatkan ranting, cabang, dan daerah yang masih menghadapi keterbatasan.
Manusia adalah investasi keberlanjutan
Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia berkelanjutan (Sustainable Human Resource Management), manusia bukan sekadar pelaksana pekerjaan atau pengisi struktur organisasi. Manusia adalah potensi yang harus dikembangkan secara terus-menerus.
Organisasi perlu memikirkan bagaimana kader dipersiapkan, kompetensinya ditingkatkan, kesejahteraannya diperhatikan, dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Kader tidak cukup hanya diberi tugas dan tanggung jawab. Mereka juga membutuhkan kesempatan belajar, pengalaman, pendampingan, dan kepercayaan.
Kita membutuhkan mubaligh yang tidak hanya memahami materi agama, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kita membutuhkan pengelola amal usaha yang profesional, kader yang menguasai teknologi, serta pemimpin yang mampu bekerja sama dan beradaptasi dengan perubahan.
Daerah yang memiliki keterbatasan tentu membutuhkan perhatian lebih. Tidak semua daerah memiliki fasilitas pendidikan, kemampuan pendanaan, dan ketersediaan kader yang sama dengan kota-kota besar.
Karena itu, pendekatan pengembangan sumber daya manusia tidak bisa diseragamkan. Diperlukan kolaborasi, pendampingan, dan transfer pengetahuan antardaerah.
Jangan hanya membanggakan amal usaha yang sudah maju, sementara amal usaha yang masih berjuang dibiarkan berjalan sendiri. Semangat ta’awun harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Kaderisasi juga bukan sekadar memenuhi kebutuhan kepengurusan. Kaderisasi adalah investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan gerakan.
Islam Berkemajuan dan tanggung jawab kesemestaan
Islam Berkemajuan tidak cukup menjadi slogan atau materi dalam forum pengajian. Nilainya harus terlihat dalam cara kita berpikir, bekerja, mengelola organisasi, mendidik generasi, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kemajuan harus berjalan bersama integritas. Profesionalisme harus berjalan bersama akhlak. Penguasaan teknologi harus disertai tanggung jawab kemanusiaan.
Dalam konteks inilah gagasan Risalah Kesemestaan menjadi relevan. Dakwah Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada kepentingan internal organisasi atau batas geografis tertentu.
Persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, pendidikan, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan perkembangan teknologi membutuhkan kontribusi pemikiran serta tindakan nyata.
Kita membutuhkan kader yang kuat dalam nilai keislaman, tetapi terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Memiliki identitas organisasi, tetapi mampu bekerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir global, tetapi tetap peduli terhadap persoalan masyarakat di sekitarnya.
Manusia yang cerdas bukan hanya mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga yang memahami tanggung jawabnya terhadap sesama dan lingkungan.
Muktamar harus meninggalkan warisan
Sebagai tuan rumah Muktamar ke-49, Sumatera Utara tentu memiliki tanggung jawab besar. Persiapan infrastruktur, pelayanan peserta, konsolidasi organisasi, dan berbagai kebutuhan teknis harus dikerjakan secara profesional.
Namun, keberhasilan Muktamar tidak boleh hanya diukur dari kelancaran acara dan kemeriahan penyelenggaraan.
Ada warisan yang lebih penting untuk ditinggalkan: kader yang semakin berkualitas, organisasi yang semakin profesional, dakwah yang semakin mencerahkan, dan amal usaha yang semakin berkembang serta memberikan manfaat.
Kita ingin semangat Muktamar tidak berhenti ketika acara selesai. Kita ingin setiap peserta yang kembali ke daerah masing-masing membawa pengetahuan, gagasan, dan semangat baru untuk menghidupkan Persyarikatan.
Muhammadiyah dan Aisyiyah harus terus berjalan bersama, saling menguatkan, dan memberikan kontribusi sesuai peran masing-masing dalam pendidikan, dakwah, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat.
Pada akhirnya, membangun Muhammadiyah berarti membangun manusia yang menggerakkannya. Bukan hanya memperbesar organisasi, tetapi memastikan gerakan ini tetap hidup sampai ke ranting-ranting, termasuk di daerah yang masih memiliki keterbatasan.
Inilah sesungguhnya tugas yang berat sekaligus mulia dari Risalah Islam Berkemajuan, yang ke depan akan dikembangkan menjadi Risalah Kesemestaan. Sebuah tanggung jawab untuk menghadirkan Islam yang tidak hanya mencerahkan kehidupan umat, tetapi juga memberikan manfaat bagi bangsa, kemanusiaan, dan seluruh alam.
Tugas ini tentu tidak cukup diselesaikan melalui rumusan pemikiran atau keputusan Muktamar. Ia membutuhkan manusia yang berkualitas, kader yang tangguh, mubaligh yang mampu menjawab kebutuhan zaman, organisasi yang kuat sampai ke ranting, serta amal usaha yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Karena itu, Muktamar ke-49 di Sumatera Utara harus menjadi momentum untuk merawat kebesaran Muhammadiyah sekaligus menguatkan daerah-daerah yang masih berjuang. Sebab, semangat Islam Berkemajuan dan Risalah Kesemestaan harus hadir bukan hanya dalam gagasan besar, tetapi juga dalam kerja nyata di tengah masyarakat.
Dari Sumatera Utara, kita berharap lahir energi baru untuk mencerdaskan bangsa dan menghadirkan cahaya bagi semesta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

