• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Toposentrik, Geosentrik, dan KHGT (Tanggapan Kembali atas Tulisan Pakar BRIN & Kemenag RI)

Arwin Juli Rakhmadi Butarbutar

Karakteristik Bulan dalam Naskah “al-Mulakhkhas fī al-Hai’ah” Karya Mahmud bin Muhammad al-Jighminy (w. 618 H/1221 M)

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
22 Mei 2026
in Literasi, Tarjih
0

Karakteristik Bulan dalam Naskah “al-Mulakhkhas fī al-Hai’ah” Karya Mahmud bin Muhammad al-Jighminy (w. 618 H/1221 M)

Oleh: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar – Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU

Al-Jighminy (Mahmud bin Muhammad bin Umar al-Jighminy), wafat tahun 618 H/1221 M adalah astronom dan matematikawan abad ke-7 H/13 M asal Khawarizm, Uzbekistan. Salah satu karya astronominya yang amat populer adalah “al-Mulakhkhas fī al- Hai’ah”. Buku ini banyak dikaji dan dipelajari yang ditunjukkan dengan banyaknya komentar (syarah) atasnya. Selain buku ini, Al-Jighminy juga punya karya astronomis lain yaitu “Quwwah al-Kawākib wa Dha’fuhā”, serta buku “Risālah fī al-Hisāb”, dalam bidang matematika.

Lembar pertama naskah “al-Mulakhkhas fī al-Hai’ah” karya Mahmud bin Muhammad al-Jighminy (w. 618 H/1221 M). Sumber : University of Pennsylvania Libraries (bisa diakses disni: https://archive.org/details/ljs388/page/n7/mode/2up)

Adapun karyanya “al-Mulakhkhas fī al-Hai’ah”, di dalamnya terdapat pembahasan tentang karakteristik bulan (sifat dan fase-fase bulan). Berikut uraian Al-Jighminy tentang hal tersebut,

ومما يعرض للقمر بالقياس إلى الشمس المحاق والزيادة والكمال والنقصان وكسوف الشمس
والخسوف وذلك أن جرم القمر في نفسه كمد مظلم إنما يستضيء بضياء الشمس كالمرآة فيكون نصفه
المواجه للشمس أبدا مستضيئا والنصف الآخر مظلما فعند الاجتماع يكون القمر بيننا وبين الشمس
فيكون نصفه المظلم مواجها لنا فلا نرى شيئا من ضوئه وهو المحاق وإذا بعد عن الشمس مقدارا قريبا
من اثني عشر جزءا أو أقل أو أكثر على اختلاف أوضاع المساكن مال نصفه المضيء إلينا فنرى طرفا
منه وهو الهلال ثم كلما ازداد بعده عن الشمس ازداد ميل المضيء إلينا فازداد ضيائه حتى إذا قابلهما
خرجنا بينهما وصار ما يواجه الشمس يواجهنا وهو الكمال فإذا انحرف عن المقابلة مال إلينا شيء من
نصفه المظلم يأخذ الظلام…

“Dan diantara fenomena yang terjadi pada Bulan jika dibandingkan dengan Matahari adalah al-muhaq (fase bulan mati), az-ziyadah (fase bulan membesar), al-kamal (fase bulan purnama), an-nuqshan (fase bulan mengecil), serta gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Hal itu karena fisik Bulan itu sendiri adalah benda yang gelap dan redup, ia hanya menerima cahaya dari sinar Matahari layaknya sebuah cermin. Maka, separuh bagian Bulan yang menghadap Matahari akan selalu terang benderang, sedangkan separuh bagian lainnya akan selalu gelap. Ketika terjadi konjungsi, posisi Bulan berada di antara kita (Bumi) dan Matahari, sehingga sisi gelapnya menghadap ke arah kita.

Akibatnya, kita tidak dapat melihat sedikitpun dari cahayanya, dan itulah yang disebut fase al-muhaq (bulan mati). Dan ketika Bulan mulai bergerak menjauh dari Matahari dengan jarak sekitar dua belas derajat atau bisa kurang atau lebih, tergantung pada perbedaan posisi tempat tinggal pengamat di Bumi, maka separuh bagiannya yang terang mulai condong ke arah kita, sehingga kita dapat melihat bagian tepinya, dan itulah yang disebut al-hilal (bulan sabit). Kemudian, setiap kali Bulan semakin menjauh dari Matahari, kemiringan bagian yang terang ke arah kita juga semakin bertambah besar dan cahayanya semakin kuat. Sampai ketika Bulan berada pada posisi oposisi (muqabalah), di mana kita berada di antara keduanya (Bumi di antara Matahari dan Bulan), maka bagian Bulan yang menghadap Matahari juga menghadap ke arah kita, dan itulah yang disebut al-kamal (bulan purnama). Lalu, ketika Bulan mulai bergeser dari posisi oposisi tersebut, separuh bagiannya yang gelap mulai condong kembali ke arah kita, dan kegelapan pun mulai mengambil alih…” (lembar naskah ke-22).

