Pidato Pimpinan Aisyiyah pada Congres ke 28 Muhammadiyah di Medan
Dipidatokan oleh St. Dauchah, Wakil Majelis ‘Aisyiyah
Dalam Congres ke-28 Muhammadiyah, 19-25 Juli 1939 di Medan
“Hai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan kepada kamu satu perdagangan yang dapat melepaskan kamu dari pada siksa yang pedih?
(Yaitu hendaklah) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan (hendaklah) kamu bekerja sungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta benda dan diri kamu. Yang demikian itu baik buat kamu, jika kamu mengetahui.
Janganlah kamu lemah dan jangan kamu dukacita, dan kamulah orang-orang yang paling tinggi, jika kamu beriman.
Barang siapa bekerja baik laki-laki atau perempuan, padahal ia beriman, niscaya Kami akan beri kepadanya penghidupan yang baik”.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Congres yang terhormat,
Di dalam pertemuan ini kita sama bergembira, berombak-ombak nafas menyambut kedatangan Congres Muhammadiyah, Tarjih, ‘Aisyiyah dan Pemudanya di Kota Medan ibu tempat (ibukota) Daerah Sumatra pesisir Timur (Sumatera Utara) tempat centrum (pusat) pertemuan segala bangsa.
Mudah-mudahan Tuhan Allah seru sekalian Alam membuka pintu gerbang rahmat dan berkahnya, sehingga dengan adanya Congres ini bertambah-nambah nampak berkilau-kilaulah syiar Igama Tuhan, Igama Islam.
Congres yang mulia, Encik-encik yang Budiman !
Dari puncak gunung pendiamannya, Majelis Aisyiyah meluaskan pemandangannya ke arah dunia perempuan di Indonesia, maka tertampaklah kepadanya di kalangan kaum ibu, bermacam-macamlah semangat dan tujuan hidupnya.
Didalam masyarakat Indonesia, dimana kaum marhaennya masih tinggal hidup dilingkungi tembok ketakhayulan dan kemusyrikan serta tertutup oleh awan kebodohan, sehingga mereka kalang kabur hidupnya, terlihatlah beberapa golongan kaum putri yang telah insyaf kepada kemunduran bangsanya, serta mereka suka berkurban guna membawa bangsanya ke medan kemulaan dan kesejahteraan, serta terdengarlah suara dari fihak kaum Muslimat, suara permusyawaratan dan perundingan tentang soal pendidikan. Besar dn tinggilah cita-cita mereka terhadap putra dan putri Islam.
Mereka bekerja dan berusaha membanting tulang, siang dan malam pengharapan mereka, di kemudian hari supaya dunia Islam di Indonesia dihiasi pula dengan laki-laki yang berdarah serta berhaluan sebagai umat Islam di zaman keemasan, yang selalu bersedia membela kebenaran, dan yang keberaniannya mengagumkan lawan dan musuhnya, sehingga dari musuh Islam tidak ada seorangpun yang berani mengejek orang Islam. Perhiasan itu agar dapat ditambah eloknya, dengan adanya kaum Muslimat yang sanggup dan cakap membantu usaha pendekar-pendekar Islam, tentara Tuhan, sebagai sikap sahabat-sahabat perempuan di masa hidup Siti ‘Aisyah, isteri junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. di zaman mana turun firman Tuhan: “Sungguh bala tentara Tuhanlah yang akan menang”.
Kebangunan kaum putri Indonesia, sungguh membesarkan hati bagai barang siapa yang benar-benar menghendaki kemajuan bangsa dan umat. Akan tetapi di samping kegembiraan itu aa pula kekhawatirannya, malahan ada pula yang sangat menyedihkan.
Sudah sampai 28 tahun ‘Aisyiyah berdiri dan bergerak serta berjuang di tengah-tengah orang ramai, berlaku sebagai guru, mengajar dan memimpin umat kepada jalan yang benar dengan bersuluh Al-Qur’anul Karim dan SunnahNabi Muhammad s.a.w. serta bersenjata sabar dan taqwa. Biarpun perjalanannya tidak selalu lapang boleh dikatakan kerapkali menginjak ranjau dan duri, akan tetapi tidak pernah berpatah hati meninggalkan medan perjuangan. Tiap-tiap timbul reaksi, dengan segera kita menghadapkan wajah kita kepada Tuhan seru sekalian alam serta berdoa:
“Wahai Tuhanku, Berikanlah ilmu kepadaku dan jangan membelokkan hatiku setelah Tuhan memberi petunjuk kepadaku. Wahai Tuhan! Lebarkanlah dadaku dan permudahkanlah perkaraku dan lepaskanlah ikatan lidahku, supaya mereka faham perkataanku”.
