Renungan Kader Menjadi Cahaya dalam Kegelapan
(Tulisan ke-30 Terkait dengan Tema Kaderisasi )
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd – (Wakil Ketua MPK SDI PWM Sumatera Utara / Dosen Unimed)
“Apabila engkau menemukan kebaikan dalam dirimu, jangan menjadi angkuh. Apabila engkau menyaksikan keburukan di sekelilingmu, jangan justru menjauh. Mungkin, Allah tengah memilihmu untuk menjadi cahaya di antara kegelapan.”
Menjalankan amanah organisasi di lingkungan Muhammadiyah merupakan sebuah nikmat yang tidak ternilai. Di dalamnya tersimpan kesempatan untuk beramal saleh, berdakwah, serta membangun peradaban. Namun, tidak dapat disangkal bahwa adakalanya seorang kader merasakan letih. Kelelahan itu bukan hanya disebabkan oleh aktivitas yang padat, tetapi juga karena kenyataan sosial yang sering kali tidak seindah harapan ideal.
Sebagian kader mungkin pernah membayangkan bahwa organisasi ini dihuni sepenuhnya oleh pribadi-pribadi soleh yang ikhlas tanpa kepentingan duniawi. Namun, realitas menunjukkan bahwa dinamika organisasi sangat kompleks. Kita bertemu dengan individu yang lebih mengutamakan kepentingan diri, memilih abai ketika tidak memperoleh keuntungan, bahkan ada yang berani merusak dari dalam.
Pertanyaan pun muncul: Masihkah aku mampu bertahan? Masihkah layak aku terus berjuang dalam jalan ini?
Dakwah Bukan Ruang Pencari Kenyamanan
Dakwah bukan tempat untuk beristirahat, melainkan arena perjuangan. Jalan ini telah ditempuh oleh para nabi serta tokoh-tokoh Islam terdahulu. Mereka diuji dengan penolakan, kemunafikan, bahkan pengkhianatan dari orang-orang terdekat.
Ketika kelelahan menyapa, sejatinya itu merupakan ujian bagi kemurnian niat. Ketika keinginan untuk menyerah muncul, mungkin Allah tengah menyeleksi siapa yang benar-benar berjuang demi dakwah, bukan demi kepentingan dunia.
Muhammadiyah tidak dibangun sebagai arena perebutan kekuasaan. Ikhwal berdirinya Muhammadiyah berlandaskan tauhid dan pengabdian. Maka, menjadi kader Muhammadiyah berarti siap melalui jalan yang terjal: jalan pembaruan, pencerahan, dan perjuangan untuk kemaslahatan umat.
Ketika Kebaikan Difitnah, Keburukan Dipuja
Kondisi sosial kita hari ini sering kali membingungkan. Kebaikan dapat menjadi bahan fitnah, sementara keburukan dirayakan seolah sebuah prestasi. Ketika batas antara benar dan salah kian kabur, saat itulah integritas kader diuji. Apakah akan larut dalam arus, atau tetap teguh menjaga nilai kebenaran?
Jangan mundur. Jangan menghindar. Jika kader yang idealis memutuskan pergi, siapa yang akan mengarahkan organisasi? Jika para pejuang berpaling, siapa yang menjaga Muhammadiyah dari pihak yang hendak menjadikannya alat ambisi?
Bertahan Adalah Jihad
Tetap berada dalam Persyarikatan sambil menjaga semangat pembaruan merupakan bentuk jihad yang nyata. Meskipun tidak terlihat, tidak dipuji, atau tidak diberi posisi strategis, tetaplah menjadi bagian dari gerakan dakwah ini.
Menjadi lilin kecil yang menerangi kegelapan jauh lebih bermakna daripada menjadi obor besar yang hanya mampu bersinar ketika disorot. Jangan mengukur perjuangan dari apa yang diperoleh, tetapi dari apa yang dapat diberikan. Dakwah adalah tentang kontribusi, bukan keuntungan.
“Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya.” (QS. At-Taubah: 105)
Doa Pejuang Kader
Ya Allah, jika jalan ini penuh rintangan, kuatkan setiap langkah kami. Jika keraguan menyelinap, teguhkan kembali hati kami. Bila fitnah melemahkan semangat kami, jadikan kesabaran sebagai penuntun. Jangan biarkan kami pergi hanya karena kecewa terhadap manusia. Bimbinglah kami agar tetap menjadi pejuang yang Engkau ridhoi.
Kader Sebagai Penjaga Peradaban
Persyarikatan ini adalah warisan agung. Ia bukan sekadar peninggalan generasi terdahulu, melainkan amanah untuk masa depan. Jangan biarkan ia dikendalikan oleh ambisi pribadi atau diarahkan demi kepentingan sesaat. Kita merupakan bagian dari rumah besar Muhammadiyah, dan rumah ini tidak akan tegak apabila para penghuninya menghindari tanggung jawab.
Tetaplah menjadi penerang. Sekecil apa pun cahayamu, ia tetap merupakan cahaya, dan cahaya selalu lebih kuat daripada kegelapan.
Teruslah berdakwah, meski hanya dengan sepatah kata. Selama diniatkan karena Allah, engkau telah menyalakan api perubahan.
Teruslah Bergerak Menebar Kebaikan. Kader pencerah tidak menunggu keadaan ideal dialah yang menciptakan kebaikan itu.
Wallahu a’lam bish-shawab.
