Hijrah yang Tertunda: Ketika Kaderisasi Tidak Lagi Menjadi Kesadaran Peradaban
(Tulisan ke-60 dari Beberapa Tulisan Tentang Kaderisasi)
Oleh: Amrizal
Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Universitas Negeri Medan
Tahun Baru Islam selalu datang dengan suasana yang hampir sama. Mimbar-mimbar dipenuhi seruan hijrah. Spanduk-spanduk dihiasi kalimat motivasi. Media sosial dipenuhi ucapan selamat tahun baru Hijriah. Kita diajak berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih saleh, dan lebih dekat kepada Allah.
Semua itu tentu baik. Namun ada pertanyaan yang jarang sekali diajukan: jika hijrah adalah perubahan, mengapa begitu banyak persoalan umat dan organisasi yang terus berulang dari tahun ke tahun? Mengapa kita begitu bersemangat memperingati hijrah, tetapi sering kehilangan keberanian untuk melakukan perubahan yang sesungguhnya?
Padahal hijrah Nabi Muhammad SAW bukanlah peristiwa seremonial. Hijrah adalah keberanian meninggalkan zona nyaman. Hijrah adalah keberanian mengoreksi keadaan. Hijrah adalah keberanian membangun masa depan yang berbeda dari masa lalu. Di Madinah, Nabi tidak sekadar membangun masjid. Beliau membangun manusia. Tidak sekadar mengatur organisasi. Beliau menyiapkan generasi. Tidak sekadar mengurus hari ini. Beliau merancang masa depan peradaban.
Karena itu, setiap kali Muharram tiba, Muhammadiyah semestinya tidak hanya bertanya tentang berapa banyak kegiatan yang telah dilaksanakan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kita masih sungguh-sungguh menyiapkan kader yang akan melanjutkan perjuangan ini?
Pertanyaan tersebut terasa penting karena di banyak tempat kita mulai menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan. Kaderisasi sering diposisikan sebagai kegiatan tambahan, bukan kebutuhan utama. Ia dijalankan karena kewajiban organisasi, bukan karena kesadaran ideologis. Akibatnya, kaderisasi berlangsung secara administratif, tetapi kehilangan daya transformasinya.
Kita menyelenggarakan pelatihan, tetapi tidak selalu melahirkan kader yang berpikiran jernih. Kita mengadakan perkaderan, tetapi tidak selalu menghasilkan generasi yang memiliki keberanian intelektual. Kita ramai berbicara tentang regenerasi, tetapi sering gagal menumbuhkan pewaris gagasan dan cita-cita.
Lebih jauh lagi, ada kecenderungan yang perlu dikritisi secara jujur. Dalam beberapa ruang organisasi, jabatan perlahan menjadi lebih menarik daripada proses pembinaan. Sebagian orang ingin cepat berada di depan, tetapi tidak sabar ditempa. Ingin memimpin, tetapi enggan belajar. Ingin dikenal sebagai kader, tetapi tidak sungguh-sungguh menghidupi nilai-nilai kaderisasi.
Fenomena ini bukan semata-mata kesalahan individu. Bisa jadi ini adalah cermin dari budaya organisasi yang secara tidak sadar lebih menghargai posisi daripada proses, lebih menghargai tampilan daripada kedalaman, lebih menghargai keramaian kegiatan daripada kualitas pembinaan.
Padahal sejarah Muhammadiyah dibangun oleh orang-orang yang rela menghabiskan hidupnya untuk proses panjang. KH Ahmad Dahlan tidak melahirkan generasi besar melalui jalan pintas. Ia mendidik murid-muridnya dengan keteladanan, kesabaran, dan kedalaman pemikiran. Para tokoh Muhammadiyah generasi awal bukan lahir dari budaya instan. Mereka tumbuh melalui pergulatan ilmu, pengorbanan, dan kesetiaan terhadap cita-cita.
