• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Keluarga sebagai Madrasah Kaderisasi Muhammadiyah

Keluarga sebagai Madrasah Kaderisasi Muhammadiyah

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
20 Oktober 2026
in Kolom
0

Keluarga sebagai Madrasah Kaderisasi Muhammadiyah

(Tulisan ke-78 dari Beberapa Artikel Terkait Kaderisasi)

Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan

 

Ada satu pertanyaan yang sesekali perlu kita ajukan kepada diri sendiri: kepada siapa Muhammadiyah akan diwariskan setelah generasi kita selesai berjuang?

Pertanyaan itu penting karena Muhammadiyah tidak dibangun untuk berhenti pada satu zaman. Ia bukan sekadar organisasi tempat seseorang menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan sebagian usianya. Muhammadiyah adalah gerakan yang hidup karena nilai-nilainya terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Selama ini kita mengenal banyak ruang perkaderan. Ada Darul Arqam, Baitul Arqam, sekolah kader, pelatihan instruktur, pengajian, dan berbagai forum ideologisasi. Melalui ruang-ruang itu kita membicarakan kepemimpinan, dakwah, ideologi, masa depan Persyarikatan, dan Islam Berkemajuan.

Namun, di tengah kesungguhan membangun sistem kaderisasi tersebut, ada satu ruang yang justru sering luput dari perhatian: RUMAH.

Padahal, sebelum seorang anak mengenal Muhammadiyah melalui sekolah, organisasi otonom, pengajian, atau perkaderan formal, ia terlebih dahulu mengenal nilai dari ayah dan ibunya. Dari rumah ia belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, agama, kerja keras, dan cara memperlakukan orang lain.

Karena itu, rumah sesungguhnya adalah madrasah kaderisasi pertama.

Ketika Anak Memilih Jalan yang Berbeda

Ada kenyataan yang layak menjadi bahan muhasabah bersama. Tidak sedikit orang tua yang puluhan tahun aktif di Muhammadiyah, memimpin amal usaha, terlibat dalam Persyarikatan, atau menghabiskan banyak waktunya dalam dakwah, tetapi anak-anaknya tidak tertarik mengikuti jalan perjuangan yang sama.

Ada ayah yang dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah, tetapi anaknya justru menjaga jarak dari Persyarikatan. Ada suami yang sangat aktif dalam kegiatan Muhammadiyah, sementara istrinya tidak pernah merasa dekat dengan ‘Aisyiyah. Sebaliknya, ada istri yang aktif di ‘Aisyiyah, tetapi suaminya tidak tertarik mengenal Muhammadiyah lebih jauh.

Siapa yang salah?

Pertanyaan itu tidak dapat dijawab secara sederhana. Anak tetap memiliki pilihan hidupnya sendiri. Ia bukan objek kaderisasi yang bisa dibentuk dengan paksaan. Namun sebelum pilihan itu terbentuk, seorang anak telah bertahun-tahun menyaksikan bagaimana orang tuanya menjalani kehidupan.

Ia melihat bagaimana ayah dan ibunya berbicara tentang Muhammadiyah. Ia menyaksikan bagaimana keduanya menyelesaikan konflik, memperlakukan orang lain, menjaga amanah, dan membagi waktu antara organisasi dengan keluarga.

Pengalaman sehari-hari semacam itulah yang perlahan membentuk kesan anak terhadap Muhammadiyah.

Karena itu, mungkin persoalannya tidak selalu terletak pada anak yang gagal menjadi kader. Bisa jadi, yang belum berhasil adalah cara kita menjadikan rumah sebagai ruang kaderisasi.

Anak Belajar dari Apa yang Ia Lihat

Kita sering mengatakan bahwa Muhammadiyah mengajarkan keikhlasan. Namun apakah anak melihat ayah dan ibunya tetap ikhlas ketika tidak memperoleh jabatan?

Kita berbicara tentang amanah. Namun apakah anak menyaksikan orang tuanya menjalankan amanah kepada keluarga dengan sungguh-sungguh?

Kita berbicara tentang akhlak, tetapi apakah rumah kita menjadi tempat yang menghadirkan kelembutan, penghormatan, dan rasa aman?