Dengan mengharap pertolongan dari Tuhan Allah, ‘Aisyiyah selalu menyaringkan suaranya, mengajak kepada Umat Islam yang pada masa sekarang umumnya baru ada di dalam mencukupkan bekal keakhiratan masih meninggalkan alat-alat dan syarat untuk keluhuran dan kesucian peraturan Islam. Biarpun suara yang selalu menganjur-anjurkan dan mengajak persatuan serta mengatur dan memperkuat organisasi, guna menangkis invloed yang sangat berbahaya, belum diterima dengan tepuk dan sorak, akan tetapi ‘Aisyiyah tidak akan putus asa karena keyakinan dan kepercayaannya kepada firman Allah:
“Dan kemuliaan itu kepunyaan Allah dan pesuruh-Nya serta kaum Muslimin, akan tetapi sesungguhnya orang munafik tidak sama mengerti”.
Congres yang berbahagia,
Kemiskinan dan kebodohan rakyat Indonesia sangat menyedihkan dn memilukan hati kadang-kadang sampai mencucurkan air mata. Setiap detik terdengarah keluh kesah jiwa rakyat Indonesia, meminta perlindungan dan pertolongan kepada Khaliqul ‘Alam. Dari kesengsaraan hidupnya, mereka ridha menjual anaknya, mengingat keadaan yang menghancurkan hati ini Aisyiyah bekerja bersungguh-sungguh merebahkan tembok kemusyrikan dan menyapu awan kebodohan yang melingkungi dan menutup kehidupan mereka, Aisyiyah tidak akan merasapuas, sebelum Agama Islam, Agama yang menjadi suluh Alam, berkembang di seluruh Indonesia. Dengan sabar dan tawakkal Aisyiyah menanti masanya, bilakah udara Indonesia dipenuhi dengan suara membesarkan nama Allah.
MEMBERANTAS BUTA HURUF
Sidang yang mulia!
Suatu kegembiraan yang membesarkan hati dibeberapa Cabang dan Grup Bagian Aisyiyah telah membuka Cursus Buta Huruf. Usaha inilah yang akan menambah cepat kemajuan umat dan bangsa. Dengan menyelidikan yang sungguh-sungguh maka nyatalah bahwa maju dan mundurnya bangsa itu tergantung kepada banyak dan sedikitnya si buta huruf. Sesungguhnya Cursus memberantas buta huruf itu sudah lama sekai diputuskan dalam Congres Aisyiyah, keputusan mana bersandar kepada wahyu Tuhan yang bertama kali diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad s.a.w. “Bacalah nama Tuhanmu yang menjadikan kamu”.
Perlu pula diterangkan di sini, bagaimana negeri beruang, negeri Russland, berubah nasib si buta huruf. Tiap-tiap guru diwajibkan mengajar membaca sebanyak orang yang sudah ditentukan. Di samping Leerplichtwet bagai anak-anak, tertulis leerplichtwet mem baca bagai orang-orang tua. Jangan ditanya lagi lectuur atau buku bacaan, yang isinya diukur dengan pel pengetahuan rakyat. Di muka anak-anaknya, orangtua-orangtua itu di-examen, menceriterakan isi buku yang telah dibaca, dan diadakan pertanyaan pula tentang pendapat mereka terhadap isi buku-buku yang sudah mereka baca. guna menjaga jangan sampai anaknya mendapat malu, buku-buku itu dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh orangtua itu.
“Bacalah namaTuhanmu yang telah menjadikan kamu”, berfirman Tuhan. Jikalau kita sudah insyaf akan besarnya faedah dan arti perintah ini, tentu usaha tidak sekali-kali akan ditinggalkan, biarpun pada waktu sekarang masih sukar dikerjakan. Alangkah utamanya apabila pendekar-pendekar pena Indonesia bekerja bersama-sama dengan pergerakan-pergerakan yang sama berusaha memberantas buta huruf, mengarang lectur atau mengisi surat kabar, guna menuntun rakyat Indonesia dari kejahilan ke medan pengetahuan, tuntunan kesehatan roh dan badan.
Sidang Congres yang mulia!
Kabar kegembiraan kami sajikan dalam rapat operbaar ini. Guna mempermudahkan berjalannya keputusan Congres hal memberantas buta huruf, utusan Pengajaran di Majelis ‘Aisyiyah Daerah Ibu Tempat, pada bulan Agustus 1938 dengan pertolongan Allah telah membuka Sekolah anak-anak yang terlantar tentang ilmu dan pendidikannya dengan gratis. Dengan jalan ini kami dapat juga memelihara fikiran yang sehat, otak yang tajam, serta aanleg atau kecakapan di kalangan anak-anak yatim, fakir dan miskin. Sungguh kami berkeyakinan nahwa mereka dikemudian hari, jika mendapat pendidikan yang sungguh, akan menjadi kawan kita, menjadi pahlawan-pahlawan Islam, pembela kebenaran. Sebaliknya jikalau mereka tidak diberi pelajaran dan pendidikan, boleh jadi mereka di waktu yang akan datang memusuhi perintah Allah dan berbahaya bagi masyarakat. Maka pengharapan kami, mudah-mudahan semua pergerakan di Indonesia sefaham dengan pendapat kami, sehingga sehabis Congres, dimana-mana tempat berdirilah Yatimschool. Buah fikiran seorang pujangga di negeri Cina pantas diperhatikan, disimpan dalam-dalam di hati sanubari: “Rakyat itu akar bangsa, Jikalau akarnya sehat, pohonnyapun sehat pula”. Sekali lagi seruan kami majukanlah pelajaran membaca di kalangan umat dan bangsa kita.