Di sinilah kita perlu jujur mengakui bahwa tantangan terbesar Muhammadiyah hari ini mungkin bukan kekurangan amal usaha, bukan kekurangan aset, bahkan bukan kekurangan sumber daya manusia. Tantangan terbesar kita adalah bagaimana menjaga agar ruh kaderisasi tidak tenggelam di tengah budaya pragmatisme yang semakin menguat.
Pragmatisme itu tampak ketika kaderisasi hanya dipandang sebagai alat mengisi struktur. Tampak ketika ukuran keberhasilan organisasi hanya dihitung dari jumlah program dan pembangunan fisik. Tampak ketika tradisi membaca semakin melemah, diskusi semakin sepi, dan penguatan ideologi semakin terpinggirkan.
Kita hidup pada zaman ketika informasi berlimpah, tetapi kedalaman berpikir justru semakin langka. Banyak orang mudah berbicara tentang Muhammadiyah, tetapi sedikit yang benar-benar memahami jalan pikirannya. Banyak yang mengenal simbol-simbol organisasi, tetapi tidak semuanya mengenal cita-cita besar yang melahirkan organisasi ini.
Akibatnya, yang muncul adalah kader-kader yang aktif bergerak tetapi kurang reflektif, sibuk bekerja tetapi miskin perspektif, dekat dengan struktur tetapi jauh dari substansi. Padahal Muhammadiyah sejak awal bukan sekadar gerakan amal, melainkan gerakan ilmu, gerakan pemikiran, dan gerakan pembaruan.
Muharram seharusnya menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah organisasi. Bukan muhasabah yang berhenti pada laporan kegiatan, melainkan muhasabah yang berani menyentuh persoalan mendasar. Apakah kita sedang membangun kader atau sekadar mengelola anggota? Apakah kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan atau hanya mengisi kekosongan jabatan? Apakah kita sedang membangun peradaban atau hanya mempertahankan rutinitas?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman. Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap peradaban besar selalu lahir dari keberanian melakukan kritik terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, kemunduran sering dimulai ketika sebuah komunitas merasa cukup dengan dirinya dan kehilangan keberanian untuk bercermin.
Muhammadiyah memiliki sejarah panjang sebagai gerakan yang tidak takut melakukan pembaruan. Karena itu, semangat hijrah pada tahun baru Islam hendaknya tidak berhenti pada seruan moral kepada individu. Semangat hijrah harus diterjemahkan menjadi keberanian memperkuat kaderisasi sebagai agenda strategis gerakan.
Kita membutuhkan hijrah dari budaya instan menuju budaya pembinaan. Hijrah dari orientasi jabatan menuju orientasi pengabdian. Hijrah dari kebanggaan terhadap sejarah menuju kesungguhan menyiapkan masa depan. Hijrah dari kader yang hanya aktif menjadi kader yang berpikir. Hijrah dari organisasi yang sibuk mengelola hari ini menjadi organisasi yang serius menyiapkan generasi esok.
Sebab pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak akan ditentukan oleh gedung-gedung yang menjulang, aset yang melimpah, atau struktur yang lengkap. Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh apakah kita masih mampu melahirkan manusia-manusia yang berilmu, berintegritas, berani, dan setia pada cita-cita persyarikatan.
Jika kaderisasi melemah, maka perlahan-lahan ruh gerakan akan memudar meskipun bangunan organisasi tetap berdiri. Tetapi jika kaderisasi terus menyala, Muhammadiyah akan selalu menemukan jalan untuk memperbarui dirinya dan memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Maka makna hijrah yang paling mendesak bagi Muhammadiyah hari ini bukanlah berpindah tempat, bukan pula sekadar memperbanyak kegiatan. Hijrah yang paling mendesak adalah berpindah dari kesibukan mengurus organisasi menuju kesungguhan menyiapkan generasi. Sebab peradaban tidak diwariskan oleh bangunan. Peradaban diwariskan oleh kader-kader yang memahami mengapa perjuangan ini harus terus dilanjutkan.
Wallahu a’lam Bish Shawab

