Kekeliruan Henri Bergson Tentang Waktu Jika Ditinjau dari QS. Al-‘Ashr
Oleh: Affan Al Quddus, S.Sos., M.Si
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)..
Henri Bergson, filsuf Prancis (1859-1941), membedakan dua jenis waktu:
1. Temps (Waktu Jam): Waktu yang diukur oleh jam, kalender, dan stopwatch. Bersifat kuantitatif, bisa dipotong-potong menjadi detik, menit, jam. Ini adalah waktu milik sains dan positivisme. Menurut Bergson, ini bukan waktu yang sejati, melainkan hanya bayangan waktu.
2. Durée (Durasi): Waktu yang dihayati langsung oleh kesadaran. Bersifat kualitatif, mengalir, saling menembus seperti nada-nada musik. Contohnya: 10 menit menunggu terasa lama, 2 jam berbincang asyik terasa sebentar. Jam sama, durasi berbeda. Menurut Bergson, inilah waktu yang sejati.
Bergson benar ketika mengatakan waktu bukan sekadar angka. Kesalahannya adalah ia berhenti di situ: waktu cukup untuk dirasakan.
Jika dihadapkan dengan ayat Al Ashr di atas, ada tiga kekeliruan mendasar pada Bergson:
Pertama, Bergson Menganggap Waktu Itu Netral, Al-‘Ashr Mengatakan Waktu Itu Modal Yang Pasti Merugikan.
Bagi Bergson, Durée itu netral, indah, kreatif, cukup untuk dihayati. Tidak ada urgensi moral.
Bagi Al-‘Ashr, waktu bukan untuk dihayati, tapi untuk diselamatkan. Allah bersumpah Demi Masa karena masa adalah modal yang setiap detiknya berkurang dan pasti merugikan jika tidak diisi. Bergson asyik menikmati musik waktu, Al-‘Ashr menyuruh kita berlomba sebelum musik berhenti.
Kedua, Bergson Mengurung Waktu di Dalam Diri, Al-‘Ashr Membebaskan Waktu ke Luar Diri.
Durée-nya Bergson sangat subjektif dan individual. Waktu saya berbeda dengan waktu Anda.
Wal ‘Ashr menggunakan ‘Al-‘Ashr” dengan Alif Lam ma’rifah, waktu yang definitif, objektif, waktu sejarah umat manusia. Kerugian itu menimpa Al-Insaan (manusia secara kolektif). Solusinya pun bukan introspeksi sendirian, melainkan Tawaashau (saling menasihati). Waktu dalam Islam mengikat, bukan memisahkan.
Ketiga. Bergson Tidak Punya Standar Nilai Waktu, Al-‘Ashr Punya 4 Filter Penyelamat.
Bergson tidak menjawab: durée yang seperti apa yang baik? Apakah durée seorang penjudi dan durée seorang sufi sama nilainya? Bagi Bergson sama-sama aliran kesadaran.
Al-‘Ashr memberi filter yang sangat tegas. Waktu baru tidak merugikan jika diisi 4 hal yang akan diperdalam di bawah ini.
ILLALLADZIINA AAMANU (Iman Sebagai Kompas Waktu)
Bergson membiarkan durée mengalir tanpa arah. Semua aliran dianggap kreatif. Al-‘Ashr berkata: aliran waktu harus punya kompas, yaitu Iman. Tanpa iman, durée bisa kreatif menciptakan keburukan. Iman memastikan waktu tidak liar, tapi mengarah kepada Allah.
WA ‘AMILUS SHALIHAATI (Amal Shaleh Sebagai Bukti Waktu)
Ini koreksi paling keras. Bergson cukup dengan merasakan waktu di dalam batin (intuisi). Al-‘Ashr menuntut bukti luar: amal. Waktu yang hanya dirasakan di hati tanpa diwujudkan dalam karya nyata adalah ilusi.
WA TAWAA SHAU BIL HAQQI (Saling Menasihati Dalam Kebenaran Sebagai Pengikat Waktu)
Durée-nya Bergson individualistis. Al-‘Ashr kolektif. Kebenaran tidak boleh berhenti di durée pribadi. Jika engkau menemukan kebenaran dalam waktumu, engkau wajib mengikatkan waktumu dengan waktu orang lain.
