• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Kriteria, Otoritas, dan Wilayah Keberlakuan dalam Kalender Islam Global

Apa yang Ditinggalkan Seorang Kader?

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
12 Mei 2026
in Kolom
0

Apa yang Ditinggalkan Seorang Kader?

( Tulisan ke-55 Terkait dengan Kaderisasi)

Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Universitas Negeri Medan

Suatu ketika, KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan dengan nada yang sangat reflektif, “Kasihan, kamu ini jadi manusia, sejak muda sampai tua, apa yang kamu kerjakan? Jangan sampai kamu hanya makan, minum, dan tidur saja. Kamu harus punya amal yang bermanfaat bagi orang banyak.”

Pesan Sang Pencerah ini bukan sekadar nasihat moral biasa. Ia adalah gugatan eksistensial bagi setiap orang yang mengaku sebagai kader Muhammadiyah. Saat kita berdiri di depan cermin, atau saat kita hendak menanggalkan jabatan di struktural, satu pertanyaan besar harus kita jawab dengan jujur: “Apa yang sebenarnya saya tinggalkan?”

Sebagai seseorang yang pernah tumbuh di rahim Pemuda Muhammadiyah dan kini berkhidmat di Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), saya sering merenungi makna “jejak”. Di Muhammadiyah, kita tidak kekurangan orang pintar, kita tidak kekurangan orang sibuk, namun kita sering kali merindukan orang yang meninggalkan “bekas” yang bermakna bagi gerak dakwah.

Urgensi Jejak dalam Islam Berkemajuan

Islam Berkemajuan yang kita dengungkan bukan sekadar slogan di atas podium. Ia adalah sebuah etos kerja yang mengharuskan setiap kader untuk menjadi agent of change. Nilai-nilai berkemajuan menuntut kita untuk selalu selangkah lebih maju dalam berpikir dan berbuat.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Dan tuliskanlah apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai oleh Allah bukan sekadar proses saat kita menjabat, tapi atsar atau bekas/jejak yang tertinggal setelah kita tidak lagi berada di posisi tersebut. Urgensi topik ini menjadi krusial di tengah kondisi persyarikatan saat ini. Kita sering terjebak pada rutinitas administratif, rapat ke rapat, seremoni ke seremoni, namun sering lupa membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan.

Refleksi Kondisi: Antara Jabatan dan Pengabdian

Data menunjukkan bahwa amal usaha Muhammadiyah (AUM) tumbuh pesat secara kuantitas. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri: apakah pertumbuhan fisik ini dibarengi dengan pertumbuhan ideologis dan kemunculan kader-kader yang militan?

Sering kali, seorang kader meninggalkan jabatannya hanya meninggalkan tumpukan berkas laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang tebal, namun kering dari substansi pemberdayaan. Ada pimpinan yang ketika masa jabatannya habis, ia seolah “hilang” dari peredaran dakwah. Ini adalah sinyal bahwa ia meninggalkan organisasi bukan karena tuntas menanam benih, melainkan karena merasa “tugas dinasnya” sudah berakhir.

Seorang instruktur kaderisasi pernah berkata kepada saya, “Kader itu seperti garam, ia tidak terlihat tapi rasanya ada di mana-mana. Bukan seperti busa sabun, yang terlihat banyak tapi hilang ditiup angin.” Muhammadiyah saat ini membutuhkan kader yang meninggalkan sistem, bukan sekadar sentimen. Kita butuh kader yang meninggalkan karya, bukan sekadar kata-kata.

Mengkader: Menitip Nafas pada Zaman

Mengkader itu adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada umat dan bangsa. Saat kita mendidik seorang kader muda di Baitul Arqam atau Darul Arqam, kita sebenarnya sedang mengirim “surat cinta” ke masa depan yang mungkin tidak akan pernah kita baca sendiri.

Mengkader adalah cara kita memastikan bahwa cahaya dakwah pencerahan ini tidak padam saat kita sudah kembali ke tanah. Jika seorang Pimpinan Muhammadiyah tidak meninggalkan kader yang lebih baik dari dirinya, maka ia sesungguhnya telah gagal memimpin, meski ia berhasil membangun gedung megah sekalipun.