SEKOLAH RUMAH TANGGA
Sidang Congres yang berbahagia,
Jikalau kita suka memikirkan dan mengenangkan, begitu juga suka memandang di kanan kiri kita, maka nyata dan teranglah bahwa soal rumah tangga itu suatu soal yang amat penting. Ada sekali tertulis dalam orgaan: “De Keuken is het kenmerk van het karakter der vrouw” (Akan mengetahui perangai perempuan, lihatlah dapurnya). Buah pikiran ini memberi pelajaran kepada kita bahwa tiap-tiap perempuan itu harus mengerti memegang dapur. Di tanah Amerika tiap-tiap anak perempuan, disamping belajar ilmu pengetahuan umum, ilmu bekal guna mencari rezeki, dipentingkan pula pelajaran kerumah-tanggaan.
Encik-encik yang termulia!
Di dalam kalangan ‘Aisyiyah sekolah rumah tangga (Huishoudschool) mulai berkembang. Dari giat dan kerasnya usaha Bagian ‘Aisyiyah Cabang Klaten, pada tanggal 1 September 1938, menyusul kemajuan Bagian ‘Aisyiyah Cabang Solo dan Bagian ‘Aisyiyah Cabang Tegal, dengan membuka Inheemse Huishoudschool. Sungguh suatu keuntungan yang besar bagai ‘Aisyiyah Cabang Klaten, dapat menerima pembantu dari yang mulia R.A.T. Mertanegara, isteri dari Tuan Regent di Klaten menjadi pengamat-amat, serta sumbangan tenaga dan fikiran dari Tuan S.O. Gouvernement dan Tuan R.Ng. Sosrosoegondo, pun Tuan S.O. Kasoenanan membantu menyusun peraturan-peraturannya.
Mudah-mudahan Tuhan Allah menerima serta membalas amal beliau-beliau tadi. Kami berkeyakinan bahwa Cabang Klaten sangat bersyukur kepada Allah dengan adanya guru di Huishodschool itu dari anak-anak ‘Aisyiyah Klaten sendiri, seorang keluaran dari Huishoudschool Solo dan seorang keluaran dari Madrasatul Mu’allimaat Yogyakarta. Pengharapan kami anak-anak keluaran Sekolah Rumah Tangga di kalangan ‘Aisyiyah di kemudian hari dapat memberi faedah yang besar kepada pergerakan kita. Pada masa sekarang ini pergerakan kita ‘Aisyiyah sangat menghajatkan guru-guru untuk memberi pelajaran memegang rumahtangga di dalam kalangan Nasyi’atul Aisyiyah atau Pemuda kita, dan di dalam Sekolah Menengah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai keputusan Congres ke-27 di Malang.
CITA-CITA ‘AISYIYAH
Congres yang terhormat,
Sungguh tinggallah cita-cita ‘Aisyiyah terhadap puteri Indonesia, Kandidat Pengasuh Ummat dan Bangsa. Kami katakan lagi: Perbaikan pendidikan selalu diutamakan, siang dan malam senantiasa dikenang-kenangkan, dan dihargai sebagai yang tertulis dalam buak pena seorang ahli syair:
Zalig, wie eenmoeder hebben,
Die op het levenskronkelloed,
‘t Zit hij rejzen moog of ebben,
‘t Kuikjen voor het strand behoed.
Moederliefde is de eerste zegen:
Roos aan onze pelgrimstocht,
Bloemperk in de doornendreven,
Lichtstraal in de nacht van ‘t leven,
Rustpunt op de tocht naar het graf.
Artinya: “Berbahagialah, barang siapa mempunyai ibu, yang dapat menjaga, jangan sampai anaknya terkandas dalam perjalanan di lautan hidup, biarpun sedang tinggi maupun ketika rendah airnya, cinta sayang seorang ibu itu suatu rahmat yang paling mulia, diumpamakan: sebagai bunga tempat bunga-bungaan di tengah-tengah ladang duri, sebagai sinar penerangan di masa gelap gulita hidupnya, sebagai tempat istirahat di jalan ke kubur”.
Encik-encik yang budiman!