WA TAWAA SHAU BISH SHABRI (Saling Menasihati Dalam Kesabaran Sebagai Penjaga Waktu)
Bergson mengira durée itu selalu indah. Padahal waktu itu penuh ujian. Al-‘Ashr menutup dengan Shabr. Shabr adalah penjaga agar tiga hal pertama tidak putus di tengah jalan.
Jika Bergson hanya pandai merasakan waktu, Sang Pencerah KH. Ahmad Dahlan adalah contoh nyata manusia yang menyelamatkan waktu dengan 4 filter Al-‘Ashr.
Dahlan tidak berhenti pada Durée. Ia menerjemahkan Surat Al-Ma’un dan Al-‘Ashr menjadi amal shalihin yang konkret dan melintasi abad:
Ketika banyak ulama pada zamannya cukup menghayati iman di dalam langgar, Dahlan bertanya: di mana amal dari iman itu? Maka lahirlah Muhammadiyah. Iman yang bagi Bergson cukup dirasakan, bagi Dahlan harus diperlihatkan dalam sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan.
Amal Shaleh yang Melembaga, Bukan Sekadar Insidental.
Amal Shaleh dalam Al-‘Ashr berbentuk jamak: “Ash-Shalihaat” amal-amal yang banyak dan berkelanjutan. Itulah yang dilakukan Dahlan. Satu amal shalih yang dilembagakan: dari satu Madrasah Ibtidaiyah di Kauman tahun 1911, kini menjadi ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, ratusan universitas Muhammadiyah sepanjang abad. Inilah bukti bahwa waktu yang diisi amal shaleh tidak pernah rugi, ia terus mengalirkan pahala bahkan setelah pelakunya wafat.
Tawaashau Bil Haqqi Sepanjang Abad. Dahlan memahami bahwa kebenaran harus disebarkan secara berjamaah. Muhammadiyah adalah gerakan tawaashau bil haqqi yang terorganisir: Majelis Tabligh, Majelis Tarjih, dakwah yang mencerahkan. Waktu tidak dihabiskan untuk merenung sendirian seperti filsuf Prancis, tapi untuk saling mengingatkan dalam kebenaran.
Tawaashau Bish Shabri Selama Lebih dari Satu Abad.
Inilah yang membuktikan kebenaran Al-‘Ashr. Selama 114 tahun (1912-2026), Muhammadiyah tetap bertahan karena “shabr”. Dicaci sebagai Kaum Muda, difitnah sebagai Wahabi, ditekan penjajah, namun tetap sabar dalam kebenaran. Tanpa shabr, amal sepanjang abad itu tidak akan ada.
KH. Ahmad Dahlan adalah antitesis dari Henri Bergson. Bergson mengajarkan kita cara “merasakan” waktu, Dahlan mengajarkan kita cara “mengisi” waktu sehingga waktu itu tidak pernah merugikan kita.
Penutup
Rumus Bergson: Waktu sama dengan Kesadaran yang Mengalir (tanpa arah, tanpa bukti, tanpa kolektivitas, tanpa ketahanan).
Rumus Al-‘Ashr yang dihidupkan oleh KH. Ahmad Dahlan: Waktu Selamat adalah Iman (arah) dan Amal Shaleh yang melembaga (bukti sepanjang abad) bersama Tawaashau bil Haqq (kolektivitas dakwah) serta Tawaashau bish Shabr (ketahanan lebih dari satu abad).
Bergson berhasil keluar dari jebakan materialisme jam yang menganggap waktu hanyalah angka, tapi ia terjebak dalam jebakan baru: romantisme kesadaran yang menganggap waktu cukup dirasakan.
Al-‘Ashr datang dan meluruskan, dan KH. Ahmad Dahlan membuktikan: waktu bukan hanya untuk dirasakan, tapi untuk diisi dan dilembagakan menjadi amal shalihin yang menyelamatkan umat sepanjang abad. Bergson berhenti pada kesadaran akan waktu, Al-Qur’an dan Sang Pencerah menuntut tanggung jawab dan karya nyata atas waktu.
Wassalam…
Penulis: Dosen Fisip UMSU. Analis Kaji Ilmu.

