Peran MPI dalam Manajemen Informasi dan Komunikasi Kebencanaan
Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak hanya mengancam keselamatan jiwa dan harta benda, tetapi juga memicu disrupsi informasi di ruang publik. Dalam situasi krisis, kecepatan dan ketepatan informasi menjadi faktor krusial untuk meredam kepanikan serta mengarahkan aksi penyelamatan.
Pengalaman dari penanganan bencana di Sumatera Utara dan Aceh memberikan pelajaran berharga bahwa manajemen informasi dan komunikasi kebencanaan tidak bisa dikelola secara konvensional. Di sinilah Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) memegang peran strategis sebagai garda terdepan dalam dokumentasi, publikasi, dan penyebaran informasi publik yang kredibel.
Doktor Ribut Priadi, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PW Muhammadiyah Sumatera Utara menyampaikan itu pada lokakartya Kebencanaan. Lokakarya yang digelar bersama MDMC/LRB, LazisMu dan MPI dirangkaian dengan pengukuhan 82 relawan bencana Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi langkah strategis untuk menguatakan OMOR (One Muhammadiyah One Respons) di Sumatera Utara.
Sumatera Utara dikenal menjadi satu kawasan rawan bencana, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan angin puting beliung.
Urgensi Manajemen Informasi dalam Krisis Bencana
Dr. Ribu Priadi yang juga Kepala Biro Humas UMSU itu mengatakan, kekacauan informasi (infodemik) sering kali memperparah dampak psikologis maupun teknis di lokasi bencana. Berita bohong (hoaks), simpang siur data korban, hingga lambatnya akses informasi logistik menjadi tantangan nyata di lapangan.
Manajemen informasi kebencanaan hadir untuk memastikan bahwa:
-
Arus Data Valid: Informasi terkait korban, lokasi pengungsian, dan kebutuhan mendesak tersaji secara akurat.
-
Koordinasi Efektif: Menghubungkan lembaga kebencanaan, relawan, pemerintah, dan masyarakat terdampak dalam satu kanal komunikasi yang terpadu.
-
Mitigasi Psikologis: Menghindari kepanikan massal akibat disinformasi dengan menyajikan rilis berita yang menenangkan namun tetap tanggap darurat.
Peran Strategis MPI (Majelis Pustaka dan Informasi)
Sebagai unsur pembantu pimpinan yang membidangi pustaka dan informasi, MPI memiliki tiga pilar utama dalam merespons situasi kebencanaan:
1. Dokumentasi yang Sistematis
Setiap fase bencana—mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana—membutuhkan rekam jejak data yang baik. MPI berperan melakukan dokumentasi visual, audio, maupun tertulis secara sistematis. Dokumentasi ini tidak hanya berguna untuk keperluan pelaporan dan pertanggungjawaban, tetapi juga sebagai bank data (arsip historis) untuk evaluasi dan mitigasi di masa depan.
2. Publikasi yang Cepat dan Kredibel
Publikasi di tengah bencana menuntut kecepatan sekaligus akurasi. MPI mengoptimalkan berbagai kanal media (baik cetak, digital, maupun media sosial resmi) untuk menyebarkan informasi tanggap darurat, posko bantuan terdekat, serta laporan pandangan mata dari lokasi bencana di Sumatera Utara dan Aceh. Publikasi yang masif ini membantu menggerakkan solidaritas publik secara luas.
3. Layanan Informasi Publik yang Transparan
Keterbukaan informasi adalah hak masyarakat, terutama bagi mereka yang mencari kabar sanak saudara di zona terdampak. MPI bertindak sebagai pusat rujukan informasi publik untuk memangkas kesenjangan informasi antara pihak berwenang, media massa, dan masyarakat umum, sehingga penanganan bencana dapat berjalan secara transparan dan akuntabel.
Belajar dari Penanganan Bencana di Sumatera Utara dan Aceh
Ribut Priadi dan beberapa kawan-kawan pengurus MPI Sumatera Utara yang terlibat pada proses penanganan kebencaan di Sumut dan Aceh pada akhir 2025 lalu, menyebutkan, kasus penanganan bencana di wilayah Sumatera Utara dan Aceh menyajikan sejumlah catatan penting yang memperkuat urgensi peran MPI:
-
Penguatan Kapasitas Lokal: Kesiapsiagaan masyarakat lokal dalam mengelola informasi darurat sangat membantu mempercepat proses evakuasi sebelum Tim SAR atau relawan pusat tiba.
-
Kolaborasi Multi-Pihak: Integrasi antara jaringan informasi Muhammadiyah dengan lembaga penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan media lokal mampu menciptakan ekosistem komunikasi yang tangguh.
-
Pentingnya Literasi Kebencanaan: Edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak menyaring dan membagikan informasi terkait bencana di media sosial.
Kata Ribu Priadi yang mantan jurnalis di beberapa media itu menyebutkan, manajemen informasi dan komunikasi kebencanaan bukan sekadar pelengkap teknis, melainkan nyawa dari efektivitas penanganan krisis itu sendiri. Melalui peran aktif Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) dalam mendokumentasikan, mempublikasikan, dan mengelola informasi publik secara profesional—bercermin dari pengalaman di Sumatera Utara dan Aceh—kita optimis bahwa ketahanan bangsa dalam menghadapi bencana dapat terus ditingkatkan demi keselamatan dan kemaslahatan bersama. (Syaifulh/Bess/AH)