Berulang-ulang datanglah syak dalam hati kami, bilakah hasil usaha perjuangan kita. Maka dengan segera datanglah jawaban:
“Sesudah kamu memutuskan sesuatu perkara, (kerjakanlah), maka berserahlah kepada Allah”
Seketika itu juga hati merasa tenteram, kesemuanya hendak bekerja semakin kuat. Kita hanya wajib bekerja, sehingga sampailah ajal. Kalau kita sudah pulang ke Rahmatullah, anak cucu kitalah yang harus mewaris cita-cita kita, dan meneruskan usaha kita, dengan keinsyafan kepada kewajibannya sebagai seorang Islam.
PERBAIKAN MASYARAKAT
Congres yang termulia!
Berat sekali tanggungan kita ditentang memperbaiki masyarakat kaum perempuan di Indonesia, guna menciptakan alam baru, bangsa yang bersemangat, yang hidup rohnya, tahu harga diri, ‘Aisyiyah menyediakan ladang penyebar benih ilmu pengetahuan dan pendidikan yang berwujud Madrasah-madrasah dan pergerakan pemudanya atau Nasyi’atul Aisyiyah.
Perlu diutarakan di sini, kemajuan onderwijs di daerah Minangkabau, di Cabang Padang Panjang, agar menjadi tauladan dan percontohan. Memang dari dulu sampai sekarang daerah Minangkabau selalu memegang record dalam percaturan hidup di dalam pergerakan Aisyiyah dalam percaturan hidup di dalam pergerakan agama diperhatikan benar-benar. Maka selain dari Madrasatun Niswah Aisyiyah di Padang Panjang telah membuka sekolah Ibtidaiyah untuk melanjutkan pelajaran murid-murid keluaran dari Volksschool atau Sekolah Desa, di mana selain dari pelajaran agama, dipelajarkan juga bahasa Arab dan bahasa Belanda serta ilmu umum lanjutan dari Volksschool. Untuk anak-anak dari Vervolgschool, disediakan pula dua macam Madrasah Tsanawiyah, Driejerige dan Vierjarige Cursus, dimana mereka menerima pelajaran Keagamaan, ilmu umum, huishouding, bahasa Arab, Belanda dan Inggris serta organisasi. Tak lain doa kami, mudah-mudhan berhasillah usaha mereka dan di belakang hari dunia Islam di Indonesia dapatlah menganyam buah hasilnya.
Encik-encik yang termulia,
Berulang-ulang dikalangan kita diserukan bahwa bahasa Arab itu menjadi pertalian alam Islam, serta bahasa Inggris itu menjadi jembatan perhubungan dengan pergerakan luar tanah Indonesia. Lagi pula pemuka-pemuka pergerakan kita tidak berhenti menganjur-anjurkan supaya kedua bahasa tadi dipelajari dengan semasak-masaknya. Akhir-akhir ini terdengarlah bisikan di kalangan kita demikian: “Sudah perlukah Aisyiyah mencampuri Tarjih, sidang alim ulama di kalangan Muhammadiyah?”
Sesungguhnya semangat ini bukan semangat baru lagi hanya pada masa sekarang semangat-semangat ini lebih kuat, sampai diusulkan supaya diperundingkan dalam sidang besloten Aisyiyah dalam Congres ini. Berapa besar keuntungan dunia Islam, dengan adanya kaum putri yang faham benar-benar tentang hukum syar’i. Kami percaya bahwa dikemudian hari soal-soal hukum agama yang berangkutan dengan dunia keputrian dapat diselidiki sendiri oleh yang berkepentingan. Pengharapan ‘Aisyiyah ini bukan perkara yang ganjil. Tidak sedikitlah perempuan-perempuan yang ahli tentang pengetahuan agama yang telah diriwayatkan di dalam tambo Islam, sebagai Siti ‘Aisyah sumber pertanyaan Hadis. Mengingat soal ini terkenanglah pendapat setengah dari bangsa kita bahwa ketinggian pengetahuan itu berbahaya bagi kaum perempuan. Ada yang mengatakan, bahwa rumh tangga perempuan yang terpelajar itu kocar kacir. Untuk menjelaskan keterangan ini, perlu kutipan dari “Soeara Semarang” yang menulis seperti di bawah ini kami haturkan:
“Satu surat kabar Indonesia menganjur-anjurkan, supaya gadis-gadis Indonesia suka menerjunkan diri dalam journalistiek atau mengarang dalam surat kabar. Anjuran sebagai itu baik pers kita jangan lakukan, kalau tidak mau mengajar, gadis-gadis kita menjadi bengkeng, cerewet, banyak cingcong dan ambek (besar kepala) dan membikin kaum pemuda semakin takut berkawin”.
Sesungguhnya faham yang semacam ini kami sukar sekali akan mempersetujuinya. Bukankah pahlawan-pahlawan yang tenang serta gagah berani, yang senantiasa nampak-nampak di dalam segala perjuangan itu, karena menerima bantuan fikiran dan penghargaan dari kaum perempuan? Bukankah sejarah George Washington, pahlawan kemerdekaan tanah Amerika, tiap-tiap beliau hendak melangkah, menjalankan sesuatu pekerjaan, biarpun sebenar-besar dan seberat-berat pekerjaan, beliau tidak meninggalkan berembug pula dengan istrinya? Dan bukankah seruan Sitti Asma kepada anak-anaknya selalu diperdengungkan oleh jago podium: “Hiduplah dengan mulia atau matilah di dalam membela”.
