Pakar UMY dan Al-Quds University Tegaskan: Relokasi Bukan Jalan Keluar bagi Palestina
INFOMU.CO | Yogyakarta – Guru Besar Ekonomi Politik Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat menyoroti wacana penerimaan pengungsi dari Gaza dan Palestina yang sempat mengemuka di Indonesia.
Faris menyebut bahwa pendekatan seperti itu perlu dikaji secara lebih hati-hati melalui kerangka politik dan sejarah konflik Palestina.
“Pendekatan kemanusiaan harus dibaca secara utuh. Jika tidak hati-hati, relokasi justru bisa memperkuat agenda politik pengosongan Palestina yang selama ini dikhawatirkan,” jelas Faris.
Menanggapi hal itu dalam agenda Guest Lecture: “Life Under Siege: Resistance & Hope of Palestine” yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa, (13/1), President Al-Quds University, Imad Abu Kishek menegaskan bahwa isu relokasi ini bukanlah solusi atas konflik yang terjadi.
“Sejak awal, strategi yang dijalankan adalah penggantian masyarakat Palestina dari tanahnya. Strategi ini dirancang secara sistematis, dan relokasi sering kali membuat pengosongan wilayah seolah-olah sebagai solusi kemanusiaan,” tegas Imad.
Ia menambahkan bahwa pemaksaan migrasi tidak dilakukan dengan terang-terangan, melainkan melalui tekanan berlapis yang membuat kehidupan warga Palestina semakin rumit.
Tekanan ini meliputi: pembatasan mobilitas, tekanan ekonomi, pengetatan administratif, hingga menuju kepada kriminalisasi terhadap kehidupan sipil.
Pola ini, menurut Imad, terjadi baik di Gaza maupun di tepi Barat. Warga palestina tidak diperintahkan secara langsung untuk meninggalkan tanahnya, namun didorong pergi melalui penciptaan kondisi hidup yang tidak manusiawi dan tidak berkelanjutan.
“Dalam konteks global, praktik ini jarang dikritisi secara mendalam dalam media Internasional. Relokasi kerap diposisikan sebagai jalan keluar, tanpa melihat dampak berkelanjutan bagi keberlangsungan hidup masyarakat Palestina di tanahnya sendiri,” pungkas Guru Besar bidang kebijakan publik itu.
Inilah mengapa, strategi pengosongan wilayah dan relokasi masyarakat setempat tidak berjalan dengan mudah. Melalui penjelasan pakar diatas, Ikatan historis sosial, dan keyakinan kuat terhadap tanah air membuat masyarakat Palestina tetap pada posisinya dan bertahan di tengah tekanan yang berkepanjangan. (muhammadiyah.or.,id)