Sebab, gedung bisa lapuk dimakan usia, namun ruh perjuangan yang dititipkan di dada seorang kader akan terus berdenyut, melintasi batas-batas waktu dan melampaui usia biologis sang guru.

Belajar dari Jejak Para Pendahulu

Kita punya contoh nyata yang luar biasa. Lihatlah bagaimana Buya Syafii Maarif meninggalkan jejak berupa keteladanan dalam kesederhanaan dan kejujuran intelektual. Beliau tidak meninggalkan harta benda yang melimpah, tapi beliau meninggalkan “kader bangsa” yang tersebar di berbagai lini kehidupan, yang semuanya membawa nafas keislaman dan keindonesiaan yang inklusif.

Atau lihatlah kisah sukses para pionir Muhammadiyah di daerah-daerah terpencil. Ada seorang kader di pelosok Papua yang meninggalkan sebuah sekolah kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat sendiri. Puluhan tahun kemudian, sekolah itu telah melahirkan sarjana-sarjana pertama dari suku lokal. Itulah jejak yang nyata. Ia tidak meninggalkan nama yang terpampang di baliho, tapi namanya terukir indah di doa-doa anak-anak yang ia selamatkan masa depannya.

Solusi dan Ajakan: Mari Menanam, Bukan Sekadar Menumpang

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar tidak menjadi “kader lewat” yang kehadirannya tak dirasa dan kepergiannya tak disesali?

  1. Peninggalan Ideologis (Ideological Legacy): Pastikan setiap orang yang bersentuhan dengan Anda di organisasi mendapatkan penguatan ideologi. Jadilah teladan dalam bermuhammadiyah. Jangan hanya bisa memerintah, tapi tunjukkan bagaimana cara mencintai organisasi ini dengan ikhlas.
  2. Peninggalan Sistemik (Systemic Legacy): Jangan hanya bekerja berdasarkan selera pribadi. Bangunlah sistem di ranting, cabang, atau wilayah Anda. Tinggalkan mekanisme organisasi yang sehat, sehingga siapa pun yang memimpin nanti, organisasi tetap berjalan stabil.
  3. Peninggalan Kader (Human Legacy): Inilah yang paling penting. Targetkan minimal Anda melahirkan 3-5 kader yang kualitasnya melampaui Anda. Jadilah mentor, jadilah abang, jadilah sahabat bagi mereka. Berikan ruang bagi anak muda untuk berkreasi, meski terkadang ide mereka terasa “liar”.
  4. Peninggalan Karya (Creative Legacy): Buatlah satu amal nyata yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Baik itu berupa tulisan, program pemberdayaan ekonomi, atau penguatan dakwah digital.

 Menjadi Matahari yang Tak Pernah Benam

Menjadi kader Muhammadiyah adalah pilihan untuk hidup bermakna. Kita adalah pengikut KH. Ahmad Dahlan yang didorong untuk menjadi “Matahari” sesuai lambang kita. Sifat matahari adalah memberi, menyinari, dan tak pernah meminta kembali.

Saat fajar kepemimpinan kita menyingsing, kita bekerja dengan penuh gairah. Namun ingatlah, senja pasti akan datang. Masa jabatan akan berakhir, usia akan menemui batasnya. Saat matahari itu terbenam dari ufuk struktural, pastikan ia meninggalkan warna jingga yang indah di langit sejarah. Pastikan kehangatannya masih terasa di hati para kader junior, dan cahayanya masih membimbing jalan bagi umat yang haus akan pencerahan.

Mari kita berkomitmen: Kita tidak ingin diingat hanya karena jabatan kita. Kita ingin diingat karena ada nyawa yang tercerahkan, ada kemiskinan yang terentaskan, dan ada Islam yang kian berkemajuan karena jejak langkah kita.

Apa yang Anda tinggalkan? Jawabannya ada pada setiap keringat yang Anda teteskan untuk persyarikatan hari ini.

 Wallahu a’lam Bish Shawab

 

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: amrizalkader
Previous Post

Kampus Muhammadiyah Harus Maju dalam Agama, Sains, dan Teknologi

Next Post

Kerjasama UMSU – Bank Sumut, Dorong Kolaborasi

Next Post
Kerjasama UMSU – Bank Sumut, Dorong Kolaborasi

Kerjasama UMSU - Bank Sumut, Dorong Kolaborasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.