• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
347.000 Orang Masuk Islam dalam Lima Tahun di Arab Saudi

Menghadirkan Islam Secara Kaffah dalam Seluruh Dimensi Kehidupan

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
19 April 2026
in Literasi
0
Menghadirkan Islam Secara Kaffah dalam Seluruh Dimensi Kehidupan

INFOMU.CO | Yogyakarta  — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Yayan Suryana, menegaskan bahwa Islam menuntut umatnya untuk menjalankan ajaran agama secara menyeluruh atau kaffah, bukan parsial dan terbatas hanya pada ruang-ruang ibadah semata.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (17/04).

Menurutnya, Al-Qur’an secara tegas memerintahkan kaum muslimin untuk masuk ke dalam Islam secara totalitas sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 208: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.”

Yayan menjelaskan bahwa Islam tidak hanya hadir ketika seseorang berada di masjid, mengikuti majelis taklim, atau saat menjalankan salat dan zikir, tetapi harus mewarnai seluruh aktivitas kehidupan.

“Islam harus kita hadirkan di pasar, di kantor-k kantor, di lembaga pemerintahan, di lembaga pengadilan, bahkan Islam harus kita hadirkan di jalan raya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 107: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Menurutnya, makna rahmat tidak hanya bersifat spiritual dan abstrak, tetapi juga harus tampak nyata dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran dalam berdagang, keadilan dalam memimpin, keputusan hakim yang adil, hingga kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk nyata dari hadirnya rahmat Islam.

“Ketika seorang muslim jujur dalam berdagang, di situ ada rahmat. Ketika seorang pejabat berlaku adil, di situ ada rahmat. Ketika kita menjaga lingkungan dan tidak merusaknya, di situ ada rahmat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan hadis Nabi Muhammad saw: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis tersebut, menurut Yayan, menunjukkan bahwa misi Islam tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga transformasi sosial dan pembentukan akhlak dalam seluruh aspek kehidupan.

Lebih lanjut, ia mengutip Surah Ali Imran ayat 110 tentang identitas umat Islam sebagai umat terbaik: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang mak’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Ia menjelaskan bahwa menjadi umat terbaik berarti hadir di tengah masyarakat untuk membela keadilan, melawan kemungkaran, dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Namun, ia menyoroti bahwa banyak orang masih terjebak pada pemahaman agama yang sempit: rajin beribadah tetapi lalai dalam kejujuran, aktif di masjid tetapi tidak peduli pada persoalan sosial dan lingkungan.

“Rajin berzikir tetapi abai terhadap keadilan sosial. Aktif di masjid tetapi tidak pernah peduli dengan lingkungan sosial kita. Padahal agama menuntut kepedulian sosial, bukan hanya kesalehan individual,” tegasnya.

Ia mencontohkan berbagai bentuk penyimpangan sosial yang masih sering terjadi, seperti praktik kecurangan, korupsi, hingga perilaku membuang sampah sembarangan. Menurutnya, semua itu menunjukkan belum hadirnya nilai Islam secara utuh dalam kehidupan nyata.

Yayan bahkan menyinggung ironi ketika seseorang yang seharusnya menjaga integritas justru terjerat kasus korupsi. Hal itu, menurutnya, menjadi cermin bahwa spiritualitas yang tidak terhubung dengan tanggung jawab sosial akan melahirkan ketimpangan moral.

Ia kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 177: “Bukanlah kebajikan itu hanya menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat…”

Ayat ini, menurutnya, menegaskan bahwa ketakwaan bukan sekadar simbol ritual, tetapi integrasi antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Hal senada juga ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 112: “…kecuali dengan hubungan kepada Allah dan hubungan kepada manusia.”

Menurutnya, manusia akan terhindar dari kehinaan apabila mampu menjaga relasi yang baik dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.

Pada khutbah kedua, Yayan mengajak jamaah untuk terus melakukan evaluasi diri sebagai bagian dari ketakwaan. Ia menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu melihat masa lalu untuk menyusun masa depan yang lebih baik.

“Marilah kita terus berkomitmen membangun ketakwaan dengan cara menghadirkan Islam dalam seluruh dimensi kehidupan. Jadikan iman sebagai pondasi, ibadah sebagai penguat, dan amal sosial sebagai bukti nyata,” ujarnya.

Ia menutup khutbah dengan mengutip sabda Rasulullah saw: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Menurutnya, ukuran ketakwaan yang hidup adalah kebermanfaatan bagi sesama manusia dan alam semesta. Jujur dalam pekerjaan, adil dalam keputusan, disiplin terhadap aturan, peduli kepada sesama, serta menjaga lingkungan sebagai amanah Allah merupakan wujud nyata Islam yang kaffah.

“Islam yang sempurna adalah ketika tauhid, ibadah, dan tanggung jawab sosial hadir secara utuh dalam kehidupan kita,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: ISLAM KAFFAH
Previous Post

Muhammadiyah Kembangkan Industri Kesehatan, Pabrik Infus Berteknologi Italia Segera Dibangun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.