Teks di atas menjelaskan tentang mekanika benda langit, secara khusus mengenai sifat fisik Bulan dan siklus fase-fasenya dalam kaitannya dengan posisi Matahari dan Bumi. Karakter dan atau sifat fisik Bulan dijelaskan bahwa Bulan tidak bercahaya sendiri. Bulan adalah benda langit yang gelap, redup, dan padat (kamid muzhlim). Bulan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan cahayanya sendiri. Dalam hal ini Al-Jighminy menggunakan analogi cermin (ka al-mir’ah) untuk menjelaskan bahwa cahaya Bulan yang terlihat di malam hari sebenarnya hanyalah pantulan dari sinar Matahari.

Teks ini juga menjelaskan konsep pencahayaan Bulan. Secara fisik separuh bagian Bulan yang menghadap Matahari akan selalu terang, sedangkan separuh bagian belakangnya yang membelakangi Matahari akan selalu gelap. Perubahan bentuk yang terlihat dari Bumi bukan karena Bulan yang menyusut atau membesar, melainkan karena perubahan sudut pandang kita terhadap area terang tersebut.

Selain itu, siklus fase-fase Bulan juga dijelaskan dalam teks ini, yaitu bagaimana fase-fase bulan terbentuk akibat revolusi Bulan mengelilingi Bumi. Fase-fase itu, sebagaimana dijelaskan dalam naskah ini, yaitu :

 Fase Bulan Mati (al-Muhaq), terjadi saat posisi konjungsi (al-ijtima’), yaitu ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari. Karena bagian yang terang menghadap Matahari (membelakangi Bumi), manusia di Bumi hanya melihat sisi gelapnya, sehingga Bulan tampak hilang.
 Fase Bulan Sabit Awal (al-Hilal), terjadi ketika Bulan mulai bergerak menjauh dari posisi searah Matahari. Pada momen ini, lengkungan tipis dari area yang terang mulai terlihat dari Bumi.
 Fase Bulan Membesar (az-Ziyadah), yaitu seiring bergeraknya Bulan menjauh dari Matahari, area terang yang memantul ke Bumi terus bertambah luas setiap malamnya.
 Fase Bulan Purnama (al-Kamal), terjadi saat posisi oposisi (al-muqabalah), yaitu ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Di fase ini, seluruh bagian Bulan yang disinari Matahari menghadap penuh ke arah Bumi, sehingga tampak bulat sempurna.
 Fase Bulan Mengecil (an-Nuqshan), yaitu setelah melewati purnama, Bulan terus bergerak sehingga bagian gelapnya mulai kembali condong terlihat dari Bumi, memulai fase pengecilan menuju bulan mati berikutnya.

Dengan demikian teks ini menjelaskan fenomena alamiah perubahan bentuk Bulan secara rasional dan matematis. Pemahaman ini sangat krusial masa itu, karena penentuan fase Bulan (terutama hilal dan muhaq) merupakan dasar utama dalam sistem penanggalan Islam untuk menentukan masuknya awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Lembar naskah “al-Mulakhkhas fī al-Hai’ah” karya Al-Jighminy (w. 618 H/1221 M) yang
membahas tentang karakteristik bulan. Sumber : University of Pennsylvania Libraries (bisa diakses disni: https://archive.org/details/ljs388/page/n7/mode/2up)

Uraian Al-Jighminy sekitar tujuh abad silam ini bersesuaian dengan konsep astronomi modern, yaitu bahwa Bulan adalah benda langit gelap yang memantulkan cahaya Matahari ke arah yang berlawanan, dan bahwa separuh bagiannya yang menghadap Matahari akan selalu terang selama tidak ada benda langit lain yang berada di antara keduanya.

Dengan demikian naskah “al-Mulakhkhas fī al-Hai’ah” karya Al-Jighminy ini menunjukkan bahwa tradisi astronomi Islam klasik telah memiliki pemahaman yang matang mengenai karakteristik fisik Bulan dan fase-fasenya. Penjelasan Al-Jighminy tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga dibangun melalui observasi empiris, pendekatan geometris, dan penalaran rasional. Hal ini menegaskan bahwa para ilmuwan Muslim silam telah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan astronomi. Lebih dari itu, pemikiran tersebut tetap relevan hingga kini, baik dalam konteks kajian sejarah sains maupun astronomi modern.
Wallahu a’lam[]

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Previous Post

Delegasi UMS dan PCIM-PCIA Malaysia Pererat Ukhuwah, Jajaki Kolaborasi Internasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.