Belum cukupkah jasa Madame Chiang Kai-shek (Soong May-ling) sepanjang masa pertempuran Jepang dan Cina? Bukankah Sarayani Naidi itu tangan kanan dari Mahatma Gandi? Jikalau nama-nama perempuan yang berjasa kepada bangsa dan tanah air kami terangkan, tentu boleh jadi menghabiskan waktu.
Encik-encik yang bijaksana!
Pepatah Belanda mengatakan: “Holle vaten klinken ‘t meest”, bersetujuan dengan pepatah Melayu: “Mericik tanda tak dalam”. Biasanya perempuan yang ahli fikir itu tak ubahnya dengan laki-laki yang sepadan semangatnya, berkata isinya banyak dengan perkataan yang sedikit. Apabila kebenaran pendapat seorang Indonesia tadi nyata, semua negeri yang mementingkan sekali kepada pendidikan putera dan puterinya, sudh menutup pintu gerbang sekolah tingginya bagi gadis-gadis.
Mudah-mudahan faham yang semacam ini tidak merta di tanah Indonesia.
PENYIARAN ISLAM
Buah pendidikan Al-Islam dan pelajaran Al-Qur’an ialah menghidupkan rasa cinta sayang kepada sesama hamba Allah di dalam hati sanubari umat Islam serta membangunkan roh berkurban.
Sidang Congres yang mulia,
Soal memperbaiki nasib bangsa tak ada sunyinya, menjadi agenda di dalam Openbaar Vergadering dari segala pergerakan Indonesia. Dari pembicaraan lahirlah bermacam-macam pendapat tentang tangga kebahagiaan yang harus dialui, bahwa pelajaran dan pendidikan Nabi Besar, dapat melepaskan manusia dari kungkungan kebodohan kepada kebahagiaan. Mengingat evolutie atau perubahan bangsa Arab. Dari pimpinan dan pelajaran Al-Qur’an, dai penggembala kambing mereka dapat menjadi jenderal yang tidak kurang gagahnya dari pada jenderal di benua Barat. Siapa yang tidak kenal Salahuddin lawan Richard Leeuwenhorst? Di kalangan orang Islam tak kurang-kurang terdapat juara pena, musikus, Insinyur, Meesters in de rechten (ahli hukum), bouwmeesters (ahli bangunan), juru syair, ahli kimia dan sebagainya. Maka kami umat Islam di Indonesia mempunyai kepercayaan yang penuh apabila bangsa kita mendapat tuntunan dan pelajaran wahyu Ilahi akan bangun dan hidup juga keinsyafannya bahwa orang Islam iu sebenarnya menjadi khaifah di muka bumi. Di samping berbakti kepada Tuhan Allah mereka tidak akan melupakan urusan dunianya. Rajin mencari rezeki, gemar memikirkan keindahan dan faedah alam. Memang hanya dengan pimpinan Ilahi, orang dapat merubah nasib bangsa.
Congres yang terhormat!
Guna menghasilkan cita-cita kita, tentu saja kita menghajatkan sangat kepada tenaga, pikiran dan harta benda. Maka kami berseru kepada segenap kaum Muslimat, baik yang ada di dalam atau di luar persyarikatan, suka menunjang serta membantu dan bekerja bersama-sama dengan Aisyiyah, menyiarkan cahaya kebenaran di seluruh Indonesia. Sebenarya kami tidak boleh melupakan perintah Nabi: “Ballighu ‘anni wa lau ayah”. Jikalau perintah ini kami junjung tinggi, tak boleh tidak, pelajaran Islam lekas berkembang di Indonesia.
TAMBAHNYA CABANG DAN GRUP BAGIAN AISYIYAH
Sungguh gembira dan besarlah hati kita setelah kami menerima verslag tentang berdirinya ‘Aisyiyah di Idi Rayeu di daerah Aceh, dari inisiatifnya kaum ibu yang terkemuka di tempat itu, yang memang telah insyaf kepada faedah persatuan umat Islam. lebih-lebih jikalau kita memikirkan bahwa leden-nya yang terbanyak terdiri dari kaum ibu bangsa Aceh sendiri. Langkah yang pertama guna memajukan Aisyiyah, maka mereka membuka Cursus membasmi buta huruf karena baru sebagian kecil dari mereka yang tahu tentang membaca dan menulis huruf latin serta mengerti bahasa Indonesia. Besemangatlah Cursusnya agama yang dipimpin oleh tiga orang guru keluaran dari Medan. Di Idi Rayeu biarpun Aisyiyah belum dimintakan pengesahannya dari Majelis Aisyiyah, akan tetapi Pimpinan dari Majelis Aisyiyah sangat diperhatikan, dimana juga terdapatnya, biarpun hanya tertulis dalam S.A. (Suara Aisyiyah) sebelum mereka menerima officieel orgaan S.M. (Suara Muhammadiyah). Sikap yang semacam ini pantas menjadi percontohan Cabang dan Grup lain-lainnya. Kami ulangi sekali lagi, atas tertariknya kaum ibu bangsa Aceh kepada pergerakan kita itu, kami wajib bersyukur kepada Allah S.w.T., karena ini seolah-olah boleh kami pandang sebagai terkabulnya doa kita, yang berulang-ulang diserukan di dalam Congres dan di dalam Konferensi, supaya Tuhan Allah membuka mata hati saudara penduduk tempat, yang sudah ada Aisyiyahnya, akan tetapi beum suka memasukinya dan supaya mengerti kepada kebesaran maksud kita.
