HAJI ITU ARAFAH, BUKAN DI KA’BAH
Oleh : Anhar Nasution
“Al-hajju ‘arafah” (Haji itu ‘arafah). Demikian salah satu pernyataan Nabi Saw., dalam hadis sahih. Inti haji itu adalah wukuf di ‘Arafah. Bukan Thawaf di Baitullah atau Sa’i bolak-balik dari titik Shafa – Marwah.
Seberapa pentingkah ibadah wukuf itu? Ya sangat penting. Engkau yang berhaji mesti ikut wukuf, meskipun dalam keadaan sakit. Jika tidak, maka engkau gagal/batal berhaji.
Renungkanlah perjalanan hajimu. Dalam keadaan berihram (berbalut dua helai kain kafan), engkau mulai mengayunkan langkahmu dari miqat. Seterusnya —jika engkau melakukan ibadah Tarwiyah pada 8 Zulhijjah–engkau bergerak menuju Mina untuk mendapatkan pengalaman spiritual bermalam dan shalat lima waktu di sana. Atau engkau langsung menju Arafah.
Keesokan harinya setelah tergelincir matahari 9 Zulhijjah barulah engkau mengikuti ibadah wukuf.
Engkau tidak boleh berlama-lama di Arafah. Setelah matahari terbenam, engkau harus tinggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Kesempatanmu di Muzdalifah lebih pendek di banding dengan di Arafah.
Dari Muzdalifah, engkau harus bergerak lagi ke bagian bumi Mina yang lain sebelum matahari terbit untuk melempar Jumroh pada pagi hari 10 Zulhijjah. Di persinggahanmu yang disebut terakhir, engkau harus menginap di tenda Mina selama empat hari. Di situ, engkau memerankan diri layaknya Ibrahim a.s., yang berperang dengan makhluk yang menyesatkan manusia yaitu setan. Engkau harus mengalahkan makhluk jahat ini. Simbol perlawananmu yaitu dengan cara melontar Jumroh selama tiga atau empat hari berturut-turut.
Di tanah ‘Arafah —jika engkau keluar dari tenda— dan bergerak ke Jabal Rahmah, engkau bersama jutaan jamaah haji menyaksikan miniatur Padang Mahsyar. Di sana, engkau menyaksikan demonstrasi Mahsyar. Tahukah engkau Mahsyar? Mahsyar adalah padang yang amat luas di Hari Kiamat. Dihuni oleh umat manusia yang bangkit dari kuburnya masing-masing menunggu hisab (perhitungan pahala dosa) dan mizan (timbangan amal).
Di Jabal Rahmah dan sekitarnya, engkau diperlihatkan gambaran awal Mahsyar. Ambillah tempatmu untuk menyendiri di tanah Arafah. Renungkanlah sedalam-dalamnya! Apa yang engkau lihat dengan mata batinmu? Apa yang engkau rasakan? Apa yang akan engkau sampaikan kepada Tuhan dalam untaian zikir dan do’amu? Engkau adalah makhluk lemah dan sangat lemah di sisiNya. Pangkat, jabatan, kekayaan, status sosial dan atribut duniawimu itu sekarang tidak bergunadi sisiNya. Engkau sama dan sama dengan si miskin dan si melarat atau si budak yang di negerimu engkau anggap tak berguna. Engkau mungkin lebih hina saat ini. Renungkanlah. Kembalilah ke fitrahmu. Jadilah insan dengan kesadaran kemanusiaan yang baru (***)