Kita juga berbicara tentang Islam Berkemajuan. Namun apakah anak melihat orang tuanya tumbuh menjadi manusia yang terbuka, berilmu, santun, dan bermanfaat karena Muhammadiyah?

Anak mungkin lupa banyak nasihat, tetapi ia jarang lupa terhadap keteladanan.

Karena itulah, kaderisasi yang paling kuat tidak selalu berlangsung melalui ceramah panjang atau modul yang tebal. Kaderisasi tumbuh dari perilaku yang konsisten.

Seorang ayah tidak perlu setiap hari berkata, “Nak, jadilah kader Muhammadiyah.” Jauh lebih kuat jika anak melihat sendiri bahwa Muhammadiyah membuat ayahnya menjadi pribadi yang lebih sabar, bertanggung jawab, mencintai ilmu, peduli kepada sesama, dan tetap dekat dengan keluarga.

Ketika pengalaman semacam itu hadir, Muhammadiyah tidak lagi dipahami anak hanya sebagai nama organisasi. Muhammadiyah hadir sebagai nilai yang ia rasakan dalam kehidupan.

Keteladanan Dimulai dari Pasangan

Kaderisasi keluarga juga tidak hanya menyangkut hubungan antara orang tua dan anak. Ia dimulai dari hubungan suami dan istri.

Seorang suami yang aktif di Muhammadiyah semestinya mampu membuat istrinya merasakan bahwa perjuangan tersebut menghadirkan kebaikan di dalam rumah. Jangan sampai Muhammadiyah hanya dikenal sebagai alasan suami sering pergi, pulang larut, atau selalu sibuk dengan rapat.

Demikian pula seorang istri yang aktif di ‘Aisyiyah. Aktivitas organisasi semestinya membuat keluarga melihat pertumbuhan kedewasaan, kepedulian, dan kualitas dirinya, bukan sekadar bertambahnya agenda di luar rumah.

Keteladanan perlu hadir lebih dahulu daripada ajakan.

Jika seorang suami ingin istrinya memahami Muhammadiyah, ia perlu menghadirkan akhlak Muhammadiyah di dalam keluarga. Jika seorang istri berharap suaminya mendukung perjuangan ‘Aisyiyah, ia perlu menunjukkan bahwa aktivitas tersebut membuat dirinya semakin baik sebagai pasangan.

Begitu pula kepada anak. Orang tua tidak cukup meminta mereka mencintai Muhammadiyah. Jadilah orang tua yang membuat anak berkata dalam hati, “Jika beginilah menjadi seorang Muhammadiyah, saya ingin menjadi bagian darinya.”

Di situlah kaderisasi memperoleh maknanya.

Mewariskan Nilai, Bukan Sekadar Nama

Ada perbedaan mendasar antara mewariskan identitas dan mewariskan nilai.

Orang tua tentu boleh berharap anaknya kelak menjadi kader, aktivis, bahkan pemimpin Muhammadiyah. Namun harapan yang lebih mendasar adalah agar anak mewarisi nilai yang menjadi jiwa gerakan: keikhlasan, amanah, kesederhanaan, keberanian, kecintaan terhadap ilmu, kepedulian sosial, dan semangat berkemajuan.

Anak yang mewarisi nilai akan memiliki fondasi untuk menemukan jalan pengabdiannya sendiri.

Sebaliknya, nama Muhammadiyah tanpa pengalaman yang baik dapat kehilangan maknanya. Anak mungkin mengenal Persyarikatan, tetapi ingatan yang tertanam justru ayah yang selalu pergi, ibu yang selalu sibuk, rumah yang kehilangan percakapan, atau konflik organisasi yang terus dibawa pulang.

Jika demikian, jangan terlalu cepat bertanya mengapa generasi muda menjauh dari Muhammadiyah.

Barangkali pertanyaan yang lebih penting adalah: pengalaman seperti apa tentang Muhammadiyah yang selama ini kita hadirkan kepada mereka?

Kaderisasi Berlangsung di Meja Makan

Sudah waktunya kita memperluas pengertian tentang kaderisasi.