Pada masa sekrang ini masih banyaklah Cabang atau Grup Bagian Aisyiyah yang sekutunya terdiri dari orang dagang saja. Sudah barang tentu kemajuan Aisyiyah tidak dapat tetap, terbawa oleh perubahan pengurus atau berganti-gnti sekutu. Maka sekali lagi dengan menyusun sepuluh jari kami mendoa kehadirat Tuhan: “Wahai Tuhanku, berilah tambah sekutu dan kaum Aisyiyah dari penduduk tempat itu sendiri”. Aamiin.
Kita mengucapkan selamat kepada berdirinya Aisyiyah di kota Mataram di pulau Lombok. Gerakan yang sedang diperhatikan oleh bestuur-bestuurnya, yaitu pergerakan Nasyiatul Aisyiyah, pemuda, Aisyiyah,
Memang perlu sekali adanya pergerakan anak-anak disamping pergerakan Aisyiyah. Dari merekalah selalu kami nanti-nantikan, akan keluarnya kaum putri yang berjasa kepada umat dan bangsa. Dari kalangan mereka pula kita harapkan akan datangnya pemimpin-pemimpin juara pena, jago podium, propagandist dan mereka yang sua mengorbankan tenaganya. Mengingat pengharapan kita terhadap mereka, maka pelajaran dan pimpinan kita kepada mereka memang selalu kita perhatikan benar-benar, sehingga tiap-tiap Congres tentu ada agenda Nasyiatul Aisyiyah, baik dalam openbaar maupun dalam beslotenvergadering. Di dalam Congres ke-27 di Malang kita dapat memutuskan mengadakan buku-buku, handleiding pegangan pemimpin Nasyi’ah. Dan alhamdulillah sedapat mungkin putusan ini sudah dapat dijalankan oleh Majelis Aisyiyah, karena Majelis Aisyiyah yang diserahi mengerjakannya. Mudah mudahan adanya handleiding itu dapat menambah kemajuan Nasyiatul Aisyiyah serta dapat mempermudahkan usahanya.
Sidang Congres yang terhormat!
Nyatalah sudah bahwa semangat memajukan Aisyiyah hiduplah di seluruh Indonesi. Bermacam-macam cara dan jalan yang diambilnya. Dengan terang dan nyata nampaklah bahwa kita kaum isteri suka bekerja untuk menyiarkan agama Islam, dan telah insyaf bahwa tinggi dan rendahnya derajat kaum isteri itu tergantung kepada tebal dan tipisnya kepercayaan, serta baik dan buruknya moral atau akhaknya. Maka tak mengherankan jikalau beberapa Cabang dan Grup selain dari memajukan Cursus-Cursusnya juga seringkali membuka tabligh umum atau tabligh akbar dipersedikan bagi sekalian kaum perempuan, yang hasinya menyenangkan pula. Terbawa oleh rasa keinginan mempunyai bala tentara yang luas pengetahuan igamanya serta mengerti tentang ilmu umum, guna menambah pest kemajuan Aisyiyah, berdirilah di Cabang dan Gup Madrasah-madrasah yang hanya melulu mencukupkan hajat ini; biarpun keadaannya pada waktu sekarang masih jauh dari sempurna, akan tetapi perbaikan terus diperhatikan.
LECTUUR PEREMPUAN
Kepentingan masalah ini sudah pernah dipidatokan dan dianjurkan di dalam Congres yang ke-21 di Makassar. Akan tetapi sayang sekali, sampai sakarang belum nampak buahnya. Kaum ibu di negeri Barat telah insyaf kepada kebesaran dan kepentingan lectuur perempuan bagi mereka, terbukti dari usaha mereka, mempertimbangkan dan menghidupkan surat-surat kabarnya serta pemandangan kaum puteri di Amerika terhadap lectuur. Mengambil dari kitab-kitab “Een halfjaar in Amerika” Biasanya kaum ibu di negeri dollar itu tidak mempunyai pelayan. Pekerjaan yang besangkutan dengan rumah tangga, biarpun yang halus maupun yang kasar dikerjakan sendiri. akan tetapi biarpun urusannya sehari-hari itu lebih repot daripada kita, mereka dapat pula mengunjungi rapat-rapat, mendatangi leeskring, atau membaca buku-buku di rumah, buku mana yang bersangkutan dengan kaum ibu, pendidik bangsa.
