Kiyai Tanpa Gelar, Kerendahan Hati, dan Arah Gerakan. Meneguhkan gerakan Islam berkemajuan
Oleh : Jufri
Kiyai Haji Ahmad Dahlan bukan profesor. Bukan doktor.
Ia tidak berdiri di atas gelar akademik, tetapi di atas keteladanan, kejernihan iman, dan keberanian moral. Dari seorang kiyai tanpa gelar itulah lahir Muhammadiyah—gerakan Islam yang memilih jalan mencerdaskan, menyehatkan, dan memanusiakan.
Muhammadiyah tidak dibangun untuk memenangkan perdebatan, melainkan menyelesaikan persoalan umat dan bangsa. Tafsir Al-Qur’an di tangan Kiyai Dahlan tidak berhenti di mimbar, tetapi menjelma menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan kerja-kerja sosial yang nyata. Inilah Islam yang bekerja—tenang, rasional, dan berkemajuan.
Sejak awal, Muhammadiyah adalah gerakan kemanusiaan moderat. Teguh pada tauhid, terbuka pada ilmu, tegas pada prinsip, dan lembut pada manusia. Moderasi bukan sikap abu-abu, melainkan keseimbangan antara keyakinan dan kebijaksanaan.
Waktu berjalan, dan sejarah memberi jawaban. Dari perguruan-perguruan Muhammadiyah hari ini lahir ratusan ribu sarjana, bahkan Profesor dan Doktor. Kampus berdiri dari barat hingga timur Nusantara. Ini adalah kebanggaan yang sah dan buah dari ikhtiar panjang mencerdaskan umat.
Namun di tengah kebanggaan dan gelar akademik para pimpinan Muhammadiyah hari ini, kita tetap perlu bercermin kepada KH Ahmad Dahlan. Bukan untuk mempertentangkan masa lalu dengan masa kini—karena zaman memang telah berubah—melainkan untuk menjaga arah dan kerendahan hati. Sejarah mengingatkan bahwa gerakan besar ini justru lahir dari kesederhanaan jiwa dan keberpihakan pada manusia.
Gelar akademik dalam Muhammadiyah bukan tujuan akhir, melainkan amanah. Semakin tinggi ilmu dan posisi, seharusnya semakin rendah hati. Semakin panjang titel, semakin luas tanggung jawab sosial. Ilmu yang kehilangan adab akan menjauh dari umat; ilmu yang dibingkai kerendahan hati akan selalu menemukan jalannya untuk mengabdi.
Dalam kehidupan bersama, Muhammadiyah juga menegaskan satu nilai penting: persatuan lebih berharga daripada menang dalam perdebatan. Perbedaan adalah keniscayaan, kritik adalah kebutuhan, tetapi semuanya harus diarahkan untuk merawat kebersamaan. Menang argumen mungkin memuaskan ego, namun persatuanlah yang menjaga umat dan bangsa tetap utuh.
Dari kesadaran itulah lahir ‘Aisyiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah—sebuah penegasan bahwa perjuangan harus lintas gender dan lintas generasi. Perempuan dan pemuda tidak ditempatkan di pinggir sejarah, tetapi di pusat pengabdian. Kaderisasi dimaknai sebagai penumbuhan nurani, bukan penajaman konflik.
Dalam konteks kebangsaan, Muhammadiyah tidak pernah memisahkan diri dari Indonesia. Setia pada Pancasila, kritis terhadap kekuasaan, tetapi tidak memusuhi negara. Islam dijalankan sebagai kekuatan moral yang mencerdaskan, menyehatkan, dan mempersatukan.
Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara, nilai-nilai ini menemukan relevansinya kembali. Dari ruang perjumpaan yang majemuk ini, Muhammadiyah diteguhkan sebagai gerakan yang berakal sehat, berhati bersih, dan berjiwa kebangsaan.
Dari Kiyai Dahlan lahir Muhammadiyah.
Dari Muhammadiyah lahir ilmu, kader, dan pengabdian lintas generasi.
Dan dari semuanya itu, pesan utamanya tetap sama: kemajuan harus berjalan seiring dengan kerendahan hati, dan kehebatan hanya bermakna jika tetap memanusiakan manusia.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

