Jangan Merendahkan Nalar Demi Penguasa
Oleh: Jufri
Ada satu pesan yang selalu ingin saya tanamkan kepada anak-anak, baik anak biologis maupun anak ideologis: bagaimanapun kondisi bangsa ini, jangan pernah kehilangan cinta kepada tanah air dan jangan pernah kehilangan optimisme dalam berbangsa.
Saya sering mengatakan kepada mereka, Indonesia adalah kepingan surga yang Allah turunkan ke bumi.
Bukan berarti Indonesia negeri yang sempurna. Kita masih menemukan kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, korupsi, pelayanan yang belum merata, dan berbagai persoalan lainnya. Tetapi Allah menganugerahkan kepada negeri ini tanah yang subur, laut yang luas, kekayaan alam, keindahan yang luar biasa, serta masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Semua itu adalah nikmat yang patut disyukuri.
Karena itu, tugas kita bukan sekadar menikmati keindahan Indonesia, tetapi menjaga kepingan surga itu agar terus menjadi tempat yang membahagiakan bagi seluruh rakyatnya.
Indonesia adalah tanah air kita semua.
Namun, kalimat itu juga mengandung tanggung jawab moral yang besar. Sebab di negeri yang tanahnya luas dan airnya melimpah ini, masih ada rakyat yang tidak punya rumah di rumahnya sendiri, tidak punya tanah di tanahnya sendiri, bahkan tidak ada air di tanah airnya sendiri.
Kalimat itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan berpikir.
Apa arti kemerdekaan bagi mereka yang belum memiliki tempat tinggal yang layak? Apa arti kekayaan alam jika sebagian rakyat yang hidup di atas tanah yang kaya justru masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup? Apa arti tanah air jika air bersih saja sulit mereka dapatkan?
Di sinilah cinta tanah air tidak boleh berhenti pada simbol.
Cinta tanah air harus hadir dalam bentuk keadilan, keberpihakan, pelayanan, kesempatan dan kesejahteraan.
Kepada anak biologis maupun anak ideologis, saya ingin menyampaikan: kalian boleh berbeda pilihan politik, boleh berbeda pandangan terhadap pemerintah, bahkan boleh mengkritik kebijakan yang dianggap tidak tepat. Semua itu bagian dari kehidupan demokrasi.
Tetapi ada satu hal yang harus dipahami sejak dini: cinta tanah air harus lebih tinggi daripada loyalitas kepada pemimpin.
Pemimpin datang dan pergi. Jabatan memiliki masa. Kekuasaan berganti. Pemerintahan berubah. Tokoh yang hari ini dipuji, suatu ketika akan menjadi bagian dari sejarah.
Tetapi Indonesia tetap ada.
Karena itu, jangan sampai mencintai pemimpin membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat kekurangan dan kelemahannya.
Dan kepada anak-anak saya, saya ingin berpesan lebih khusus:
Jika suatu hari kamu berada di barisan penguasa dan ingin mengambil hatinya, jangan merendahkan nalar dan akalmu sendiri hanya demi penguasa.
Jangan karena ingin mendapatkan perhatian, kedekatan, jabatan atau keuntungan, kemudian kamu memuji sesuatu yang sebenarnya kamu tahu memiliki kekurangan dan kelemahan.
Kamu tidak perlu merendahkan pemimpin. Hormatilah kedudukannya. Kritiklah dengan adab. Jangan membangun kebencian kepada siapa pun.
Tetapi yang lebih penting, jangan sampai kamu merendahkan kebenaran.
Ada perbedaan besar antara menghormati pemimpin dan memuja pemimpin.
Menghormati pemimpin adalah etika.
Mempertahankan kebenaran adalah prinsip.
Kita boleh menjaga perasaan seseorang, tetapi jangan mengorbankan kebenaran hanya demi menyenangkan hatinya.
Kita boleh memberikan apresiasi, tetapi jangan mengubah kelemahan menjadi seolah-olah kelebihan hanya karena orang yang melakukannya adalah penguasa yang ingin kita dekati.
Sebab ketika nalar mulai ditundukkan oleh kepentingan, akal sehat perlahan kehilangan kemerdekaannya.
Dan ketika kebenaran mulai diperdagangkan demi kedekatan dengan kekuasaan, yang sebenarnya sedang direndahkan bukan hanya kebenaran, tetapi juga martabat diri sendiri.
Lihatlah ironi sebuah bangsa yang katanya ingin maju.
Guru, yang seharusnya menjadi salah satu fondasi utama kemajuan bangsa, justru sering ditempatkan dalam posisi yang tetap marginal. Guru semakin banyak disibukkan dengan aplikasi, pengisian data, laporan dan pekerjaan administratif, seolah-olah tugas utamanya bukan lagi mendidik manusia, melainkan menjadi petugas administrasi.
Kita tentu tidak menolak teknologi dan digitalisasi. Aplikasi dapat membantu pekerjaan jika dirancang untuk memudahkan. Tetapi ketika teknologi justru membuat guru semakin jauh dari murid karena waktunya habis untuk mengurus administrasi, kita perlu bertanya: sebenarnya pendidikan ini sedang diarahkan ke mana?
