Ibn Syathir (w. 777 H/1375 M) dan Konsepsi Tata Surya
Oleh : Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar – Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Ibn Syathir (nama lengkapnya: Alâ’ ad-Din Abu al-Hasan ‘Ali bin Ibrâhim bin Muhammad bin al-Humam bin Muhammad bin Ibrâhim bin Hasan al-Anshâri ad-Dimasyqy) adalah astronom Muslim asal Suriah yang memiliki karya dan kontribusi signifikan baik teori maupun instrumen astronomi. Berbagai literatur menginformasikan kontribusi utama Ibn Syathir adalah bidang mikat (miqat, pewaktuan Islam) dan instrumen astronomi. Dalam bidang instrumen astronomi diantaranya Ibn Syathir menguasai dan bahkan banyak melakukan rekonstruksi sejumlah instrumen astronomi antara lain: astrolabe, rub’ tam, al-basith, shunduq al-yawaqit, al-alah al-jami’ah, jam (as-Sa’ah), dan as-sa’ah an-nuhasiyyah ash-shaghirah. Bahkan instrumen “shunduq al-yawaqit” (instrumen kotak waktu) terhitung sebagai temuan orisinil dari seorang Ibn Syathir.
Namun selain itu ternyata Ibn Syathir juga punya sumbangan penting dalam telaah dan pemikiran teoretisnya tentang tata surya. Terbukti Ibnu Syathir banyak mengembangkan teori seputar alam raya (al-kawn) serta gerak planet-planet di tata surya yang banyak berseberangan dengan konsepsi alam dan tata surya versi Ptolemeus. Profesor Muhammad Shalih an-Nawawy (guru besar astonomi Universitas Cairo) menginformasikan setidaknya ada dua karya Ibn Syathir tentang hal ini yaitu “Nihayat al-Ghayat fi al-A’mal al-Falakiyyat” (Tujuan Akhir Tentang Praktik Astronomi) dan “Kitab Ta’liq al-Arshad” (Buku Catatan Observasi) secara spesifik dua karyanya membahas tentang konsepsi tata surya. Namun seperti dikemuakakan Profesor Muhammad Shalih an-Nawawy, buku “Kitab Ta’liq al-Arshad” kini terhitung telah hilang.
Dalam hal ini Profesor Muhammad Shalih an-Nawawy mengungkapkan bahwa teori tata surya pada dasarnya telah dikemukakan atau setidak-tidaknya disinggung oleh Ibn Syathir di abad ke-8 H/14 M melalui dua karyanya ini. Dalam uraiannya, yaitu pada masalah yang ke-4 hingga ke-7, Ibn Syathir menyatakan bahwa orbit-orbit (planet) tidak bergerak dengan lurus. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan planet-planet tersebut bergerak secara semi-bulat (Arab: ihlijy, syibh da’iriyyah), yaitu dengan mengelilingi Matahari, dimana hal ini sebagai jawaban atas Hukum Kepler I.

Lembar judul naskah “Nihayah as-Sul fi Tashih al-Ushul” karya Ibn Syathir (w. 777 H/1375 M). Sumber: Dar al-Kutub Mishriyyah nomor 50768 Riyadhiyyat Timur 154)
Berikutnya Ibn Syathir menyatakan bahwa Bulan tidak berhenti dan tidak pula bergerak balik, tapi bergerak lamban di setengah puncak yaitu titik terjauh pada orbitnya, dan bergerak secara cepat di setengah perihelion. Dalam ungkapan lain Ibn Syathir secara berulang menegaskan ketiadaan diamnya planet-planet atau bergerak baliknya, akan tetapi sangat cepat ketika berada di perihelion dan lamban ketika di setengah puncak. Ini merupakan Hukum Kepler II. Adapun terkait Hukum Kepler III secara spesifik tidak ditemukan dalam uraian Ibn Syathir, namun telah dikemukakan oleh Nashiruddin al-Thushy dalam karyanya “Mukhtashar fi ma’rifah at Taqawim”.
Adapun urutan planet-planet menurut Ibn Syathir, ia membagi planet pada dua kategori yaitu planet-planet superior (kawakib ‘uluwiyyah) dan planet-planet inferior (kawakib sufliyyah). Planet inferior dimulai dari Bulan, Merkurius, Venus dan Matahari. Sementara planet superior dimulai dari Mars, Jupiter, Saturnus dan terakhir planet atau bintang-bintang ‘diam’. Berikutnya yang mengiringi orbit Bulan adalah orbit api, lalu udara, lalu air, lalu tanah atau Bumi.