Oleh karena itu lahirlah beberapa Journalist dan juara pena perempuan, yang berani berlomba-lomba dengan kaum lelaki.
Di kalangan dunia kaum terpelajar terkenallah nama Beecher Stowe, seorang perempuan yang dapat membangunkan rasa belas kasihan kepada nasib budak belian di Z.. Amerika, sehingga menyalalah api peperangan di antara Z.. dan N. Amerika, guna melepaskan si celaka dari belenggu perbudakan tak perlulah kiranya di sini sebutkan juara pengarang dri kaum perempuan.
Jikalau kaum perempuan suka membaca buku-buku yang mengandung ilmu pendidikan, pengetahuan rumah tangga, tuntunan hidup dalam masyarakat, tentu pekerjaan upat puji akan lenyap dengan sendirinya, sedikitnya kurang meraja lela. Karena di dalam duduk beromong tentu lebih lamak atau senang membicarakan perkara-perkara yang memberi faedah kepada kita.
Encik-ecik yang bijaksana!
Sudah tidak kekhilafan lagi bahwa lectuur itu dapat menambah pesat kemajuan bangsa. Karena dari lectuur, selain kami dapat memperbanyak ilmu pengetahuan, juga dapat menerima tuntunan guna mencapai kebahagiaan. Dari pengharapan kami, supaya juara pena yang memang mementingkan kemajuan bangsa, suka memperhatikan kemajuan lectuur di tanah Indonesia. Akan tetapi sayang sekali jikalau kita mengingati, bahaya sekali, karena mengndung hawa racun, lebih-lebih bagi jiwa pemuda-pemuda. Setelah kami mengetahui bahaya ini, wajiblah kita menjaga, jangan sampai lectuur ini tiba di tangan anak-anak kita yang belum dapat memperbedakan benar-benar tentang baik dan jahatnya perbuatan manusia. Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang terpelajar serta pandai mengarang suka menolong bangsanya dengan menyalin buku-buku yang berisi pengetahuan yang tinggi dan peradaban yang mulia.
Congres yang terhormat!
Tidak putus-putus pengharapan kami, buku-buku pelajaran agama, sebagai kitab Uswatun Niswah atau yang mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi atau Kitab yang sepadan atau yang melebihi tentang faedahnya bagi dunia kaum ibu, disalin dalam bahasa kita Indonesia. Menurut riwayat, kitab tersebut dikarangnya dari permintaan Sri Paduka Yang Mulia Permaisuri Raja Bogpal di Britis-Indie, dari bahasa Arab disalin dalam bahasa Hindu.
Sedang kami menanti lectuur perempuan dari negeri Arab dan Eropa disalin dalam bahasa kita, maka kami mengharap supaya saudara-saudara kita yang mengerti bahasa Arab atau Barat suka mempelajari lectuur yang tertulis dengan bahasa yang dipahami benar-benar, kemudian diajarkan dan dipimpinkan kepada mereka yang belum mengetahuinya. Alangkah baiknya jikalau tiap-tiap pergerakan kaum Muslimat sama berikhtiar akan berdirinya Bibliotheek, khusus bagi kalim Muslimat; biarpun dengan susah dan payah, asal kemauan ada tentu akan berhasillah cita-cita kita. Tidak di tahun ini, ya tahun yang akan datang. Kalau kami belum dapat mendirikan, seharusnya cit-cita itu ditanam di dalam dada anak-anak dan pemuda-pemuda kita. Kami teringat, bahwa Conferentie Aisyiyah Daerah Sumatera Timur di Medan, memutuskan supaya supaya Cabang dan Grup mengadakan Bibliotheek dimulai dengan kitab-kitab yang sudah ditulis dalam bahasa Melayu umpamanya: Pahlawan Sitti Aisyah, Perempuan dalam lapangan pergerakan, Kesopanan perempuan Islam, dan lain sebagainya. Mudah-mudahan keputusan ini sudah berjalan. Baik juga usaha menjadi percontohan bagi Cabang dan Grup yang lain. Jikalau kita suka memperhatikan hal ini, tentu akan mengetahui bahwa dengan adanya Bibliotheek biarpun yang sekecil-kecilnya, lekas bertambah-tambah pengetahuan kita tentang igama, tarikh, sosial, politik dan sebagainya. syukur alhamdulilah kami ucapkan karena di dalam Cursus Aisyiyah selain dri pelajaran igama, sudah ada pula yang membacakan pekabaran yang mengenai dunia Islam, dan didengarkan pula karangan pengrusak Islam, agar semangat mempertahankan peraturan Tuhn terus bersemangat. Apabila usaha ini dijalankan di dalam Cursus-cursus atau rapat-rapat Aisyiyah di seluruh Indonesia tentu kita akan terhindar dari pepatah: “Katak di dalam tempurung”.
