• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Agus Sani

Agus Sani

Jika Bukan Sekarang, Kapan? Revolusi Talenta Digital untuk Masa Depan Indonesia

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
12 Juni 2025
in Opini
0
Jika Bukan Sekarang, Kapan? Revolusi Talenta Digital untuk Masa Depan Indonesia
Oleh : Agus Sani, Dosen FEB UMSU
Indonesia tengah berpacu dalam gelombang transformasi digital global. Pemerintah gencar mendorong hilirisasi digital, dengan harapan besar agar teknologi menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Namun, satu fakta yang tak bisa diabaikan: tanpa revolusi dalam pengembangan talenta digital, hilirisasi ini hanya akan menjadi jargon kosong.
Talenta Digital, Bukan Sekadar Karyawan IT
Talenta digital bukan hanya mereka yang bisa menulis kode atau memperbaiki server. Mereka adalah individu yang mampu menggabungkan kemampuan teknis, pemahaman bisnis, dan kepekaan terhadap dinamika industri. Mereka dibutuhkan di semua lini: dari pertanian cerdas berbasis IoT, sistem manufaktur otomatis, hingga analisis big data untuk pengambilan kebijakan. Sayangnya, data menunjukkan masih lebarnya skill gap di Indonesia. Banyak lulusan belum menguasai teknologi seperti AI, cloud computing, big data, dan keamanan siber. Lebih dari itu, pendidikan kita belum cukup membentuk problem solver digital, melainkan masih terjebak pada pola hafalan dan teori yang kaku.
Ketimpangan Akses: Jakarta Tak Sama dengan Jayapura
Ketimpangan pembangunan digital juga memperlebar jarak. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya menjadi pusat pertumbuhan talenta dan industri digital. Sementara itu, wilayah timur Indonesia dan daerah terpencil tertinggal jauh. Kurangnya akses terhadap pelatihan, infrastruktur digital, dan mentorship membuat potensi di daerah terpendam tak tergali.Tanpa intervensi serius, ketimpangan ini hanya akan memperdalam kesenjangan ekonomi dan memperlambat inklusi digital yang sejatinya menjadi roh dari hilirisasi digital itu sendiri.
Brain Drain dan Minimnya Kolaborasi
Ironisnya, talenta terbaik justru banyak yang hijrah ke luar negeri. Mereka tergiur oleh ekosistem kerja yang kondusif, penghargaan yang layak, dan ruang berkembang yang luas. Di sisi lain, sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah masih belum optimal. Kurikulum pendidikan belum agile dalam merespons kebutuhan industri yang berubah cepat, dan dunia usaha pun belum aktif dalam memberi masukan strategis ke dunia akademik.
Belajar dari China: Investasi pada Talenta adalah Investasi Masa Depan
China adalah contoh nyata bagaimana talenta digital menjadi aset strategis negara. Pemerintah mereka all out dalam membangun infrastruktur digital hingga ke pelosok, membentuk digital training hub, dan menggandeng perusahaan teknologi besar untuk menyusun kurikulum praktis. Lebih dari itu, mereka menjadikan pengembangan SDM digital sebagai bagian dari kebijakan nasional yang terukur.
Langkah Nyata untuk Indonesia
Untuk menjawab tantangan ini, Indonesia perlu melakukan revolusi dalam pengembangan talenta digital. Beberapa langkah penting yang harus segera dilakukan:
1. Reformasi Kurikulum dan Metode Pembelajaran
Kurikulum harus adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan industri. Pendidikan tidak boleh lagi hanya fokus pada teori, tapi harus menanamkan soft skill digital, design thinking, serta kemampuan kerja kolaboratif.
2. Pelatihan Berkelanjutan dan Sertifikasi Digital
Program upskilling dan reskilling bagi tenaga kerja perlu diperluas, tidak hanya di kota besar, tetapi juga di daerah. Kemitraan antara pemerintah, edutech, dan perusahaan harus diperkuat.
3. Insentif dan Proteksi bagi Talenta Lokal
Untuk mencegah brain drain, pemerintah perlu memberikan insentif dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi inovator dan talenta digital. Pendanaan riset, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan dukungan terhadap startup lokal harus diprioritaskan.
4. Konektivitas Digital Merata
Tidak ada revolusi digital tanpa internet yang merata. Akselerasi pembangunan infrastruktur digital di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) adalah keharusan, bukan pilihan.
5. Gerakan Nasional Literasi Digital
Literasi digital harus dimulai dari sekolah dasar hingga masyarakat umum. Bukan hanya mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi membangun kesadaran tentang etika digital, keamanan data, dan potensi ekonomi digital.
Penutup: Momentum Tak Datang Dua Kali
Revolusi talenta digital bukan pekerjaan semalam. Tapi jika tidak dimulai sekarang, Indonesia berisiko menjadi penonton di tengah kemajuan ekonomi digital dunia. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Saatnya kita menempatkan talenta digital sebagai fondasi utama pembangunan, bukan sekadar pelengkap. Masa depan Indonesia ditentukan bukan hanya oleh teknologi yang kita miliki, tapi oleh siapa yang mampu menggunakannya dengan cerdas dan bijak.
*** Penulis, Agus Sani, Dosen FEB UMSU, Beliau adalah dosen yang fokus pada isu-isu manajemen         strategic pada perspetif perilaku, digitalisasi dan bisnis sosial.

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: agus sanidigital
Previous Post

UMMAS dan Polres Asahan Jajaki Kerja Sama Strategis di Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM

Next Post

Karang Tangguh Diresmikan, Muhammadiyah & ‘Aisyiyah Gaungkan Ketahanan Iklim Dimulai dari Desa

Next Post
Karang Tangguh Diresmikan, Muhammadiyah & ‘Aisyiyah Gaungkan Ketahanan Iklim Dimulai dari Desa

Karang Tangguh Diresmikan, Muhammadiyah & ‘Aisyiyah Gaungkan Ketahanan Iklim Dimulai dari Desa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.