Demikian dijelaskan pengamat kebijakan publik Aceh Dr. Taufiq Abdul Rahim, Kamis (27/5) yang juga dosen di Unmuha Aceh kepada Infomu.co seputar besarnya dana Silpa Aceh yang mencapai angkan fantastis yakni Rp 3,9 triliun.
Jelas Taufiq, hal ini nenunjukkan bahwa, selama ini dari besaran anggaran Rp 17 triliun lebih banyak digunakan untuk belanja pegawai/birokrasi serta program dan proyek yang menguntungkan secara ekonomi politik, juga kepentingan elite Aceh. Angka nominal Silpa Rp 3,9 triliun lebih sangat besar, dapat dipastikan ini program serta proyek yang tidak menguntungkan secara ekonomi dan politik, juga tidak memberikan dampak balik “fee project”, sehingga ini diabaikan untuk dilaksanakan maka berdampak Silpa yang besar.
Hal ini nenunjukkan Pemerintah Aceh (eksekutif dan birokrasi) tidak pro rakyat, untuk anggaran belanja pegawai/birokrasi biasanya saat sudah disetujui menjadi daftar Isian.
Demikian juga jika dikaitkan dengan alasan ataupun alibi Pandemi Covid-19, ternyata nilai nominal anggaran refokusing Covid-19 tahun 2020 ini yang mengalami 4 kali Peraturan Gubernur (Pergub) Rp 2,3 triliun, yang tidak terpakai atau mengendap di dalam kas Pemerintah Aceh sebesar Rp 1,5 triliun. Jadi penggunaan dana refokusing Covid-19 untuk banyak proyek pencitraan, pemasangan baliho, spanduk, billboard serta iklan media cetak, elektronik dan lainnya serta program tidak menyelesaikan usaha menangani serta mengatasi Covid-19 di Aceh, termasuk memajang pembelian mobil mewah (4 buah) di Posko Covid terhadap pengadaan Ambulan yang tidak terpakai, yang bergerak mobil ambulan biasa, yang mobil mewah “duduk manis”, “wiper kaca depan mobil diangkat, tanda tidak terpakai dan berjemur (modus)”.
Masih menurut Taufiq yang juga pendekar Tapak Suci itu, anggaran refokusing Covid-19 yang tidak tepat sasaran dan tidak dinikmati rakyat Aceh, kecuali orang, kelompok, elite Aceh dan partai politik tertentu, serta kelompok organisasi tertentu. Sehingga secara keseluruhan anggaran belanja publik APBA 2020 juga mengalami Silpa Rp 3,9 triliun lebih, ini sebagai angka yang cukup fantastis. Ini menandakan bahwa tidak dapat digunakan anggaran semakin besar, rakyat Aceh tidak merasakan manfaat anggaran belanja publik dan politik, sepertinya rakyat Aceh tidak ada pemerintah.
Rakyat Aceh mesti sadar, bahwa semakin besar serta meningkatnya Silpa APBA termasuk 2020, ini menunjukkan bahwa, kinerja Pemerintahan Aceh yang gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh yang sedang susah, terpuruk. Kini , pertumbuhan ekonomi tidak bangkit, peredaran uang juga tidak adil serta merata, daya beli masyarakat rendah, perubahan kehidupan hanya usaha masyarakat untuk “survival” mepertahankan hidup, jadi kebijakan Pemerintah Aceh tidak tepat sasaran.