Maka dari rajin belajar dan memperhatikan pekabaran dunia, akan bertambah luaslah pemandangan kita.
Usaha yang pantas diperhatikan. Di Amerika ada suatu sekolah perempuan yang mempunyai peraturan, supaya murid-murid menggunting pekabaran atau gambar dari surat-kabar surat-kabar, yang dianggap penting oleh mereka masing-masing. Pendapatnya nanti disortir oleh Juri, mana yang terplih dimasukkan dalam album. Alangkah baiknya kalau murid sekolahan kita juga melakukan perkara ini. Inilah menjadi suatu pendidikan, suka membaca dan memperatikan pekabaran.
Encik-encik yang Arifin!
Selain di cursus-cursus maka pelajaran, pendidikan dan pekabaran itu juga ditunggu dimuat dalam Suara Aisyiyah. Mulai pada bulan Mei 1939 Suara Aisyiyah mulai menambah isinya dengan ruangan Nasyiah. Kami senantiasa mengharap bantuan ceritera-ceritera, syair-syaira yang dapat menjadi tuntunan anak-anak kepada taqwa dan berbakti kepada Allah dan sayang kepada orangtuanya, mengerti keindahan alam serta tuntunan memperbuahkan budi perangai yang mulia, begitu juga teka-teki guna pengasah otak, penggeli hati yang mengandung pelajaran yang baik. Mudah-mudahan dengan adanya Taman Nasyiah itu bertambah majulah pergerakan Nasyiah.
USAHA LUARAN
Congres yang mulia!
Pada akhir-akhir ini tersiarlah kabar bahwa Gusti Kanjeng Ratu Tiur permaisuri dari Z.H. Prins Mangkunegoro, sementara kali dalam satu minggu beliau memberi pelajaran kepada murid-murid van Deventerschool Solo dari hal kesusilaan Jawa, beschaving dan lain-lain. Membaca pekabaran ini, timbullah keinginan memohon pula kemurahan hati beliau membantu kepada Aisyiyah.
Encik-encik yang budiman!
Nasib bangsa kita bukan hanya menderita kemiskinan saja, akan tetapi sebagaimana yang terlihat sepanjang jalan, banyaklah dari bangsa kita yang tak sehat otaknya. Berhubung dengan keadaan yang demikian ini, pelajar-pelajar putri Betawi telah mengadakan pasar derma yang dapat perhatin dari publik. Adapun pendapatannya akan digunakan untuk menolong orang-orang perempuan yang gila. Mudah-mudahan berhasillah usah mereka.
KEMAJUAN DI LUAR NEGERI
Iskandariyah.
Beratur-ratus kaum ibu di Iskandariah yang datang dari beberapa tempat, perlu menerima pelajaran gama Islam dari yang mulia Syeikh Ali Arrafsi, tiap-tiap Minggu sekali. Kami percaya apabila roh Keislaman itu terus dihidupkan di dalam dada kaum ibu di Mesir, tak boleh tidak, keadaan yag berlawanan dengan Islam di lingkungan kaum ibu di sana akan lenyap dengan sendirinya.
Irak
Onderwijs kaum perempuan di negeri ini sangat maju dengan lekas sekali dan kemjuan ini disebabkan oleh karena yang memerintah negeri ialah Raja Faisal. Ketika Bagind menaik Kerajaan, maka keadaan onderwijs diperbaiki dan sekolah-sekolah diperluaskan. Selain di negerinya, di luar negeri putri Irak menduduki bangku sekolah di situ dan mereka itu disuruh oleh pemerintahnya.
Kaum ibu di negeri Irak masih tetap saja seperti sediakala, ialh memaki kudung. Hny yang kita sayangkan, perkumpulan ibu di sana hanya sedikit sekali, yang besar hanya “Nadi el Saidat”.
Sekarang kita menoleh ke negeri-negeri: Algeria, Tripoli, Tunis, dan Maroko. Jikalau kita lihat di peta duniaa, maka kita dapat melihat, bahwa negeri-negeri ini letaknya dekat dengan benua Eropa dan oleh karena itu, maka didikan kaum ibu di sana kebanyakan dari Barat.
PENUTUP
Marilah kita kembali lagi kepada keadaan di Indonesia. Banyaklah urusan yang harus kita bereskan.
Maka sebagai penutup pembicaraan kami, di dalam zaman perjuangan ini pantas kami serukan, seruan mana yang senantiasa dikobar-kobarkan di negeri Mesir. “Kemuliaan dan Kerendahan umat itu di tangan kaum ibu”.
Wassaamu’alaikum w.w.
Sumber: Suara Aisjijah, tahun 1939