Kaderisasi bukan hanya menyiapkan seseorang agar mampu memimpin rapat, menjadi instruktur, atau menduduki posisi kepemimpinan. Pada tingkat paling mendasar, kaderisasi adalah proses pewarisan nilai, keyakinan, dan semangat perjuangan.

Rumah adalah tempat pertama proses itu berlangsung.

Dari rumah seorang anak belajar salat, membaca, berbicara dengan sopan, menghormati orang lain, berbagi, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Dari rumah pula ia melihat bagaimana ayah dan ibunya memaknai Muhammadiyah.

Bayangkan jika setiap keluarga kader menjadikan rumah sebagai madrasah kaderisasi yang hidup. Ada kebiasaan membaca. Ada percakapan tentang agama dan masyarakat. Ada salat berjamaah. Ada cerita tentang KH Ahmad Dahlan dan perjuangan Muhammadiyah. Ada kepedulian kepada tetangga. Ada kedekatan dengan masjid dan pengajian. Yang lebih penting, ada keteladanan.

Dengan cara seperti itu, kaderisasi tidak hanya berlangsung di gedung atau ruang pelatihan. Ia hidup setiap hari di meja makan, ruang keluarga, perjalanan bersama, bahkan dalam cara seorang ayah mendengarkan anaknya dan seorang suami atau istri memperlakukan pasangannya.

Pulang Juga Bagian dari Perjuangan

Muhammadiyah memang membutuhkan kader yang bersedia berkorban dan mengabdikan waktunya. Namun pengabdian tidak seharusnya membuat keluarga hanya menerima sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa perhatian.

Ada saatnya seorang kader perlu berkata, “Saya harus pulang.”

Bukan karena perjuangannya selesai, tetapi karena ada amanah lain yang juga harus ditunaikan.

Ada anak yang ingin didengarkan. Ada pasangan yang membutuhkan teman berbicara. Ada keluarga yang ingin bertumbuh bersama dalam nilai-nilai yang selama ini kita perjuangkan di luar rumah.

Muhammadiyah tidak akan berhenti hanya karena seorang kader memilih pulang untuk keluarganya. Justru keberlanjutan gerakan akan semakin kuat apabila rumah mampu melahirkan generasi yang memahami alasan mengapa orang tuanya mencintai Muhammadiyah.

Pada akhirnya, keberhasilan kaderisasi tidak cukup diukur dari jumlah peserta pelatihan atau banyaknya kader yang menempati struktur Persyarikatan. Ada ukuran lain yang lebih dalam: berapa banyak anak kader yang dengan kesadarannya sendiri ingin melanjutkan nilai perjuangan orang tuanya, bukan karena dipaksa, tetapi karena mereka telah menyaksikan sendiri keindahan Muhammadiyah di dalam keluarganya.

Karena itu, sebelum bertanya, “Di mana kader-kader muda Muhammadiyah?”, barangkali kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih dekat:

Sudahkah rumah kita menjadi tempat yang membuat anak-anak ingin mengenal, mencintai, dan melanjutkan Muhammadiyah?

Keluarga bukan sekadar tempat seorang kader pulang setelah selesai berjuang.

Keluarga adalah madrasah pertama tempat perjuangan itu diwariskan.

Dan jika madrasah itu berhasil, insyaallah dari rumah-rumah sederhana akan lahir generasi yang menjaga Muhammadiyah, bukan hanya selama kita hidup, tetapi jauh setelah kita tiada.

Wallahu a’lam bish shawab

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalkolommadrasah
Previous Post

Muhammadiyah Medan Genjot Migrasi E-KTAM, Targetkan Seluruh Ranting Tuntas Sebelum Tanwir Palu

Next Post

Agus Taufiqurrahman Tekankan Sinergi dan Kolaborasi untuk Sukseskan Tanwir Muhammadiyah 2026

Next Post
Agus Taufiqurrahman Tekankan Sinergi dan Kolaborasi untuk Sukseskan Tanwir Muhammadiyah 2026

Agus Taufiqurrahman Tekankan Sinergi dan Kolaborasi untuk Sukseskan Tanwir Muhammadiyah 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.