Bahkan hampir setiap bulan ada survei. Guru dan tenaga pendidikan diminta mengisi berbagai instrumen, menjawab berbagai pertanyaan, memberikan berbagai data.
Tetapi pertanyaan sederhananya: apa yang kemudian diambil dari survei-survei itu?
Apakah benar-benar menjadi dasar perbaikan kebijakan? Apakah suara guru benar-benar dibaca dan ditindaklanjuti? Ataukah survei akhirnya hanya menjadi angka-angka yang selesai setelah laporan dibuat?
Survei seharusnya bukan sekadar kegiatan mengumpulkan data.
Survei adalah cara mendengar.
Dan kalau kita sudah banyak bertanya tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar, maka persoalannya bukan lagi kekurangan data, melainkan kekurangan kemauan untuk menjadikan data sebagai dasar perubahan.
Bangsa yang ingin maju semestinya menjadikan guru sebagai profesi strategis, bukan sekadar pelaksana kebijakan administratif.
Begitu pula soal kesejahteraan.
Ketika negara memiliki anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan hakim, TNI dan Polri, ketika negara menyediakan anggaran untuk berbagai program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), maka kita tentu berharap negara juga memiliki keberpihakan yang kuat terhadap guru.
Bukan untuk mempertentangkan satu profesi dengan profesi lainnya.
Hakim harus sejahtera agar martabat dan independensi peradilan terjaga. TNI dan Polri harus mendapatkan perhatian karena memiliki tugas penting menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Program pemenuhan gizi juga penting bagi generasi bangsa.
Tetapi guru juga memiliki posisi yang sangat strategis.
Kalau kita serius membangun manusia, maka kita harus serius membangun kesejahteraan dan martabat gurunya.
Jangan sampai guru selalu diminta menjadi pahlawan, tetapi kehidupannya dibiarkan berjalan dengan keterbatasan. Jangan hanya meminta guru memiliki integritas, kreativitas, inovasi dan profesionalisme, sementara beban administratif terus bertambah dan penghargaan terhadap profesinya belum sebanding dengan tanggung jawabnya.
Di sinilah kita perlu berani mengatakan bahwa posisi guru tidak boleh terus ditempatkan pada posisi marginal.
Sebab bangsa yang meremehkan guru sesungguhnya sedang meremehkan masa depannya sendiri.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam satu tahun atau satu periode pemerintahan. Tetapi dari ruang kelas itulah lahir hakim, polisi, tentara, dokter, pengusaha, birokrat, politisi, pemimpin, bahkan para pengkritik pemerintah.
Karena itu, kalau kita ingin Indonesia maju, jangan hanya membangun gedung dan aplikasi.
Bangun manusianya. Bangun gurunya. Bangun martabat profesinya.
Dan jangan sampai kebijakan pendidikan dibuat hanya berdasarkan apa yang mudah dilaporkan dalam aplikasi, sementara realitas guru dan murid di lapangan justru tidak cukup didengar.
Kepada generasi yang akan datang, inilah yang ingin saya wariskan: cintailah Indonesia dengan cara yang dewasa.
Jangan mencintai Indonesia hanya dengan memuji pemerintah.
Jangan pula menganggap kritik sebagai bentuk ketidakcintaan.
Justru karena mencintai negeri ini, kita harus berani mengatakan ketika ada yang perlu diperbaiki.
Jika kelak mereka menjadi pemimpin, semoga mereka tidak bertanya kepada rakyat:
“Mengapa kamu tidak pergi saja?”
Tetapi bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apa yang harus saya perbaiki agar rakyat tidak ingin pergi?”
Dan jika kelak mereka berada di sekitar kekuasaan, semoga mereka tidak bertanya:
“Apa yang harus saya katakan agar penguasa menyukai saya?”
Tetapi bertanya:
“Apa yang harus saya katakan agar kebenaran tetap terjaga, tanpa kehilangan adab dan rasa hormat?”
Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang mendidik generasi untuk menjadi pengikut siapa pun.
Kita sedang mendidik mereka menjadi manusia yang berakal, berprinsip, mencintai tanah air, menghormati pemimpin, tetapi tidak pernah kehilangan keberanian untuk berpihak kepada kebenaran.
Bagi rakyat kecil, Indonesia bukan sekadar nama sebuah negara.
Indonesia adalah rumah.
Dan rumah itu tidak boleh ditinggalkan ketika sedang bermasalah.
Rumah itu harus kita rawat, kita perbaiki, dan kita jaga bersama agar tetap menjadi kepingan surga yang membahagiakan penghuninya.
Karena itu, kepada anak-anak biologis dan anak ideologis saya, pesan saya sederhana:
Cintailah Indonesia lebih dari siapa pun yang sedang berkuasa. Hormatilah pemimpin tanpa memuja. Gunakanlah nalar tanpa kehilangan adab. Bela kebenaran tanpa kehilangan persaudaraan. Dan jangan pernah merendahkan kebenaran hanya demi mengambil hati penguasa.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