Menurut Muhammad Abdul Wahab Jalal (peneliti sejarah sains di pusat riset Prancis di Mesir), Copernicus dalam teorinya tentang bentuk Bumi (bulat) terbukti ternyata komposisi tabel-tabel astronominya sama persis seperti tabel-tabel astronomi yang ditulis Ibn Syathir. Hal senada juga pernah diutarakan Fuad Seizkin dalam kumpulan kuliahnya tentang sains (muhadharat fi tarikh al ‘ulum). Setelah mengurai panjang lebar perseberangan tokoh-tokoh Muslim dengan teori Ptolemaeus tentang tata surya, Seizkin mengatakan, “setelah berbagai penelitian tentang masalah ini, tidak ada keraguan lagi bahwa sebenarnya Copernicus tidak mengetahui teori-teori para astronom Muslim secara terperinci, dalam hal ini Copernicus hanya menukil secara harfiah”.
Selanjutnya David A. King, menyatakan terbukti bahwa sesungguhnya ada banyak teori astronomi yang dinisbahkan kepada Copernicus pada dasarnya bersumber dari sosok Ibn Syathir. Lebih lanjut King menyebutkan, pada tahun 1393 H/1973 M telah ditemukan manuskrip berbahasa Arab karya Ibn Syathir di Polandia (kampung halaman Copernicus) sehingga terbukti dan menjadi jelas bahwa Copernicus menukil dan mengembangkan manuskrip tersebut dan mengklaim bahwa itu sebagai miliknya.
Dalam tulisannya yang lain, King menyatakan bahwa investigasi lebih jauh membuktikan bahwa fakta yang diungkap Ibn Syathir pada pertengahan abad ke-14 M terdiri banyak model yang sudah dikembangakan. Hal tersebut akhirnya mampu mengungkap identitas matematika Copernicus, yang bekerja di Polandia satu abad lebih setelah Ibn Syathir. Meskipun tidak terdapat petunjuk mengenai sistem heliosentrik planet pada tulisan-tulisan Ibn Syathir, tetapi modifikasi lain yang ia miliki tentang geometri Ptolemaeus terlihat sama dengan yang digunakan Copernicus. Hubungan antara keduanya telah terinvestigasi oleh beberapa sarjana dan peneliti pada beberapa tahun terakhir ini. Sementara hubungan langsung antara Copernicus dan tokoh-tokoh astronomi Muslim klasik belum bisa terbukti dan masih meninggalkan berbagai kemungkinan, ungkap King.
Demikian sekilas pemikiran dan sumbangan Ibn Syathir dalam astronomi khususnya dalam konsepsinya tentang tata surya. Melalui pemikiran Ibn Syathir ini menunjukkan bahwa pengkajian tata surya dan alam semesta sesungguhnya bukanlah hal baru, namun telah lazim dikaji dan dibahas di kalangan astronom Muslim silam. Sejatinya masih ada banyak lagi tokoh-tokoh (astronom-astronom) Muslim di dunia Islam yang memiliki telaah dan kontribusi dalam bidang alam semesta dan tata surya antara lain Al-Biruni, Al-Khazini, Al-Thusi, Al-‘Urdhi, dan tokoh-tokoh lainnya. Namun patut dicatat dalam konteks para ilmuwan (astronom) Muslim pengkajian ini, dan juga pengkajian tema lainnya (seperti konsepsi bumi, struktur alam raya, teori pembentukan alam semesta, dan lainnya) bukanlah kajian yang amat penting dalam pengertian sangat prioritas. Berbagai hal ini tidak lebih hanya kajian biasa dengan segenap teori dan uji-eksperimennya masing-masing yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap akidah dan keyakinan seorang Muslim. Justru kajian prioritas para astronom Muslim sebagaimana tampak dalam karya-karya mereka adalah kajian astronomi posisi dan waktu yang berkaitan dengan ibadah seperti waktu-waktu salat, arah kiblat, awal bulan, dan gerhana, yang dikenal dengan kajian mikat (al-miqat). Mikat, pelakunya disebut muwaqqit atau miqaty (juru waktu) merupakan profesi prestisius di peradaban Islam yang memadukan pengetahuan langit, matematika, astronomi, instrumen astronomi, dan fikih, yang tidak semua orang (astronom) mampu menguasainya. Sosok Ibn Syathir sendiri sesungguhnya keahlian dan kepiawaian utamanya adalah bidang ini (yaitu mikat dan instrumen astronomi), adapaun kajian alam semesta dan tata surya seperti diuraikan diatas hanya merupakan telaah dan pengetahuan sampingannya belaka.
Uraian lebih lengkap dan lebih lanjut tentang sosok Ibn Syathir dapat dibaca dalam buku penulis yang berjudul “Astronom Muslim Sepanjang Sejarah Peradaban Islam (Biografi Intelektual, Karya, Sumbangan, dan Penemuan)” [Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, cet. I, 2019 M), halaman 491-535. Wallahu a’lam[]

